- NASABNYA
KH. Ismail bersama tiga saudaranya (H. Sulaiman, Ibu Siyam dan Ibu Radimah) adalah putra Mbah Zainal Abidin (Mbah Nggabidin) bin Lambu. Selain Mbah Zainal Abidin, putra Mbah Lambu antara lain : Mbah Setronyono, Mbah Hasan Mujarrod, Mbah Musthofa, Mbah Mariyah (Tawung), Mbah Turi dan masih ada lagi.
Sejak kecil Mbah H. Ismail diasuh oleh Pakdenya, yaitu Mbah Setronyono (Sastro Leksono). Ketika usia kurang lebih 7 tahun beliau diajak (dicuri) oleh kakaknya, Sulaiman, ke Malaysia. Perjalanan ke stasiun dilakukan dengan berjalan kaki dan sempat istirahat di makam jabang bayi (Mustokoharjo Pati).
Setelah dewasa beliau diajak pergi ke Makkah untuk ibadah haji. Di sana beliau belajar ilmu agama dan menghafal Al Quran, namun sebelum selesai menghafal beliau jatuh sakit sehingga harus pulang ke Desa Pekalongan, setelah mukim di Makkah selama 7 tahun dan beribadah haji 7 kali.
Sepulang dari Makkah beliau menikahi putri pakdenya,
yaitu Khadijah binti Setronyono. Pasangan ini diberkahi 4 orang putra, yaitu :
H. Idris, H. Imam Abdul Mu’thi, Amin dan Asrini.
Setelah Mbah Khadijah meninggal dunia, Mbah H. Ismail
menikah dengan Mbah H. Azizah binti Sarkam dari Desa Turi
Tambahmulyo Gabus. Dari pernikahan kedua ini beliau diberkahi 8 orang putra,
yaitu : H. Abdul Aziz, Hj. Masyrifah, H. Ahmad Syahri, Ahmadun, Siti Ruqoyyah,
Drs. Ahmad Asrori, S.H., Sholihun dan Shofiyatun.
- TEMPAT TINGGAL
Semasa hidupnya, Mbah H. Ismail tinggal di Desa
Pekalongan, Kecamatan Winong. Tepatnya di sebelah utara Masjid Jami’
Darussalam. Dua rumah beliau menghadap ke selatan berjajar ke utara disambung
dengan sebuah rumah dapur. Halaman rumah tepat ditempati rumah Bp. Ali Syafa’
yang depan. Sedang satu rumah lagi bertempat di sebelah
barat rumah dapur itu kemudian didirikan rumah Bp. KHA. Syahri Ismail.
Di sebelah selatan sumur terdapat sebuah musholla
(langgar) yang waktu itu belum bernama dan di kemudian hari dibangun pindah
oleh Bp. KHA. Syahri Ismail ke utara sumur dengan nama Musholla Al Hikmah.
![]() |
| Musholla Al-Hikmah tahun 1977 |
- PEKERJAAN
KH. Ismail dikenal sebagai pedagang sapi yang tangguh dan
mencapai keberhasilan yang luar biasa, karena pada sat itu belum banyak
pedagang sapi. Beliau juga dikenal sebagai orang yang sangat dipercaya oleh
masyarakat Kecamatan Winong. Keberhasilan itu tampak pada
banyaknya sapi yang ditambatkan di pinggir jalan
karena kandangnya sudah penuh. Untuk
usahanya itu beliau juga sering pulang pergi ke Malaysia.
- PERJUANGAN
1.
Perjuangan Keagamaan
Dengan berbekal ilmu agama yang dipelajari di Makkah bersama KH. Abdul Wahab Hasbullah (Jombang), Mbah H. Ismail mendirikan Madrasah atas nama pribadi dengan nama Far’iyah (Cabang) Matholi’ul Falah Kajen pada tahun 1930 M. Pendirian madrasah ini atas dorongan K. Anwar (Ngemplak Margoyoso) dan K. Munji (Kajen Margoyoso). Saat itu kedua beliau mengobati (nambani) Mbah Sarkam (mertua Mbah H. Ismail) yang sedang sakit di Desa Turi Gabus.
Setelah itu beliau berdua diajak oleh Mbah H. Ismail untuk mengunjungi Desa Pekalongan yang masih kosong, belum ada masjid dan madrasah. Ide ini didukung juga oleh KH. Mahfudh (Kajen). Dorongan ini seketika diterima oleh Mbah H. Ismail. Hanya saja guru-gurunya harus diambilkan dari Kajen, antara lain Mbah KH. Mahfudh, K. Munji, K. Khozin, K. Sanaji. Sedangkan yang ditunjuk sebagai Kepala Guru adalah orang Pekalongan sendiri, yaitu K. Jauhar Umar.
Sarana, prasarana, gedung, tanah, honor guru, bahkan
sampai makan dan penginapan para guru, semua menjadi tanggung jawab Mbah H.
Ismail. Kondisi semacam ini berlangsung bertahun-tahun sampai nantinya madrasah
berubah nama menjadi Tarbiyatul Banin. Sehingga Mbah H. Ismail tinggal
menyediakan jaminan (makanan kecil) untuk para guru pada saat istirahat.
Pada zaman penjajahan Jepang, madrasah harus ditutup
karena berinduk kepada Matholi’ul Falah Kajen yang dipimpin oleh K. Mahfudh
yang pada saat itu menjadi buronan pemerintah penjajahan Jepang karena dianggap
sebagai pemberontak. Berkat perjauangan Bapak K. Jauhar, Jepang mengijinkan dibukanya
kembali madrasah, hanya saja namanya harus diganti. Setelah dimusyawarahkan
dengan K. Abu Thoyib dan H. Ihsan, maka disepakatilah nama Tarbiyatul Banin.
Dalam hal pendirian Masjid
Pekalongan, Mbah H. Ismail bertindak sebagai penanggungjawab pelaksanaan dan
keuangan. Beliau dibantu para sesepuh yang lain, seperti Mbah H. Umar, Mbah H.
Asmuin, Mbah H. Syukur, Mbah H. Husain, Mbah H. Ma’shum, Mbah Nurwi dan Mbah H.
Siraj bin Yahya (waqif tanah untuk masjid) serta tokoh-tokoh yang lain. Masjid
berdiri pada tahun 1935 M.
2.
Perjuangan
Nasionalisme
Pada zaman Jepang, Mbah H. Ismail ditekan pemerintah
penjajah Jepang untuk menjadi induk tengkulak pembelian padi dari rakyat se-Kecamatan
Winong dan penjualan gula pasir milik pemerintah. Hal ini membuat keempat rumah
beliau dipenuhi tumpukan padi. Bahkan sampai ke halaman dan rumah-rumah
tetangga. Tidak jarang pula padi milik pribadi beliau ikut dibawa oleh Jepang.
Posisi ini dimanfaatkan beliau untuk membela kepentingan rakyat.
Pada masa agresi Belanda, banyak tentara kita (TNI)
bergerilya di hutan. Di antara markasnya ada di desa Guyangan dan Cabean.
Karena mungkin tidak ada gajinya maka kebutuhan keuangan dan logistik
dimintakan dari Mbah H. Ismail. Memang pada saat itu Mbah H. Ismail termasuk
orang paling kaya dan dermawan. Setiap hari beliau mengirim bahan makanan
kepada mereka secukupnya.
Sejak saat itulah rizki beliau mulai surut.
- WAFAT
Mbah H. Ismail wafat pada hari Ahad Kliwon, tanggal 23
Jumadil Akhir 1399 H. / 20 Mei 1979 M. dalam usia + 115 tahun.
- PENUTUP
Demikian riwayat ringkas Mbah H. Ismail, salah satu tokoh
kunci dalam peletakan pembangunan masyarakat Desa
Pekalongan dan sekitarnya.
Disusun di Pekalongan
Pada tanggal 11 Nopember 1995
Diketik ulang dan disempurnakan tanggal 22 Juli 2005
Oleh Ah. Adib Al Arif
Narasumber: K. Abu Thoyib dan KHA. Syahri Ismail

