KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Senin, 29 Juni 2020

Jambu Monyet

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

 

Meski buah Jambu tidak disebut Al Qur’an sebagai buah yang kelak menjadi hidangan penghuni syurga sebagaimana buah Tin, Zaitun, Kurma atau Anggur, namun jika penghuni syurga memintanya pasti seketika itu pula langsung ada. Tidak percaya?!

Buah jambu termasuk jenis buah yang disukai banyak orang. Karena rasanya yang manis, kandungan gizinya yang tinggi, atau karena murah dan mudah mendapatkannya. Kategorisasi untuk sekedar memudahkan, buah jambu dikelompokkan menjadi dua jenis: jambu air dan jambu biji. Jambu air menunjuk pada buah jambu yang persentase kandungan airnya lebih banyak dibanding kandungan air pada jambu biji. Sebaliknya jambu biji menunjuk kandungan biji yang umumnya lebih banyak dibanding biji pada jambu air. Meski, ada juga jambu biji yang tidak berbiji.

Nama atau varian jambu air cukup banyak, diantaranya : jambu anyer mawar, jambu salo, jambu waelo, jambu jamaika, jambu dersana, jambu wer,  jambu wir, jambu demak, dan jambu bol. Begitu juga nama atau varian jambu biji banyak ragam seperti: jambu bangkok, jambu australia, jambu brazil, jambu susu, jambu kristal, jambu sukun, jambu kerikil, jambu batu, dan yang cukup familiar dalam masyarakat ‘ndeso’ disebut jambu kluthuk.

Penamaan jambu-jambu tersebut ternyata sangat mudah dirunut asal-usulnya. Misalnya, disebut jambu anyer mawar karena ada bagian buah yang menyerupai kelompak bunga mawar; dinamakan jambu jamaika karena asal penyebarannya dari negara Jamaika di benua Amirika; disebut jambu demak karena asalnya dari Kabupaten Demak. Kalau dinamakan jambu bol?

Dinamakan jambu bangkok karena hasil rekayasa genetik pakar pertanian negeri Gajah; disebut jambu kerikil karena bijinya sebesar kerikil; dinamakan jambu batu karena bijinya sekeras batu; dan dinamakan jambu kluthuk sebab waktu dimakan terdengar bunyi klethuk... klethuk. O, ternyata tidak hanya orang Jawa yang mengenal ilmu othak-athik gathuk (otak-atik jadi cocok) ya?

Syahdan ketika para pencari daun jati dan kayu bakar di hutan berkali-kali melihat sekumpulan monyet bergelantungan di pohon sambil makan buah berbentuk mirip gasing terbalik dengan biji di bagian ʖbawah ‘badan’ buah menyerupai apostrof (tanda tanya) yang juga terbalik ( ¿), buah tersebut kemudian dinamai Jambu Monyet. Karena ternyata yang lebih mahal harganya terdapat pada bijinya, jambu ini juga dinamai jambu mete atau jambu mente.

Menggunakan ilmu othak-athik-gathuk penamaan ini lebih elegan menggunakan pendekatan asosiatif ketimbang korelatif. Pendekatan asosiatif berada di ranah persepsi orang-orang yang pertama kali melihat peritiwa monyet makan buah yang kemudian dinamai Jambu Monyet. Sedangkan menggunakan pendekatan korelatif dapat menimbulkan imajinasi negatif. Siapa juga penyuka jambu monyet yang mau dikorelasikan berkarakter menyerupai nama buahnya?

Diasosiasikan dengan gasing, posisi jambu monyet yang bergelantungan di dahan, dipersepsikan terbalik. Dengan asosiasi ini pula masyarakat Jawa menggunakannya sebagai nasihat bernada intimidasi. Terhadap anak yang durhaka kepada orangtua digiren-gireni (diintimidasi) bisa kualat seperti jambu mete. Imajinatifnya, anak durhaka kelak di akhirat posisi tubuhnya terbalik. Ketika berdiri atau berjalan posisi kepala berada di bawah sedang kakinya menjuntai ke atas.

Metafora negatif ini juga bisa distereotipkan bagi mereka yang bermindset terbalik. Ketika ada orang berpola pikir tidak sejalan dengan logika maupun etika umum yang berlaku di suatu masyarakat, kemudian dikatakan pola pikirnya kuwalik (terbalik), seperti jambu monyet.

Misalkan si Dadap dimintai tolong membantu paman Dudup mengecat rumahnya. Menjelang rampung si Didip datang dan paman Dudup pun memintanya ikut menyelesaikan pekerjaan. Setelah keseluruhan pekerjaan selesai, kedua keponakan terebut masing-masing diberi uang jajan 10.000 rp. Mengetahui hal ini, si Dadap  ngomel dalam hati: wah kenak-en Didip, leh ngewangi mung sedelok entuke sangu pada. (wah keenakan Didip, membantu Cuma sementar dapatnya uang jajan sama) Si Dadap menyimpulkan paman Dudup berlaku pilih kasih karena memberikan imbalan yang sama atas beban kerja yang berbeda. Dadap berpikir, si Didip lebih buntung sementara dirinya buntung.

Keterbalikan mindset Dadap terletak pada rasa susahnya ketika orang lain senang. Makin senang orang lain, makin bertambah susahlah dirinya. Ya terang menderitalah, lha wong orang lain senang kok malah dirinya susah. Orang lain bahagia kok dirinya menderita. Coba kalau orang lain senang, terus ikut senang, ‘kan tidak susah. Salahsatu cara bahagia sangat yang mudah, ikut berbahagialah ketika orang lain bahagia. Jangan sebaliknya!

Demikianlah ujung-pangkalnya ketika susah-senang, derita-bahagia diukur dari materi. Penderitaan Dadap tidak akan terjadi apabila ia tidak mempersoalkan perbedaan jumlah uang yang diterimanya dan yang diterima Didip. Bahkan Dadap bisa ‘lebih’ bahagia apabila ihlas menerima apa adanya; mau bersyukur karena mendapat uang jajan; bersyukur karena dapat membantu paman Dudup; dan bersyukur menyaksikan Didip bahagia bersamanya.

Andai Dadap membaca tulisan ini mungkin ia berkomentar: “Justru di situ permasalahannya. Kalau sudah bisa ihlas dan syukur, kesusahan dan penderitaan mah jauuuh. Ihlas dan syukur itu mudah diteorikan tapi sulit dipraktikkan brow”. Komentar Dadap yang demikian itu justru menyebabkan kesusahan dan penderitaannya sulit move on. Sulit bukan berarti tidak bisa. Bahkan, bersama kesulitan pasti ada kemudahan.

Mindset ‘susah melihat orang lain senang’ bersaudara kembar dengan ‘senang melihat orang lain susah’. Jika orang lain menderita semenderita dirinya ia senang, ada orang lain yang sama-sama menderita. Minimal, derita yang dirasakan sedikit lebih ringan dibanding jika tidak ada orang lain yang menderita seperti dirinya. Dia menjadi lebih senang lagi ketika dirinya senang sedangkan orang lain menderita. Makin menderita orang lain, makin senanglah dirinya. Mindset seperti ini sulit – untuk tidak mengatakan tidak bisa – berubah menjadi ‘susah melihat orang lain susah’ atau ‘senang melihat orang lain senang’.

Benar juga mindset demikian dimetaforakan jambu mete, kuwalik. Lha wong ada orang susah kok malah senang. Kalau tetangga, teman, atau saudaranya senang, malah susah. Wallahu alam.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman