KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Rabu, 10 Juni 2020

Pengaruh Mathali’ul Falah Kajen di Pati Selatan


Ah. Adib Al Arif

(Ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif NU Kabupaten Pati)


Mathali’ul Falah yang pada mulanya lebih dikenal dengan sebutan “Sekolah Arab” didirikan pada tahun 1912 oleh dua kakak beradik, yaitu KH. Abdussalam dan KH. Nawawi. Semula Mathali’ul Falah bertempat di Lapangan Mbah Salam (Pol Garut) lalu dipindahkan di Kulon Banon. Pengaruh kharisma dan kealiman dua kyai ini tak pelak membuat Mathali’ul Falah semakin berkembang pesat, tak hanya di Desa Kajen. Bahkan merambah ke daerah-daerah lain, termasuk ke Pati Selatan.

Di antara pengaruh Mathali’ul Falah di Pati Selatan adalah berdirinya beberapa lembaga pendidikan sebagai berikut:

  • Madrasah Tarbiyatul Banin di Desa Pekalongan Kecamatan Winong

Berdirinya madrasah ini atas dorongan K. Anwar (Ngemplak Margoyoso) dan K. Munji (Kajen Margoyoso). Saat itu kedua beliau mengobati (nambani) Mbah Sarkam (mertua Mbah H. Ismail) yang sedang sakit di Desa Turi Gabus. Setelah itu beliau berdua diajak oleh Mbah H. Ismail untuk mengunjungi Desa Pekalongan yang masih kosong, belum ada masjid dan madrasah. Ide ini didukung juga oleh KH. Mahfudh (Kajen).

H. Ismail bin Zainal Abidin adalah pemuda Desa Pekalongan alumni Kajen dan Makkah. Ismail muda pernah berguru kepada K. Mahfudh Salam di Desa Kajen Kecamatan Margoyoso, lalu melanjutkan pendidikan ke Makkah Al Mukarromah selama kurang lebih 7 tahun. Teman sebangkunya di Makkah, antara lain KH. Wahab Chasbullah yang belakangan ikut mendirikan Nahdlatul Ulama.

Gagasan untuk mendirikan madrasah diterima oleh Mbah H. Ismail. Pada tahun 1930 berdirilah Far'iyah (Cabang) Mathali'ul Falah Kajen di Desa Pekalongan. Guru-gurunya dari Kajen, antara lain Mbah KH. Mahfudh, K. Munji, K. Khozin dan K. Sanaji. Sedangkan yang ditunjuk sebagai Kepala Guru adalah putra Desa Pekalongan sendiri, yaitu K. Jauhar Umar.

Sarana, prasarana, gedung, tanah, honor guru, bahkan sampai makan dan penginapan para guru, semua menjadi tanggung jawab Mbah H. Ismail. Kondisi semacam ini berlangsung bertahun-tahun sampai nantinya madrasah berubah nama menjadi Tarbiyatul Banin. Sehingga Mbah H. Ismail tinggal menyediakan jaminan (makanan kecil) untuk para guru pada saat istirahat.

Pada zaman penjajahan Jepang, madrasah harus ditutup karena berinduk kepada Mathali’ul Falah Kajen yang dipimpin oleh K. Mahfudh yang pada saat itu menjadi buronan pemerintah penjajahan Jepang karena dianggap sebagai pemberontak. Berkat perjuangan K. Jauhar, Jepang mengijinkan dibukanya kembali madrasah, hanya saja namanya harus diganti. Setelah dimusyawarahkan dengan K. Abu Thoyib dan H. Ihsan, maka disepakatilah nama Tarbiyatul Banin.

Saat ini Madrasah Tarbiyatul Banin mengelola Kelompok Belajar, Raudlatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah serta Pondok Pesantren dan mendidik tak kurang dari 1.500 siswa.

  • Madrasah Raudlatusysyubban di Desa Tawangrejo Kecamatan Winong

Berawal dari gagasan KH. Hasan Bisri, saat sebelum tentara Jepang masuk ke Indonesia (sekitar tahun 1937), beliau bersama H. Ridlwan dan H. Abdullah mendirikan madrasah pertama kali di Desa Tawangrejo Kecamatan Winong Kabupaten Pati.

Berdirinya madrasah tersebut bermula setelah mendapatkan restu dari Kajen, Margoyoso Pati, yakni KH. Mahfudh Salam. Isi restu itu adalah, agar didirikan sebuah lembaga pendidikan Islam atau madrasah di Desa Tawangrejo, yang kemudian diberi nama “Madrasah Mathali’ul Falah Cabang Kajen”.

Menurut beberapa kyai dan beberapa tokoh masyarakat yang mengetahui perannya saat itu, KH. Hasan Bisri adalah perintis sekaligus pendiri lembaga pendidikan Roudlotusysyubban, bersama KH. Abdullah dan KH. Ridlwan. Beliau bertiga ini memiliki komitmen yang sangat besar untuk mewujudkan dan mengembangkan madrasah, sehingga berbagai langkah pun akhirnya ditempuh untuk merealisasikan cita-cita mulianya. 

Tak jauh beda dengan Tarbiyatul Banin, Madrasah Matholi’ul Falah Cabang Kajen ini juga mengalami hal sama. Sekitar tahun 1942 madrasah yang baru berdiri beberapa tahun ini ditutup oleh pemerintah penjajah Jepang dan baru dapat dibuka kembali dengan nama Madrasah Roudlotusysyubban Tawangrejo setelah penjajah Jepang hengkang dari bumi Indonesia.

Saat ini Madrasah Roudlotusysyubban Tawangrejo mengelola Raudlatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah serta Pondok Pesantren dan mendidik tak kurang dari 1.000 siswa.

  • Madrasah Mathali’ul Huda Desa Sokopuluhan Kecamatan Pucakwangi

Madrasah Mathali’ul Huda Sokopuluhan Pucakwangi Pati didirikan oleh K. Ali Muntashir dan K. Ali Musthofa pada tahun 1966 (MI) lalu berkembang kepada Madrasah Tsanawiyah tahun 1967 dan Madrasah Aliyah tahun 1986.

Berbeda dengan 2 madrasah yang disebutkan terdahulu yang didirikan oleh Mathali’ul Falah Kajen dan memisahkan diri karena penjajahan Jepang, Madrasah Mathali’ul Huda Sokopuluhan justru didirikan oleh para tokoh lokal lalu pada tahun 1987 bergabung kepada Yayasan Nurussalam yang menaungi Mathali’ul Falah Kajen. Penggabungan ini disepakati oleh para pengurus dan keluarga pendiri karena mayoritas mereka adalah alumni Matahali’ul Falah Kajen.

Saat ini Madrasah Mathali’ul Huda Sokopuluhan juga mengelola Raudlatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah serta Pondok Pesantren dan mendidik tak kurang dari 1.500 siswa.

Tiga madrasah tersebut di atas hanyalah sekelumit dari pengaruh Mathali’ul Falah Kajen di Pati Selatan. Lebih jauh pengaruh Mathali’ul Falah saat ini sudah menjalar ke seluruh Nusantara dan bahkan merambah ke beberapa negara.

 

Sumber:

Buku KH. Hasan Bisri Pendiri Madrasah Roudlotusysyubban Tawanrejo, Yayasan Bani Hasan, 2002.

Wawancara dengan K. Abu Thoyib dan KHA. Syahri Ismail.

Wawancara dengan KH. Abdul Aziz (Kepala MA Mathali’ul Huda Pucakwangi).

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman