PERSEKUSI YANG TIDAK JADI
(Bagian Kedua Satu Cerita)
Pagi munjukkan
pukul 08.00. Anak-anak mulai berdatangan di mushala membawa peralatan yang
diperlukan. Kimat membawa gergaji, martil dan parang. Kimut membawa beberapa
kentongan berikut stik pemukulnya. Kimas membawa bebera gulung kertas hias, sedangkan
Kimus membawa gunting, pemes, lem dan beberapa peralatan lainnya.
Kimin yang datang kemudian, langsung duduk di teras mushala
sambil menoleh kesana kemari mengamati keadaan sambil bergumam, “Kiman kok
belum kelihatan, datang apa tidak ya”. Tak berselang lama Kiman pun datang dan
langsung duduk di sebelah Kimin.
“Bagaimana ta Man, sudah tak tunggu sejak tadi kok baru
kelihatan.”
“Sori Min, aku mengangtar istri ke pasar dulu. Itu tu...
belanja kue untuk lebaran besuk pagi.” jawab Kiman untuk mendapatkan
permakluman.
Kiman masih terngiang ‘perdebatan’ tadi malam. Sepertinya
tak sabar ingin menuntaskan persoalan sekalian dapat dukungan terhadap tindakan
yang akan diambil.
“Min, bagaimana kalau orang-orang yang tidak puasa itu
saya larang ikut merayakan Idul Fitri.” Kiman memulai ‘debat’ babak kedua.
Kimin duduk dengan santainya seolah tidak begitu
perhatian terhadap apa yang ditanyakan Kiman.
“Terserah kamu saja. Tapi, pikir dulu sebelum bertindak.
Memang Kamu pencipta Hari Raya apa?! Memangnya, Idul Fitri itu milikmu sendiri,
gitu!? Apa pula alasanmu mau melarang mereka? Tutur Kimin bernada peringatan
agar Kiman urung melakukan apa yang dipikirkan.
“Idul Fitri itu
kan Hari Raya bagi kaum muslimin yang menjalankan kewajiban ibadah puasa. La, Kimar
dan teman-temannya tidak puasa, logikanya,” demikian Kiman berusaha meyakinkan
Kimin, “mereka ya tidak merayakan Idul Fitri, wong mereka pada tidak puasa
kok.”
“Kamu kok melarang mereka ikut berhari raya, memang Allah
atau Rasulullah pernah melarang mereka merayakan Idul Fitri?” sanggah Kimin.
“Sepengetahuanku, Allah maupun Rasul-Nya tidak pernah melarang
orang-orang semacam itu ikut berhari raya.” Pengakuan Kiman bernada melemah.
Sementara itu anak-anak sibuk dengan pekerjaan
masing-masing. Anak-anak tahu takbiran ramadlan ini tidak dijinkan keliling
kampung, namun mereka tetap bersemangat mempersiapkan segala sesuatunya.
Walaupun takbiran hanya diperbolehkan di area sekitar mushala, aksesoris takbiran
tetap diseting layaknya takbir keliling.
Kimat memotong bambu, membelahnya menjadi bilah-bilah
kecil lalu menghaluskan sebelum dirangkai jadi rangka lampion. Kimas dibantu
Kimus menggunting kertas hias untuk dibuat mahkota bagi anak-anak putri. Kimal
dan Kimul merancang lampu hias yang akan dipasang dalam lampion dan di sekitar
arena takbiran. Perkakas dan peralatan tampak berserakan di halaman mushala.
Sesekali terdengar tanya jawab antar mereka menandakan semangat, kerja sama dan
kekompakan menyambut Idul Fitri.
“Mbah Kimin......” terdengar suara Kimat beramplitudo
sedang, bertanya kepada sesepuh warga itu, “Lampionipun didamel pinten Mbah?”
lanjut Kimat.
“Rolas, Mat,” jawab Kimin. “Nem dibentuk segi empat, nem dibentuk
segi tiga.” jelas Kimin.
Kimat pun mengikuti arahan dan menyelesaikan hingga jadi.
Mendengar Kimat bertanya, Kimas merasa dapat kesempatan.
“Mahkotanipun didamel pinten, Mbah?”
“Mahkotane digawe sejumlah bocah-bocah putri sing melu takbiran.”
Kimas sambil komat kamit menekuk jemari kedua tangannya, menghitung
nama-nama teman putri yang ikut takbiran. Sesaat kemudian “Berarti kudu gawe
mahkota rolikur iji” gumamnya dalam hati.
Kimin masih duduk di teras mushala sambil mengawasi
anak-anak yang asyik berkegiatan. Mata Kiman menerawang. Sesekali berkedip
menandakan kegalauan. Selagi Kiman mengernyitkan kening mencari dalih untuk menyanggah argumen yang baru
didengar, keburu Kimin melanjutkan serangan lebih menohok.
“Kalau Allah maupun Rasul-Nya saja tidak melarang mereka
merayakan Idul Fitri, la kamu kok mau melarang mereka. Kamu kok lebih galak
dari Allah dan Rasul-Nya sih, memang Kamu itu siapa Man... Man.”
“Bukan begitu cara
berpikirnya, Min.” sergah Kiman coba mempertahankan argumennya.
“Itu lo, wong mereka tidak merasakan bagaimana beratnya
menahan lapar dan haus seharian sebulan penuh, begitu Idul Fitri tiba, pada
ikut bersenang-senang, bergembira ria, bersukacita berhari raya. Enak saja!
Kekesalan Kiman mulai memuncak, nada biacaranya meninggi,
keningnya terasa pekat. Pikirannya campur aduk akibat kekalahan berargumen. Duduknya
sesekali berubah menandakan kegelisahan yang tak tersembunyikan.
“Bagaimana ta Man.... Man. Kamu mbok jangan terbalik
seperti jambu monyet begitu. La wong ada orang senang kamu malah susah,
orang-orang pada gembira kamu malah marah-marah, mereka bersuka cita kamu malah
berduka cita.”
Mendengar kata-kata Kimin terakhir, raut muka Kiman
memerah, degup jantungnya berdetak makin kencang, gigi gerahamnya sesekali
berkerut menandakan amarahnya serasa tak terbendung lagi. Harga dirinya serasa
dibuang ke comberan.
Di tengah ketegangan yang menyelimuti kepala kedua
sesepuh itu, terdengar suara Kimat. “Alhamdulillah, mpon rampung sedaya
Mbah.” Seru Kimat melaporkan hasil kerja bersama teman-temannya kepada Kimin.
“Sak durunge pada bali, tatanen kabeh peralatan nang lor
mushala. Takbirane mengko dilaksanakna
sakwise ana pengumuman saka Pemerintah. Yen Pemerintah ngumumke riyaya dina
sesuk, mengko bengi bar mahrib langsung takbiran. Nanging yen riyaya ditentokne
dina Ahad, takbirane sesuk bengi.” Demikian serangkaian penegasan sebagai
panduan takbiran Idul Fitri kali ini, yang dijawab serempak oleh anak-anak,
“Siap, Mbah Kimiiiin....”
Anak-anak beranjak pulang ke rumah masing-masing. Rasa
lapar dan lelah setelah suntuk membuat beragam aksesoris takbiran tertutupi
oleh sumpringahnya wajah-wajah mereka. Terbayang betapa gembira dan
meriahnya takbiran yang tidak berwaktu lama lagi.
Kimin dan Kiman pun beranjak dari tempat duduknya.
Berbeda dengan Kimin, langkah-langkah Kiman terlihat gontai. Wajahnya kecut
karena kalah berdebat. Pikirannya kalut, hatinya dongkol. Tidak hanya kalah
debat, keinginan melarang Kimar dan teman-temannya gagal total karena tidak
memiliki legitimasi rasional sama sekali.
Akhirnya Pemerintah mengumumkan Idul Fitri jatuh esuk
pagi. Kimat buru-buru menyelesaikan berbuka, langsung bergegas menuju mushala.
Teman-temannya ternyata sudah berkumpul lebih dulu lengkap dengan asessori dan
perlengkapan lainnya. Takbir pun bergema dari horn mushala Al-Huda, sahut
menyaut dengan suara takbir mushala lain.
Anak-anak di bawah bimbingan para sesepuh penuh semangat
dan khidmad mengumandangkan kalimah thayyibah menyemarakkan malam Idul Fitri.
Penulis adalah guru Mapel Bahasa Indonesia MTs N 1 Pati.
