Penyembuhan Penderita Gangguan Jiwa dengan Pendekatan Agama
Oleh Dr. H. Munjahid, M.Ag.
(Dekan Fakultas Tarbiyah IIQ An-Nur
Yogyakarta)
Pendahuluan
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dapat
menimbulkan dua dampak, yaitu positif dan negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah munculnya berbagai penyakit
gangguan jiwa bagi sebagian orang yang tidak mampu menghadapi problematika
hidupnya. Misalnya, karena himpitan ekonomi, kegagalan memperoleh kursi di
DPR atau DPRD bagi calon legislatif, kecanduan narkoba, broken home,
terkena bencana alam, menderita penyakit komplikasi, pengangguran, dan
kemasukan setan/jin.
Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) RSJ. Grhasia Yogyakarta, menunjukkan bahwa prevalensi
gangguan jiwa berat terbanyak adalah DI Yogyakarta dan Aceh yaitu 2,7 per mil. Sedangkan yang terendah adalah Kalimantan Barat (0,7%). Rata-rata prevalensi
gangguan jiwa berat pada penduduk Indonesia adalah 1,7 per mil. Sedangkan jumlah
Rumah Sakit Jiwa di Indonesia hanya ada 48 dengan kapasitas 7.700 tempat tidur
penderita sakit jiwa. Kenyataan ini masih jauh dari standar normal yang
ditetapkan oleh WHO (World Health Organezation) yaitu 80.000 tempat tidur penderita sakit
jiwa. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hanya ada 2
Rumah Sakit Jiwa (RSJ) yaitu di kabupaten Sleman dan kota Yogyakarta. Sedangkan
di Kabupaten Kulon Progo belum ada (Riskesdas
RSJ. Grhasia Sleman Yogyakarta
dan Dinas Kesehatan DIY: 2013).
Karena terbatasnya Rumah Sakit Jiwa
(RSJ), banyak penderita ganggguan jiwa yang belum mendapatkan pelayanan
secara memadai. Ada sebanyak 25.000 orang pengidap gangguan jiwa di Indonesia mengalami
pemasungan atau pengisolasian oleh keluarganya sendiri. Sedangkan 10 persen
penderita skizofrenia (penderita gangguan jiwa berat) berakhir dengan
bunuh diri. Kasus
ini sebagaimana yang pernah terjadi di Pekalongan Jawa Tengah pada bulan
Februari tahun 2014 terdapat empat orang dalam satu keluarga karena gagal usaha bisnisnya melakukan bunuh diri massal dalam waktu yang
bersamaan di Pekalongan Jawa Tengah dan Cirebon Jawa Barat (TV One, Kabar Malam, 27
Februari 2014). Pada tanggal 4 April 2015 dua
polisi di Makassar dan Aceh melakukan bunuh diri dengan cara menembak kepalanya
sendiri (TV One, Kabar Malam, 27 Februari 2014). Di Kediri Jawa Timur karena himpitan ekonomi ada satu keluarga terdiri dari
suami, istri, dan anak melakukan bunuh diri dengan minum racun serangga (RCTI, Seputar Indonesia Siang, 4 April 2015).
Menurut Arnold Toynbee sebagaimana dikutip Muhammad Alim, bahwa agama merupakan satu potensi asasi manusia yang alami. Menurutnya, kebutuhan seseorang terhadap agama karena didorong oleh kondisi keputusasaan rohani yang memaksanya untuk mencari pelipur lara dari agama dan untuk menghadapi sebuah bencana yang tidak dapat diatasinya sendiri. Senada dengan pendapat tersebut Karl Bang sebagaimana dikutip Muhammad Alim, bahwa penyebab para pasien sakit adalah karena kekurangan akidah atau iman, sehingga jiwanya mengalami kegoncangan dan kegelisahan. Menurutnya, mereka tidak akan memperoleh kesembuhan kecuali telah mengembalikan keimanannya yang telah sirna (Muhammad Alim, 2011: 48).
Penyembuhan Penderita Gangguan Jiwa di Pondok Pesantren Nurul Haromain
Pondok Pesantren Nurul Haromain adalah sebuah lembaga
pendidikan Islam di dusun
Taruban Kulon Tuksono Sentolo Kulon Progo DIY. Pondok Pesantren
ini didirikan oleh KH. M. Sirodjan Muniro AR sekaligus (pengasuh) pada tanggal 11 Desember
1995 dengan sebidang tanah berukuran ± 16.000 m2. Beliau adalah
santri Ulama Besar as-Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasany dari al-Makkah al-Mukaromah. Pondok Pesantren ini
selain menyelenggarakan pendidikan formal yaitu SMK, MTs, MI, MA Nurul
Haromain, dan kejar Paket C, juga menyelenggarakan pendidikan non formal
(santri takhassus). Bahkan Pondok
Pesantren ini juga menerima santri-santri khusus dari kalangan autis dan penderita
gangguan jiwa yang sudah tidak dapat tertolong oleh rumah sakit jiwa (Wawancara dengan KH. M. Sirodjan Muniro
AR Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haromain).
Upaya penyembuhannya
meliputi: diagnosis, zikrullah/wirid, ceramah agama, salat,
membaca Alquran, mandi malam, permainan, senam, berbaris, psikology guide,
dan bermain bola. Zikir dilakukannya dengan membaca bacaan ayat-ayat suci
Alquran dan kalimah tayibah semisal bacaan istigfar, tahlil, salawat,
dan lain-lain. Ceramah agama pagi dan sore berisi aqidah, akhlak, dan
ibadah. Salat tahajud dibiasakan pada para
santri. Sebelum salat tahajud santri diwajibkan untuk mandi
lebih dahulu. Senam dilakukan pada pagi hari selesai ceramah agama, permainan dan membaca Alquran. Baris-berbaris dan bermain
bola dilakukan pada sore hari. Tujuan dari olah raga tersebut adalah agar para
santri memperoleh kebugaran secara fisik dan mental (Observasi dan wawancara
dengan ustaz Ihya’). Puluhan santri penderita
gangguan jiwa telah berhasil disembuhkan di pesantren ini.
Kesembuhan santri penderita gangguan jiwa dapat
dikelompokkan menjadi empat kategori:
1. Belum sembuh (tingkat
kesembuhannya 0 -25 %)
Indikator: sering marah dan kurang terkendali, sering berbicara dan senyum
sendiri, sulit diajak komunikasi.
2. Hampir sembuh (tingkat
kesembuhannya 26-50 %)
Indikator: jarang marah, jarang berbicara
sendiri dan jarang senyum sendiri, kadang-kadang paham diajak komunikasi.
3. Sembuh (tingkat
kesembuhannya 51-75 %)
Indikator: tidak pernah nampak kemarahannya,
tidak berbicara dan tidak senyum sendiri, mampu berkomunikasi dengan orang
lain, pro aktif mengikuti kegiatan pondok pesantren.
4. Sembuh total (tingkat kesembuhannya 76-100%)
Indikatornya: aktif beribadah, aktif belajar,
aktif olah raga dan bermain, aktif berinteraksi dengan orang lain, mampu
mengurus dirinyanya sendiri, melibatkan diri
dalam membimbing santri-santri lainnya (Observasi dan wawancara dengan ustaz
Ihya’).
Dari 63 santri, tingkat kesembuhannya dapat dilihat pada tabel berikut:
|
No |
Tingkat Kesembuhan |
Indikator |
Jumlah |
Prosentase |
|
1 |
Belum sembuh (Tingkat kesembuhannya 0-25%) |
Sering marah dan kurang terkendali,
sering berbicara dan senyum sendiri, sulit diajak komunikasi |
2 santri |
3,17% |
|
2 |
Harapan sembuh (Tingkat kesembuhannya 26-50%) |
Jarang marah, jarang
berbicara sendiri dan jarang senyum sendiri, kadang-kadang paham diajak
komunikasi. |
18 santri |
28,57% |
|
3 |
Sembuh (Tingkat kesembuhannya 51-75%) |
tidak nampak kemarahannya, tidak berbicara dan tidak
senyum sendiri, mampu berkomunikasi dengan orang lain, pro aktif mengikuti
kegiatan pondok pesantren. |
29 santri |
46,03% |
|
4 |
Sembuh total (Tingkat kesembuhannya 76-100%) |
Aktif beribadah, aktif
belajar, aktif olah raga dan bermain, aktif berinteraksi dengan orang lain,
mampu mengurus dirinyanya sendiri, melibatkan diri dalam membimbing santri-santri lainnya. |
14 santri |
22,22% |
Sumber:
- Riskesdas RSJ. Grhasia Sleman Yogyakarta dan Dinas Kesehatan DIY tahun 2013.
- TV One, Kabar Malam, tanggal 27 Februari 2014.
- TV One, Apa Kabar Indonesia Malam, tanggal 4 April 2015 pukul 20.50 WIB.
- RCTI, Seputar Indonesia Siang, hari Sabtu tanggal 4 April 2015 pukul 11.55 WIB.
- Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam Upaya Pembentukan Pemikiran dan Kepribadian Muslim, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2011.
- Wawancara dengan KH. M. Sirodjan Muniro AR Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haromain.
- Observasi dan wawancara dengan Ihya’ ustaz Pondok Pesantren Nurul Haromain.
