KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Rabu, 27 Mei 2020

PERSEKUSI YANG TIDAK JADI

PERSEKUSI YANG TIDAK JADI

(Bagian Kedua Satu Cerita)

 Oleh Fariqah

 Pagi munjukkan pukul 08.00. Anak-anak mulai berdatangan di mushala membawa peralatan yang diperlukan. Kimat membawa gergaji, martil dan parang. Kimut membawa beberapa kentongan berikut stik pemukulnya. Kimas membawa bebera gulung kertas hias, sedangkan Kimus membawa gunting, pemes, lem dan beberapa peralatan lainnya.

Kimin yang datang kemudian, langsung duduk di teras mushala sambil menoleh kesana kemari mengamati keadaan sambil bergumam, “Kiman kok belum kelihatan, datang apa tidak ya”. Tak berselang lama Kiman pun datang dan langsung duduk di sebelah Kimin.

“Bagaimana ta Man, sudah tak tunggu sejak tadi kok baru kelihatan.”

“Sori Min, aku mengangtar istri ke pasar dulu. Itu tu... belanja kue untuk lebaran besuk pagi.” jawab Kiman untuk mendapatkan permakluman.

Kiman masih terngiang ‘perdebatan’ tadi malam. Sepertinya tak sabar ingin menuntaskan persoalan sekalian dapat dukungan terhadap tindakan yang akan diambil.

“Min, bagaimana kalau orang-orang yang tidak puasa itu saya larang ikut merayakan Idul Fitri.” Kiman memulai ‘debat’ babak kedua.

Kimin duduk dengan santainya seolah tidak begitu perhatian terhadap apa yang ditanyakan Kiman.

“Terserah kamu saja. Tapi, pikir dulu sebelum bertindak. Memang Kamu pencipta Hari Raya apa?! Memangnya, Idul Fitri itu milikmu sendiri, gitu!? Apa pula alasanmu mau melarang mereka? Tutur Kimin bernada peringatan agar Kiman urung melakukan apa yang dipikirkan.

 “Idul Fitri itu kan Hari Raya bagi kaum muslimin yang menjalankan kewajiban ibadah puasa. La, Kimar dan teman-temannya tidak puasa, logikanya,” demikian Kiman berusaha meyakinkan Kimin, “mereka ya tidak merayakan Idul Fitri, wong mereka pada tidak puasa kok.”

“Kamu kok melarang mereka ikut berhari raya, memang Allah atau Rasulullah pernah melarang mereka merayakan Idul Fitri?” sanggah Kimin.

“Sepengetahuanku, Allah maupun Rasul-Nya tidak pernah melarang orang-orang semacam itu ikut berhari raya.” Pengakuan Kiman bernada melemah.

Sementara itu anak-anak sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Anak-anak tahu takbiran ramadlan ini tidak dijinkan keliling kampung, namun mereka tetap bersemangat mempersiapkan segala sesuatunya. Walaupun takbiran hanya diperbolehkan di area sekitar mushala, aksesoris takbiran tetap diseting layaknya takbir keliling.

Kimat memotong bambu, membelahnya menjadi bilah-bilah kecil lalu menghaluskan sebelum dirangkai jadi rangka lampion. Kimas dibantu Kimus menggunting kertas hias untuk dibuat mahkota bagi anak-anak putri. Kimal dan Kimul merancang lampu hias yang akan dipasang dalam lampion dan di sekitar arena takbiran. Perkakas dan peralatan tampak berserakan di halaman mushala. Sesekali terdengar tanya jawab antar mereka menandakan semangat, kerja sama dan kekompakan menyambut Idul Fitri.

“Mbah Kimin......” terdengar suara Kimat beramplitudo sedang, bertanya kepada sesepuh warga itu, “Lampionipun didamel pinten Mbah?” lanjut Kimat.

“Rolas, Mat,” jawab Kimin. “Nem dibentuk segi empat, nem dibentuk segi tiga.” jelas Kimin.

Kimat pun mengikuti arahan dan menyelesaikan hingga jadi. Mendengar Kimat bertanya, Kimas merasa dapat kesempatan.

“Mahkotanipun didamel pinten, Mbah?”

“Mahkotane digawe sejumlah bocah-bocah putri sing melu takbiran.”

Kimas sambil komat kamit menekuk jemari kedua tangannya, menghitung nama-nama teman putri yang ikut takbiran. Sesaat kemudian “Berarti kudu gawe mahkota rolikur iji” gumamnya dalam hati.

Kimin masih duduk di teras mushala sambil mengawasi anak-anak yang asyik berkegiatan. Mata Kiman menerawang. Sesekali berkedip menandakan kegalauan. Selagi Kiman mengernyitkan kening mencari  dalih untuk menyanggah argumen yang baru didengar, keburu Kimin melanjutkan serangan lebih menohok.

“Kalau Allah maupun Rasul-Nya saja tidak melarang mereka merayakan Idul Fitri, la kamu kok mau melarang mereka. Kamu kok lebih galak dari Allah dan Rasul-Nya sih, memang Kamu itu siapa Man... Man.”

“Bukan begitu cara berpikirnya, Min.” sergah Kiman coba mempertahankan argumennya.

“Itu lo, wong mereka tidak merasakan bagaimana beratnya menahan lapar dan haus seharian sebulan penuh, begitu Idul Fitri tiba, pada ikut bersenang-senang, bergembira ria, bersukacita berhari raya. Enak saja!

Kekesalan Kiman mulai memuncak, nada biacaranya meninggi, keningnya terasa pekat. Pikirannya campur aduk akibat kekalahan berargumen. Duduknya sesekali berubah menandakan kegelisahan yang tak tersembunyikan.

“Bagaimana ta Man.... Man. Kamu mbok jangan terbalik seperti jambu monyet begitu. La wong ada orang senang kamu malah susah, orang-orang pada gembira kamu malah marah-marah, mereka bersuka cita kamu malah berduka cita.”

Mendengar kata-kata Kimin terakhir, raut muka Kiman memerah, degup jantungnya berdetak makin kencang, gigi gerahamnya sesekali berkerut menandakan amarahnya serasa tak terbendung lagi. Harga dirinya serasa dibuang ke comberan.

Di tengah ketegangan yang menyelimuti kepala kedua sesepuh itu, terdengar suara Kimat. “Alhamdulillah, mpon rampung sedaya Mbah.” Seru Kimat melaporkan hasil kerja bersama teman-temannya kepada Kimin.

“Sak durunge pada bali, tatanen kabeh peralatan nang lor mushala.  Takbirane mengko dilaksanakna sakwise ana pengumuman saka Pemerintah. Yen Pemerintah ngumumke riyaya dina sesuk, mengko bengi bar mahrib langsung takbiran. Nanging yen riyaya ditentokne dina Ahad, takbirane sesuk bengi.” Demikian serangkaian penegasan sebagai panduan takbiran Idul Fitri kali ini, yang dijawab serempak oleh anak-anak, “Siap, Mbah Kimiiiin....”

Anak-anak beranjak pulang ke rumah masing-masing. Rasa lapar dan lelah setelah suntuk membuat beragam aksesoris takbiran tertutupi oleh sumpringahnya wajah-wajah mereka. Terbayang betapa gembira dan meriahnya takbiran yang tidak berwaktu lama lagi.

Kimin dan Kiman pun beranjak dari tempat duduknya. Berbeda dengan Kimin, langkah-langkah Kiman terlihat gontai. Wajahnya kecut karena kalah berdebat. Pikirannya kalut, hatinya dongkol. Tidak hanya kalah debat, keinginan melarang Kimar dan teman-temannya gagal total karena tidak memiliki legitimasi rasional sama sekali.

Akhirnya Pemerintah mengumumkan Idul Fitri jatuh esuk pagi. Kimat buru-buru menyelesaikan berbuka, langsung bergegas menuju mushala. Teman-temannya ternyata sudah berkumpul lebih dulu lengkap dengan asessori dan perlengkapan lainnya. Takbir pun bergema dari horn mushala Al-Huda, sahut menyaut dengan suara takbir mushala lain.

Anak-anak di bawah bimbingan para sesepuh penuh semangat dan khidmad mengumandangkan kalimah thayyibah menyemarakkan malam Idul Fitri.

 

Penulis adalah guru Mapel Bahasa Indonesia MTs N 1 Pati.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman