KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Rabu, 27 Mei 2020

DOA LEBARAN MBAH KIMIN

DOA LEBARAN MBAH KIMIN

(Bagian Ketiga Satu Cerita)

 Oleh Fariqah

 

Pagi itu mentari berwajah cerah sumringah menyapa semesta. Kaum muslimin yang didominasi kaum pria berbondong-bondong menuju masjid untuk melaksanakan shalat Id. Sesuai protokol, shalat Id dilaksanakan dengan menerapkan social distancing. Khotib, muadzin dan sebagian besar jamaah mengenakan masker.

Selesai pelaksanaan shalat, jamaah langsung pulang tanpa ada acara mushafahah seperti Idul Fitri tahun-tahun sebelumnya. Karat ibadah tahunan kali ini menurun drastis dari 24 di tahun-tahun sebelumnya, tinggal 10 karat saja, sehingga terasa hambar.

Meski imbauan bernuansa larangan menggelar Open Hause gencar disebar, Kimin tetap melakukannya. Tidak bermaksud meremehkan, menentang, apalagi menantang himbauan. Kimin hanya ingin meneguhkan keyakinan dan memegangi logikanya. Sepanjang di wilayahnya tidak ada ODP, apalagi PDP; tidak kedatangan perantau dari daerah terpapar; warga setempat juga tidak bebergian ke daerah pandemi; dirasa tidak perlu takut secara berlebihan, begitu pikirnya.

Mengenakan pakaian serba baru dan semua berwajah ceria, anak-anak berusia 8-15 tahunan yang tadi malam bertakbiran, berangkat bersama hendak lebaran ke rumah para sesepuh kampung dan bersepakat ke rumah Kimin yang pertama kali.

Di antara rombongan anak-anak itu, Kimat yang paling besar dan karenanya didaulat njadi juru bicara. Kimat mulai merangkai-rangkai kalimat yang sebaik, serunut, sesopan dan sehalus mungkin agar terhindar dari kesalahan. Setelah menemukan susunan kata-kata yang akan diucapkan, lalu dihafalnya. Meski tidak terlalu panjang, ternyata tidak mudah menghafalnya.

Dari halaman terlihat Kiman dengan istrinya sudah berada di dalam rumah Kimin. Meski sebelumnya kalah debat, dan rencana mempersekusi kelompok Kimar gagal total, tak menjadikan harus berjauhan, apalagi bermusuhan dengan teman. Dengan lapang dada Kiman mendatangi rumah Kimin untuk lebaran dan minta maaf.

Begitu rombongan anak-anak sampai di depan pintu, Kimat mengucap “Assalamualaikuum”, yang dijawab serempak oleh orang-orang yang ada di dalam rumah “Waalaikumsalaam.” Kimin lalu menyilakan anak-anak duduk dan meminta mereka mencicipi kue yang tersedia.

Kimah, istri Kimin pun ikut menyilakan para tamu, “Ayo Mat... Mut... lan kowe Mit.... podo njupuk sing mbok senengi. Jajan saka toko ya ana, sing aku gawe dewe ya okeh. Kana milih tape ketan, jenang ireng, wajik, apa gemblong.”

Dengan sangat hati-hati bercampur grogi, Kimat mengutarakan maksud kedatangan rombongan. “Mbaah, ngaturaken sugeng riyadi, ngaturaken sedaya kalepatan kula sak kanca, saha nyuwun tambahing donga pangestu.”

Bagai disambar petir di siang bolong, anak-anak yang semula berwajah ceria sontak bermuka kecut bercampur takut mendengar jawaban Kimin.

“Moh, emoh aku nek mbok wenehi kesalahanmu. Nek njaluk donga, tak dongakna. Nanging nek mbok wenehi salahmu, aku emoh. Salah kok diwenehna wong.”

Kiman yang duduk tak jauh dari Kimin pun sempat terbelalak. Sambil menaruh iba kepada anak-anak, Kiman bermaksud mengklarifikasi ucapan tuan rumah.

“Piye ta Min, wong dijaluki ngapura bocah cilik kok ora mbok wenehi. Njur maksudmu kuwi, kepriye...”.

“Tembunge Kimat mau ora njaluk ngapura, nanging ngaturake kalepatane. Lha nek tembunge jaluk ngapura ya langsung tak ngapura.”

“O, ngono ta...” timpal Kiman.

Anak-anak rupanya belum paham kontek pembicaraan keduanya sehingga rasa takut masih menghinggapi mereka. Kiman pun segera menjelaskan ucapan sahabat karibnya itu kepada mereka.

“Ngene lho cah.... karepmu kuwi wis bener, nanging tembungmu sing kurang pener.” Dengan keberanian yang dipaksakan, Kimat minta penjelasan yang lebih gamblang.

“Pripun Mbah, maksudipun Mbah Kimin?”

“Yen maksudmu njaluk ngapura, tembunge ya ‘nyuwun pangapunten’, aja ‘ngaturaken kelepatan’. Ora ateges Mbah Kimin ora gelem mbok jaluki ngapura, mung tembungmu sing kurang trep mungguh Mbah Kimin.”

“Rak ya mengkono ta, Min?”

“Ya mengkono kuwi sing tak karepna.”

Mendengar penjelasan keduanya, ketegangan raut muka mereka berangsur kendur, mata mereka berangsur binar. Senyum kecil terlihat di bibir mereka. Kimin pun berusaha memulihkan psikologis anak-anak yang sempat ngedrop.

“Aku mau ora nesu, mung nglencerke komunikasimu kanggo nglatih lan ningkatke kualitas logikamu. Mbesuk mbok menawa awakmu dadi konsultan hukum, staf ahli komunikasi publik, utawa dadi anggota DPR, awakmu wis duwe dasar logika sing kuat, isa nyusun kalimat luwih cermat, lan argumentasi sing akurat.”

Mendengar tuturan dan pencerahan tuan rumah, nafas anak-anak menjadi lega, hati dan pikiran mereka makin terbuka, air muka mereka pun kembali terlihat ceria.

Saat jeda menyantap kue yang dijajar di meja, Kimut menatap ke arah Kimat sambil mengedipkan mata. Memberi isyarat untuk segera pamitan.

“Sepindah maleh, kula sak kanca ngaturaken sugeng riyadi, nyuwun pangapunten sedaya khilaf lan kalepatan kula sak kanca, saha nyuwun tambahing donga pangestu.” tutur Kimat atas nama juru bicara di ujung pertemuan.

“Ya, tak pangestuni kabeh. Kabeh khilaf lan salahmu tak ngapura ing dina riyaya iki. Aku minangka wong tuwa ya semono uga, akeh luput lan kesalahan tumerap awakmu, mula aku ya njaluk ngapura.”

Kimin belum lagi melanjutkan tuturnya, tanpa komando anak-anak sigap menjawab singkat “Sami-sami Mbaaah....”

 “Tak dongakna,” begitu mendengar kata ‘tak dongakna’, secara reflek semua anak menadahkan kedua telapak tangan  dengan kepala menunduk. Dari mulut mereka terucap lirih aamiin...aamiiin berulang kali.

“Muga-muga anak-anakku kabeh wiwit dina iki tumekaning tembe, dadia bocah kang mituhu marang ibu, bapa, lan agama. Kalis ing rubeda, nir ing sambikala. Tansah titi, temen, lan tinemu karaharjan, kamulyan, lan kebak ing kabegjan. Muga-muga tansah kasinungan pengayoman, romat lan ridlane Gusti Kang Maha Suci, ya amung siji, Gusti Allah SWT. Amiin Yaa Rabbal ‘Alamiin, birahmatika Ya Arhamarrahimiin.

Selesai doa dipanjat, Kimat dan kawan-kawannya bergantian bersalaman dengan mencium punggung telapak tangan tokoh yang familiar disapa ‘Mbah Kimin’ ini

Selesai berjabat tangan seluruhnya, seperti kelompok paduan suara mereka mengucap “Assalamu’alaikum....” yang dijawab oleh Kimin, Kiman beserta istrinya serempak, “Alaikumussalaam Warahmatullaahi wabarakaatuh”.

 

Penulis adalah guru Mapel Bahasa Indonesia MTs N 1 Pati.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman