Ahmad
Thoha
(Pemerhati
Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Meski
buah Jambu tidak disebut Al Qur’an sebagai buah yang kelak menjadi hidangan
penghuni syurga sebagaimana buah Tin, Zaitun, Kurma atau Anggur, namun jika
penghuni syurga memintanya pasti seketika itu pula langsung ada. Tidak
percaya?!
Buah
jambu termasuk jenis buah yang disukai banyak orang. Karena rasanya yang manis,
kandungan gizinya yang tinggi, atau karena murah dan mudah mendapatkannya. Kategorisasi
untuk sekedar memudahkan, buah jambu dikelompokkan menjadi dua jenis: jambu air
dan jambu biji. Jambu air menunjuk pada buah jambu yang persentase kandungan airnya
lebih banyak dibanding kandungan air pada jambu biji. Sebaliknya jambu biji
menunjuk kandungan biji yang umumnya lebih banyak dibanding biji pada jambu
air. Meski, ada juga jambu biji yang tidak berbiji.
Nama
atau varian jambu air cukup banyak, diantaranya : jambu anyer mawar, jambu
salo, jambu waelo, jambu jamaika, jambu dersana, jambu wer, jambu wir, jambu demak, dan jambu bol. Begitu
juga nama atau varian jambu biji banyak ragam seperti: jambu bangkok, jambu australia,
jambu brazil, jambu susu, jambu kristal, jambu sukun, jambu kerikil, jambu batu,
dan yang cukup familiar dalam masyarakat ‘ndeso’ disebut jambu kluthuk.
Penamaan
jambu-jambu tersebut ternyata sangat mudah dirunut asal-usulnya. Misalnya,
disebut jambu anyer mawar karena ada bagian buah yang menyerupai kelompak bunga
mawar; dinamakan jambu jamaika karena asal penyebarannya dari negara Jamaika di
benua Amirika; disebut jambu demak karena asalnya dari Kabupaten Demak. Kalau
dinamakan jambu bol?
Dinamakan
jambu bangkok karena hasil rekayasa genetik pakar pertanian negeri Gajah;
disebut jambu kerikil karena bijinya sebesar kerikil; dinamakan jambu batu
karena bijinya sekeras batu; dan dinamakan jambu kluthuk sebab waktu dimakan
terdengar bunyi klethuk... klethuk.
O, ternyata tidak hanya orang Jawa yang mengenal ilmu othak-athik gathuk
(otak-atik jadi cocok) ya?
Syahdan
ketika para pencari daun jati dan kayu bakar di hutan berkali-kali melihat sekumpulan
monyet bergelantungan di pohon sambil makan buah berbentuk mirip gasing
terbalik dengan biji di bagian ʖbawah ‘badan’ buah menyerupai apostrof (tanda
tanya) yang juga terbalik ( ¿), buah tersebut kemudian
dinamai Jambu Monyet. Karena ternyata yang lebih mahal harganya terdapat pada
bijinya, jambu ini juga dinamai jambu mete atau jambu mente.
Menggunakan
ilmu othak-athik-gathuk penamaan ini lebih elegan menggunakan pendekatan
asosiatif ketimbang korelatif. Pendekatan asosiatif berada di ranah persepsi
orang-orang yang pertama kali melihat peritiwa monyet makan buah yang kemudian
dinamai Jambu Monyet. Sedangkan menggunakan pendekatan korelatif dapat
menimbulkan imajinasi negatif. Siapa juga penyuka jambu monyet yang mau
dikorelasikan berkarakter menyerupai nama buahnya?
Diasosiasikan
dengan gasing, posisi jambu monyet yang bergelantungan di dahan, dipersepsikan terbalik. Dengan asosiasi ini pula masyarakat Jawa menggunakannya
sebagai nasihat bernada intimidasi. Terhadap anak yang durhaka kepada orangtua digiren-gireni
(diintimidasi) bisa kualat
seperti jambu mete. Imajinatifnya, anak durhaka kelak di akhirat posisi
tubuhnya terbalik. Ketika berdiri atau berjalan posisi kepala berada di bawah
sedang kakinya menjuntai ke atas.
Metafora
negatif ini juga bisa distereotipkan bagi mereka yang bermindset terbalik.
Ketika ada orang berpola pikir tidak sejalan dengan logika maupun etika umum
yang berlaku di suatu masyarakat, kemudian dikatakan pola pikirnya kuwalik (terbalik), seperti jambu
monyet.
Misalkan
si Dadap dimintai tolong membantu paman Dudup mengecat rumahnya. Menjelang
rampung si Didip datang dan paman Dudup pun memintanya ikut menyelesaikan
pekerjaan. Setelah keseluruhan pekerjaan selesai, kedua keponakan terebut
masing-masing diberi uang jajan 10.000 rp. Mengetahui hal ini, si Dadap ngomel dalam hati: wah kenak-en Didip, leh
ngewangi mung sedelok entuke sangu pada. (wah keenakan Didip, membantu Cuma sementar dapatnya uang jajan sama) Si
Dadap menyimpulkan paman Dudup berlaku pilih kasih karena memberikan imbalan
yang sama atas beban kerja yang berbeda. Dadap berpikir, si Didip lebih buntung
sementara dirinya buntung.
Keterbalikan
mindset Dadap terletak pada rasa susahnya ketika orang lain senang.
Makin senang orang lain, makin bertambah susahlah dirinya. Ya terang menderitalah,
lha wong orang lain
senang kok malah dirinya susah.
Orang lain bahagia kok dirinya
menderita. Coba kalau orang lain senang, terus ikut senang, ‘kan tidak susah.
Salahsatu cara bahagia sangat yang mudah, ikut berbahagialah ketika orang lain
bahagia. Jangan sebaliknya!
Demikianlah
ujung-pangkalnya ketika susah-senang, derita-bahagia diukur dari materi.
Penderitaan Dadap tidak akan terjadi apabila ia tidak mempersoalkan perbedaan
jumlah uang yang diterimanya dan yang diterima Didip. Bahkan Dadap bisa ‘lebih’
bahagia apabila ihlas menerima apa adanya; mau bersyukur karena mendapat uang
jajan; bersyukur karena dapat membantu paman Dudup; dan bersyukur menyaksikan Didip
bahagia bersamanya.
Andai
Dadap membaca tulisan ini mungkin ia berkomentar: “Justru di situ
permasalahannya. Kalau sudah bisa ihlas dan syukur, kesusahan dan penderitaan mah
jauuuh. Ihlas dan syukur itu mudah diteorikan tapi sulit dipraktikkan brow”.
Komentar Dadap yang demikian itu justru menyebabkan kesusahan dan
penderitaannya sulit move on. Sulit bukan berarti tidak bisa. Bahkan,
bersama kesulitan pasti ada kemudahan.
Mindset
‘susah melihat orang lain senang’ bersaudara kembar dengan ‘senang melihat
orang lain susah’. Jika orang lain menderita semenderita dirinya ia senang, ada
orang lain yang sama-sama menderita. Minimal, derita yang dirasakan sedikit
lebih ringan dibanding jika tidak ada orang lain yang menderita seperti
dirinya. Dia menjadi lebih senang lagi ketika dirinya senang sedangkan orang
lain menderita. Makin menderita orang lain, makin senanglah dirinya. Mindset
seperti ini sulit – untuk tidak mengatakan tidak bisa – berubah menjadi ‘susah
melihat orang lain susah’ atau ‘senang melihat orang lain senang’.
Benar juga mindset demikian dimetaforakan jambu mete, kuwalik. Lha wong ada orang susah kok malah senang. Kalau tetangga, teman, atau saudaranya senang, malah susah. Wallahu a’lam.
