HANTU CORONA
Oleh Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Otoritas kesehatan dunia sampai menyatakan wabah Corona telah mencapai level pandemi karena telah memenuhi tiga kriteria: penyakit itu timbul pertama kali, menginfeksi manusia yang berakibat sakit serius, dan penyebarannya yang sangat mudah dan cepat. Mengutip Compas.Com, per 12 Mei 2020 Corona ‘berhasil’ memapar 88% jumlah negara di dunia, ‘sukses’ bikin negara adidaya tidak berdaya, menelan banyak korban manusia dan memporakporandakan perekonomian dunia yang berpotensi mengakibatkan kebangkrutan ekonomi global.
Corona
menyasar korbannya tanpa pandang bulu mulai dari kalangan pejabat negara hingga
rakyat jelata, balita sampai lansia, tak plih pria atau wanita, berpendidikan
tinggi atau yang tuna aksara, tak pandang miskin atau kaya, semua diperlakukan
sama sepanjang dapat dijangkaunya. Teror yang dilancarkan menyasar berbagai
aspek kehidupan: sosial, ekonomi, fisik maupun psikis. Jenazah korban Covid-19
yang ditolak masyarakat untuk dikuburkan di kampung halaman, pengetatan hingga
penolakan masuknya pendatang dari luar negeri atau zona merah, himbauan pemerintah
dan tokoh masyarakat agar perantau tidak mudik pada lebaran tahun ini, hingga
pro kotra pemuka agama mensikapi pandemi jelas menunjukkan terjadinya konflik sosial
secara vertikal dan horizontal.
Secara
psikis Corona menyebabkan kebingungan dan ketakutan bagi mereka yang telah jadi
korban dan siapa saja yang berpotensi jadi korban berikutnya. Tidak hanya
bingung dan takut secara medis, tapi juga ekonomis dan psikologis. Setelah diPHK
terus mau kerja apa, keluarganya diberi makan apa, kalaupun ada bantuan sampai
seberapa lama. Nanorganisme berukuran 125x10−9 meter — atau seper 125
milyar meter itu sukses menebar teror ke berbagai sudut kehidupan manusia tanpa
pandang bulu. Wujudnya
tidak kasat mata, dampak teror yang ditebar demikian nyata
Covid-19
telah berubah jadi hantu sedemikian menakutkan. Bagi kalangan tertentu
ketakutan ini – secara tidak sadar -- melebihi takutnya kepada Tuhan meski
disadari sepenuhnya Corona itu ciptaan Tuhan. Ketakutan dalam konteks ini
terjelaskan oleh salah satu komen di medsos: Takut Corona = menjauh, Takut
Tuhan = mendekat. Interpretasi logis ketakutan terhadap Corona melebihi
takutnya pada Tuhan: ketika pikir dan rasa lebih didominasi riuh-rendahnya
informasi per-corona-an, apabila atmosfer kesadaran ketuhanan teredupkan
gegap-gempitanya diskursus per-corona-an, jika kehadiran Tuhan dalam
sudut-sudut kehidupan tersudutkan oleh kebingunan menghadapi laju penyebaran
Covid-19, manakala usaha menjauhkan dan membentengi diri dari Corona dilakukan
sedemikian rupa, pada waktu yang sama tidak dibarengi sikap dan tindakan yang
memadai dalam mendekatkan diri kepada Tuhan, atau diketika keyakinan kemaharahmanrahiman-Nya
terkaburkan atas nama kehati-hatian melawan daya bunuh Corona. Dalih
berhati-hati boleh saja namun ketika sikap hati-hati sampai menelantarkan
kepastian terhadap ke-Rabbi-an Illahi atas kemungkinan destruktifnya makhluk
ciptaan-Nya, pada titik itulah ketakutan, bahkan kehati-hatian, telah merusak
jalan pikiran dan berpotensi mendisorientasikan keyakinan.
Bahwa
segala sesuatu yang diciptakan Tuhan memiliki tujuan itu pasti. Di balik
musibah, wabah, terkandung hikmah dan berkah, tak perlu dibantah. Pesan Tuhan
yang dibungkus wabah Corona bisa sebentuk teguran, cobaan, ujian atau belaian
kasih sayang-Nya. Melalui pandemi ini Tuhan mengingatkan hamba yang lupa
kepada-Nya, mendekatkan yang jauh dari-Nya, meyakinkan yang ragu-ragu
terhadap-Nya, merukunkan yang bermusuhan dengan sesamanya, mempedulikan yang
tak acuh pada komunitasnya.
Hikmah
dan berkah titipan Tuhan yang dibawa wabah ini sangat banyak. Corona mengajari
perlunya rajin berolahraga untuk kebugaran raga, mengingatkan pentingnya
menjaga kesehatan, menebalkan kepedulian dan kebersamaan untuk menyehatkan
jiwa. Penggalangan dana berbagai badan amal, bersatunya opsisi dengan koalisi
di sejumlah negara, konser online gratis artis kelas dunia, perhatian
pemerintah yang lebih serius dan nyata terhadap rakyatnya, dzikir dan doa bersama
digelar di mana-mana. Agar kiranya manusia lebih bertaqwa kepada Penciptanya. Maha
Benar Allah dengan segala firman-Nya.
Pekalongan (15052020).
