DOA LEBARAN MBAH KIMIN
(Bagian Ketiga Satu Cerita)
Pagi itu mentari berwajah cerah sumringah menyapa
semesta. Kaum muslimin yang didominasi kaum pria berbondong-bondong menuju
masjid untuk melaksanakan shalat Id. Sesuai protokol, shalat Id dilaksanakan
dengan menerapkan social distancing. Khotib, muadzin dan sebagian besar
jamaah mengenakan masker.
Selesai pelaksanaan shalat, jamaah langsung pulang tanpa
ada acara mushafahah seperti Idul Fitri tahun-tahun sebelumnya. Karat
ibadah tahunan kali ini menurun drastis dari 24 di tahun-tahun sebelumnya,
tinggal 10 karat saja, sehingga terasa hambar.
Meski imbauan bernuansa larangan menggelar Open Hause gencar
disebar, Kimin tetap melakukannya. Tidak bermaksud meremehkan,
menentang, apalagi menantang himbauan. Kimin hanya ingin meneguhkan keyakinan
dan memegangi logikanya. Sepanjang di wilayahnya tidak ada ODP, apalagi PDP;
tidak kedatangan perantau dari daerah terpapar; warga setempat juga tidak
bebergian ke daerah pandemi; dirasa tidak perlu takut secara berlebihan, begitu
pikirnya.
Mengenakan pakaian serba baru dan semua berwajah ceria,
anak-anak berusia 8-15 tahunan yang tadi malam bertakbiran, berangkat bersama
hendak lebaran ke rumah para sesepuh kampung dan bersepakat ke rumah Kimin yang
pertama kali.
Di antara rombongan anak-anak itu, Kimat yang paling
besar dan karenanya didaulat njadi juru bicara. Kimat mulai merangkai-rangkai
kalimat yang sebaik, serunut, sesopan dan sehalus mungkin agar terhindar dari
kesalahan. Setelah menemukan susunan kata-kata yang akan diucapkan, lalu
dihafalnya. Meski tidak terlalu panjang, ternyata tidak mudah menghafalnya.
Dari halaman terlihat Kiman dengan istrinya sudah berada
di dalam rumah Kimin. Meski sebelumnya kalah debat, dan rencana mempersekusi kelompok
Kimar gagal total, tak menjadikan harus berjauhan, apalagi bermusuhan dengan
teman. Dengan lapang dada Kiman mendatangi rumah Kimin untuk lebaran dan minta
maaf.
Begitu rombongan anak-anak sampai di depan pintu, Kimat
mengucap “Assalamualaikuum”, yang dijawab serempak oleh orang-orang yang
ada di dalam rumah “Waalaikumsalaam.” Kimin lalu menyilakan anak-anak
duduk dan meminta mereka mencicipi kue yang tersedia.
Kimah, istri Kimin pun ikut menyilakan para tamu, “Ayo
Mat... Mut... lan kowe Mit.... podo njupuk sing mbok senengi. Jajan saka toko
ya ana, sing aku gawe dewe ya okeh. Kana milih tape ketan, jenang ireng, wajik,
apa gemblong.”
Dengan sangat hati-hati bercampur grogi, Kimat
mengutarakan maksud kedatangan rombongan. “Mbaah, ngaturaken sugeng riyadi, ngaturaken
sedaya kalepatan kula sak kanca, saha nyuwun tambahing donga pangestu.”
Bagai disambar petir di siang bolong, anak-anak yang
semula berwajah ceria sontak bermuka kecut bercampur takut mendengar jawaban
Kimin.
“Moh, emoh aku nek mbok wenehi kesalahanmu. Nek njaluk
donga, tak dongakna. Nanging nek mbok wenehi salahmu, aku emoh. Salah kok
diwenehna wong.”
Kiman yang duduk tak jauh dari Kimin pun sempat
terbelalak. Sambil menaruh iba kepada anak-anak, Kiman bermaksud
mengklarifikasi ucapan tuan rumah.
“Piye ta Min, wong dijaluki ngapura bocah cilik kok ora
mbok wenehi. Njur maksudmu kuwi, kepriye...”.
“Tembunge Kimat mau ora njaluk ngapura, nanging ngaturake
kalepatane. Lha nek tembunge jaluk ngapura ya langsung tak ngapura.”
“O, ngono ta...” timpal Kiman.
Anak-anak rupanya belum paham kontek pembicaraan keduanya
sehingga rasa takut masih menghinggapi mereka. Kiman pun segera menjelaskan
ucapan sahabat karibnya itu kepada mereka.
“Ngene lho cah.... karepmu kuwi wis bener, nanging
tembungmu sing kurang pener.” Dengan keberanian yang dipaksakan, Kimat minta
penjelasan yang lebih gamblang.
“Pripun Mbah, maksudipun Mbah Kimin?”
“Yen maksudmu njaluk ngapura, tembunge ya ‘nyuwun
pangapunten’, aja ‘ngaturaken kelepatan’. Ora ateges Mbah Kimin ora gelem mbok
jaluki ngapura, mung tembungmu sing kurang trep mungguh Mbah Kimin.”
“Rak ya mengkono ta, Min?”
“Ya mengkono kuwi sing tak karepna.”
Mendengar penjelasan keduanya, ketegangan raut muka mereka
berangsur kendur, mata mereka berangsur binar. Senyum kecil terlihat di bibir
mereka. Kimin pun berusaha memulihkan psikologis anak-anak yang sempat ngedrop.
“Aku mau ora nesu, mung nglencerke komunikasimu kanggo
nglatih lan ningkatke kualitas logikamu. Mbesuk mbok menawa awakmu dadi
konsultan hukum, staf ahli komunikasi publik, utawa dadi anggota DPR, awakmu
wis duwe dasar logika sing kuat, isa nyusun kalimat luwih cermat, lan
argumentasi sing akurat.”
Mendengar tuturan dan pencerahan tuan rumah, nafas
anak-anak menjadi lega, hati dan pikiran mereka makin terbuka, air muka mereka
pun kembali terlihat ceria.
Saat jeda menyantap kue yang dijajar di meja, Kimut
menatap ke arah Kimat sambil mengedipkan mata. Memberi isyarat untuk segera
pamitan.
“Sepindah maleh, kula sak kanca ngaturaken sugeng riyadi,
nyuwun pangapunten sedaya khilaf lan kalepatan kula sak kanca, saha nyuwun
tambahing donga pangestu.” tutur Kimat atas nama juru bicara di ujung
pertemuan.
“Ya, tak pangestuni kabeh. Kabeh khilaf lan salahmu tak
ngapura ing dina riyaya iki. Aku minangka wong tuwa ya semono uga, akeh luput
lan kesalahan tumerap awakmu, mula aku ya njaluk ngapura.”
Kimin belum lagi melanjutkan tuturnya, tanpa komando
anak-anak sigap menjawab singkat “Sami-sami Mbaaah....”
“Tak dongakna,”
begitu mendengar kata ‘tak dongakna’, secara reflek semua anak menadahkan kedua
telapak tangan dengan kepala menunduk.
Dari mulut mereka terucap lirih aamiin...aamiiin berulang kali.
“Muga-muga anak-anakku kabeh wiwit dina iki tumekaning
tembe, dadia bocah kang mituhu marang ibu, bapa, lan agama. Kalis ing rubeda,
nir ing sambikala. Tansah titi, temen, lan tinemu karaharjan, kamulyan, lan
kebak ing kabegjan. Muga-muga tansah kasinungan pengayoman, romat lan ridlane
Gusti Kang Maha Suci, ya amung siji, Gusti Allah SWT. Amiin Yaa Rabbal
‘Alamiin, birahmatika Ya Arhamarrahimiin.
Selesai doa dipanjat, Kimat dan kawan-kawannya bergantian
bersalaman dengan mencium punggung telapak tangan tokoh yang familiar disapa
‘Mbah Kimin’ ini
Selesai berjabat tangan seluruhnya, seperti kelompok paduan
suara mereka mengucap “Assalamu’alaikum....” yang dijawab oleh Kimin,
Kiman beserta istrinya serempak, “Alaikumussalaam
Warahmatullaahi wabarakaatuh”.
Penulis adalah guru Mapel Bahasa Indonesia MTs N 1 Pati.
