KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Rabu, 27 Mei 2020

KH. Ismail bin Zainal Abidin bin Lambu

Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyatul Banin tahun 1976


  1. NASABNYA

KH. Ismail bersama tiga saudaranya (H. Sulaiman, Ibu Siyam dan Ibu Radimah) adalah putra Mbah Zainal Abidin (Mbah Nggabidin) bin Lambu. Selain Mbah Zainal Abidin, putra Mbah Lambu antara lain : Mbah Setronyono, Mbah Hasan Mujarrod, Mbah Musthofa, Mbah Mariyah (Tawung), Mbah Turi dan masih ada lagi.

Sejak kecil Mbah H. Ismail diasuh oleh Pakdenya, yaitu Mbah Setronyono (Sastro Leksono). Ketika usia kurang lebih 7 tahun beliau diajak (dicuri) oleh kakaknya, Sulaiman, ke Malaysia. Perjalanan ke stasiun dilakukan dengan berjalan kaki dan sempat istirahat di makam jabang bayi (Mustokoharjo Pati).

Setelah dewasa beliau diajak pergi ke Makkah untuk ibadah haji. Di sana beliau belajar ilmu agama dan menghafal Al Quran, namun sebelum selesai menghafal beliau jatuh sakit sehingga harus pulang ke Desa Pekalongan, setelah mukim di Makkah selama 7 tahun dan beribadah haji 7 kali.

Sepulang dari Makkah beliau menikahi putri pakdenya, yaitu Khadijah binti Setronyono. Pasangan ini diberkahi 4 orang putra, yaitu : H. Idris, H. Imam Abdul Mu’thi, Amin dan Asrini.

Setelah Mbah Khadijah meninggal dunia, Mbah H. Ismail menikah dengan Mbah H. Azizah binti Sarkam dari Desa Turi Tambahmulyo Gabus. Dari pernikahan kedua ini beliau diberkahi 8 orang putra, yaitu : H. Abdul Aziz, Hj. Masyrifah, H. Ahmad Syahri, Ahmadun, Siti Ruqoyyah, Drs. Ahmad Asrori, S.H., Sholihun dan Shofiyatun.

  1. TEMPAT TINGGAL

Semasa hidupnya, Mbah H. Ismail tinggal di Desa Pekalongan, Kecamatan Winong. Tepatnya di sebelah utara Masjid Jami’ Darussalam. Dua rumah beliau menghadap ke selatan berjajar ke utara disambung dengan sebuah rumah dapur. Halaman rumah tepat ditempati rumah Bp. Ali Syafa’ yang depan. Sedang satu rumah lagi bertempat di sebelah barat rumah dapur itu kemudian didirikan rumah Bp. KHA. Syahri Ismail.

Di sebelah selatan sumur terdapat sebuah musholla (langgar) yang waktu itu belum bernama dan di kemudian hari dibangun pindah oleh Bp. KHA. Syahri Ismail ke utara sumur dengan nama Musholla Al Hikmah.

Musholla Al-Hikmah tahun 1977

  1. PEKERJAAN

KH. Ismail dikenal sebagai pedagang sapi yang tangguh dan mencapai keberhasilan yang luar biasa, karena pada sat itu belum banyak pedagang sapi. Beliau juga dikenal sebagai orang yang sangat dipercaya oleh masyarakat Kecamatan Winong. Keberhasilan itu tampak pada banyaknya sapi yang ditambatkan di pinggir jalan karena kandangnya sudah penuh. Untuk usahanya itu beliau juga sering pulang pergi ke Malaysia.

  1. PERJUANGAN

1.     Perjuangan Keagamaan

Dengan berbekal ilmu agama yang dipelajari di Makkah bersama KH. Abdul Wahab Hasbullah (Jombang), Mbah H. Ismail mendirikan Madrasah atas nama pribadi dengan nama Far’iyah (Cabang) Matholi’ul Falah Kajen pada tahun 1930 M. Pendirian madrasah ini atas dorongan K. Anwar (Ngemplak Margoyoso) dan K. Munji (Kajen Margoyoso). Saat itu kedua beliau mengobati (nambani) Mbah Sarkam (mertua Mbah H. Ismail) yang sedang sakit di Desa Turi Gabus.

Setelah itu beliau berdua diajak oleh Mbah H. Ismail untuk mengunjungi Desa Pekalongan yang masih kosong, belum ada masjid dan madrasah. Ide ini didukung juga oleh KH. Mahfudh (Kajen). Dorongan ini seketika diterima oleh Mbah H. Ismail. Hanya saja guru-gurunya harus diambilkan dari Kajen, antara lain Mbah KH. Mahfudh, K. Munji, K. Khozin, K. Sanaji. Sedangkan yang ditunjuk sebagai Kepala Guru adalah orang Pekalongan sendiri, yaitu K. Jauhar Umar.

Sarana, prasarana, gedung, tanah, honor guru, bahkan sampai makan dan penginapan para guru, semua menjadi tanggung jawab Mbah H. Ismail. Kondisi semacam ini berlangsung bertahun-tahun sampai nantinya madrasah berubah nama menjadi Tarbiyatul Banin. Sehingga Mbah H. Ismail tinggal menyediakan jaminan (makanan kecil) untuk para guru pada saat istirahat.

Pada zaman penjajahan Jepang, madrasah harus ditutup karena berinduk kepada Matholi’ul Falah Kajen yang dipimpin oleh K. Mahfudh yang pada saat itu menjadi buronan pemerintah penjajahan Jepang karena dianggap sebagai pemberontak. Berkat perjauangan Bapak K. Jauhar, Jepang mengijinkan dibukanya kembali madrasah, hanya saja namanya harus diganti. Setelah dimusyawarahkan dengan K. Abu Thoyib dan H. Ihsan, maka disepakatilah nama Tarbiyatul Banin.

Dalam hal pendirian Masjid Pekalongan, Mbah H. Ismail bertindak sebagai penanggungjawab pelaksanaan dan keuangan. Beliau dibantu para sesepuh yang lain, seperti Mbah H. Umar, Mbah H. Asmuin, Mbah H. Syukur, Mbah H. Husain, Mbah H. Ma’shum, Mbah Nurwi dan Mbah H. Siraj bin Yahya (waqif tanah untuk masjid) serta tokoh-tokoh yang lain. Masjid berdiri pada tahun 1935 M.

2.     Perjuangan Nasionalisme

Pada zaman Jepang, Mbah H. Ismail ditekan pemerintah penjajah Jepang untuk menjadi induk tengkulak pembelian padi dari rakyat se-Kecamatan Winong dan penjualan gula pasir milik pemerintah. Hal ini membuat keempat rumah beliau dipenuhi tumpukan padi. Bahkan sampai ke halaman dan rumah-rumah tetangga. Tidak jarang pula padi milik pribadi beliau ikut dibawa oleh Jepang. Posisi ini dimanfaatkan beliau untuk membela kepentingan rakyat.

Pada masa agresi Belanda, banyak tentara kita (TNI) bergerilya di hutan. Di antara markasnya ada di desa Guyangan dan Cabean. Karena mungkin tidak ada gajinya maka kebutuhan keuangan dan logistik dimintakan dari Mbah H. Ismail. Memang pada saat itu Mbah H. Ismail termasuk orang paling kaya dan dermawan. Setiap hari beliau mengirim bahan makanan kepada mereka secukupnya.
Sejak saat itulah rizki beliau mulai surut.

  1. WAFAT

Mbah H. Ismail wafat pada hari Ahad Kliwon, tanggal 23 Jumadil Akhir 1399 H. / 20 Mei 1979 M. dalam usia + 115 tahun.

  1. PENUTUP

Demikian riwayat ringkas Mbah H. Ismail, salah satu tokoh kunci dalam peletakan pembangunan masyarakat Desa Pekalongan dan sekitarnya.


Disusun di Pekalongan
Pada tanggal 11 Nopember 1995
Diketik ulang dan disempurnakan
tanggal 22 Juli 2005
Oleh Ah. Adib Al Arif
Narasumber: K. Abu Thoyib
dan KHA. Syahri Ismail

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman