Ah. Adib Al Arif
(Ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif NU Kabupaten Pati)
Mathali’ul Falah yang pada mulanya lebih dikenal
dengan sebutan “Sekolah Arab” didirikan pada tahun 1912 oleh dua kakak
beradik, yaitu KH. Abdussalam dan KH. Nawawi. Semula Mathali’ul Falah
bertempat di Lapangan Mbah Salam (Pol Garut) lalu dipindahkan di Kulon Banon.
Pengaruh kharisma dan kealiman dua kyai ini tak pelak membuat Mathali’ul Falah
semakin berkembang pesat, tak hanya di Desa Kajen. Bahkan merambah ke
daerah-daerah lain, termasuk ke Pati Selatan.
Di antara pengaruh Mathali’ul Falah di Pati Selatan adalah berdirinya beberapa lembaga pendidikan sebagai berikut:
- Madrasah Tarbiyatul Banin di Desa Pekalongan Kecamatan Winong
Berdirinya madrasah ini atas dorongan K. Anwar
(Ngemplak Margoyoso) dan K. Munji (Kajen Margoyoso). Saat itu kedua beliau
mengobati (nambani) Mbah Sarkam (mertua Mbah H. Ismail) yang sedang sakit di
Desa Turi Gabus. Setelah itu beliau berdua diajak oleh Mbah H. Ismail untuk
mengunjungi Desa Pekalongan yang masih kosong, belum ada masjid dan madrasah.
Ide ini didukung juga oleh KH. Mahfudh (Kajen).
H. Ismail bin Zainal Abidin adalah pemuda Desa
Pekalongan alumni Kajen dan Makkah. Ismail muda pernah berguru kepada K.
Mahfudh Salam di Desa Kajen Kecamatan Margoyoso, lalu melanjutkan pendidikan ke
Makkah Al Mukarromah selama kurang lebih 7 tahun. Teman sebangkunya di Makkah,
antara lain KH. Wahab Chasbullah yang belakangan ikut mendirikan Nahdlatul
Ulama.
Gagasan untuk mendirikan madrasah diterima oleh Mbah H. Ismail. Pada tahun 1930 berdirilah Far'iyah (Cabang) Mathali'ul Falah Kajen di Desa Pekalongan. Guru-gurunya dari Kajen, antara lain Mbah KH. Mahfudh, K. Munji, K. Khozin dan K. Sanaji. Sedangkan yang ditunjuk sebagai Kepala Guru adalah putra Desa Pekalongan sendiri, yaitu K. Jauhar Umar.
Sarana, prasarana, gedung, tanah, honor guru, bahkan
sampai makan dan penginapan para guru, semua menjadi tanggung jawab Mbah H.
Ismail. Kondisi semacam ini berlangsung bertahun-tahun sampai nantinya madrasah
berubah nama menjadi Tarbiyatul Banin. Sehingga Mbah H. Ismail tinggal
menyediakan jaminan (makanan kecil) untuk para guru pada saat istirahat.
Pada zaman penjajahan Jepang, madrasah harus ditutup
karena berinduk kepada Mathali’ul Falah Kajen yang dipimpin oleh K. Mahfudh
yang pada saat itu menjadi buronan pemerintah penjajahan Jepang karena dianggap
sebagai pemberontak. Berkat perjuangan K. Jauhar, Jepang mengijinkan dibukanya
kembali madrasah, hanya saja namanya harus diganti. Setelah dimusyawarahkan
dengan K. Abu Thoyib dan H. Ihsan, maka disepakatilah nama Tarbiyatul Banin.
Saat ini Madrasah Tarbiyatul Banin mengelola Kelompok Belajar, Raudlatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah serta Pondok Pesantren dan mendidik tak kurang dari 1.500 siswa.
- Madrasah Raudlatusysyubban di Desa Tawangrejo Kecamatan Winong
Berawal dari gagasan KH. Hasan Bisri, saat sebelum
tentara Jepang masuk ke Indonesia (sekitar tahun 1937), beliau bersama H.
Ridlwan dan H. Abdullah mendirikan madrasah pertama kali di Desa Tawangrejo
Kecamatan Winong Kabupaten Pati.
Berdirinya madrasah tersebut bermula setelah mendapatkan
restu dari Kajen, Margoyoso Pati, yakni KH. Mahfudh Salam. Isi restu itu
adalah, agar didirikan sebuah lembaga pendidikan Islam atau madrasah di Desa
Tawangrejo, yang kemudian diberi nama “Madrasah Mathali’ul Falah Cabang Kajen”.
Menurut beberapa kyai dan beberapa tokoh masyarakat
yang mengetahui perannya saat itu, KH. Hasan Bisri adalah perintis sekaligus
pendiri lembaga pendidikan Roudlotusysyubban, bersama KH. Abdullah dan KH.
Ridlwan. Beliau bertiga ini memiliki komitmen yang sangat besar untuk
mewujudkan dan mengembangkan madrasah, sehingga berbagai langkah pun akhirnya
ditempuh untuk merealisasikan cita-cita mulianya.
Tak jauh beda dengan Tarbiyatul Banin, Madrasah
Matholi’ul Falah Cabang Kajen ini juga mengalami hal sama. Sekitar tahun 1942
madrasah yang baru berdiri beberapa tahun ini ditutup oleh pemerintah penjajah
Jepang dan baru dapat dibuka kembali dengan nama Madrasah Roudlotusysyubban
Tawangrejo setelah penjajah Jepang hengkang dari bumi Indonesia.
Saat ini Madrasah Roudlotusysyubban Tawangrejo mengelola Raudlatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah serta Pondok Pesantren dan mendidik tak kurang dari 1.000 siswa.
- Madrasah Mathali’ul Huda Desa Sokopuluhan Kecamatan Pucakwangi
Madrasah Mathali’ul Huda Sokopuluhan Pucakwangi Pati
didirikan oleh K. Ali Muntashir dan K. Ali Musthofa pada tahun 1966 (MI) lalu
berkembang kepada Madrasah Tsanawiyah tahun 1967 dan Madrasah Aliyah tahun
1986.
Berbeda dengan 2 madrasah yang disebutkan terdahulu
yang didirikan oleh Mathali’ul Falah Kajen dan memisahkan diri karena
penjajahan Jepang, Madrasah Mathali’ul Huda Sokopuluhan justru didirikan oleh
para tokoh lokal lalu pada tahun 1987 bergabung kepada Yayasan Nurussalam yang
menaungi Mathali’ul Falah Kajen. Penggabungan ini disepakati oleh para pengurus
dan keluarga pendiri karena mayoritas mereka adalah alumni Matahali’ul Falah
Kajen.
Saat ini Madrasah Mathali’ul Huda Sokopuluhan juga
mengelola Raudlatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah
Aliyah serta Pondok Pesantren dan mendidik tak kurang dari 1.500 siswa.
Tiga madrasah tersebut di atas hanyalah sekelumit dari pengaruh Mathali’ul Falah Kajen di Pati Selatan. Lebih jauh pengaruh Mathali’ul Falah saat ini sudah menjalar ke seluruh Nusantara dan bahkan merambah ke beberapa negara.
Sumber:
Buku KH. Hasan Bisri Pendiri Madrasah
Roudlotusysyubban Tawanrejo, Yayasan Bani Hasan, 2002.
Wawancara dengan K. Abu Thoyib dan KHA. Syahri Ismail.
Wawancara dengan KH. Abdul Aziz (Kepala MA Mathali’ul Huda Pucakwangi).
