YA TERSERAH MEREKA?!
(Bagian Pertama Satu Cerita)
Dua hari menjelang berakhirnya bulan Ramadlan, jamaah
shalat tarawih di mushala Al-Huda tinggal empat saf dari delapan saf pada
malam-malam sebelumnya. Selesai shalat tarawih, jamaah duduk menepi ke dinding mushala.
Secara kebetulan Kimin dan Kiman duduk bersebelahan sederet dengan jamaah
lainnya, bersandar di dinding mushala bagian utara, lurus menghadap ke selatan.
Anak-anak pun mengikuti orang dewasa duduk rapi berderet
menempel dinding mushala, menunggu jamenan yang biasa dibagikan setelah shalat
tarawih. Kimat dan Kimit yang duduk bersebelahan pada celingukan, mulut
keduanya sesekali terlihat komat kamit berbisikan.
“Jamenane durung teka....” bisik Kimit.
“Ya, sabar disik, lagi dijupuk saka omahe mbah Kuminem.”
timpal Kimat.
Tanpa dipersilakan, begitu jamenan tersaji anak-anak
langsung menyantapnya sembari bercengkerama bertema sekenanya.
Sesuai kesepakatan malam sebelumnya, malam ini akan diadakan
musyawarah membahas dua hal: rencana pelaksanaan takbiran dan rencana lebaran
bersama. Sambil menunggu dimulainya acara, dari kejauhan terlihat Kimin dan
Kiman terlibat dialog ringan.
“Man, Man...”, demikian Kimin mengawali dialog.
“Apa Min?” jawab Kiman singkat.
“Lusa nanti kamu merayakan Idul Fitri?”, Kimin
melanjutkan pertanyaan.
“Insyaallah. Kamu juga merayakan, Min?” Kiman ganti
bertanya.
Jamaah lain juga terlibat pembicaraan dengan teman
sebelah, yang sesekali sambil ‘nyeruput’ teh hangat yang tersaji, menikmati
jamenan ala kadarnya. Sementara pengurus mushala sibuk mempersiapkan dimulainya
musyawarah, dialog dua karib itu pun berlanjut.
“Insyaallah saya juga ikut merayakan Idul Fitri, Man.
Idul Fitri kan setahun cuma sekali, kalau tidak ikut merayakan eman-man Man....”
“Lo, kok ikut. Memang ikut siapa, Min?” sergah Kiman.
“Ya, ikut orang-orang yang merayakan Idul Fitri. Setelah
melaksanakan ibadah puasa Ramadlan sebulan penuh, kaum muslimin muslimat, tua
muda, kaya maupun yang miskin, pada merayakan Idul Fitri.” Kimin berusaha
memadukan logika dan fakta dalam menjawab pertanyaan Kiman yang bernada minor
tersebut.
“Kamu kok ikut merayakan Idul Fitri, memangnya Kamu juga
berpuasa selayaknya umat Islam yang lain?”
“Ya, iya lah... Masa tidak berpuasa, tidak tarawih
kok ikut berhari raya?!” Jawab Kimin meyakinkan lawan bicara.
“Ramadlan tahun kemarin aku lihat dengan mata kepala
sendiri, Kimar, Kimur, dan Kimir, tidak berpuasa satu hari pun, apalagi
tarawih. Mereka kok menggelar acara perayaan Idul Fitri begitu meriahnya?!”
Kiman coba menggali korelasi logis antara pelaksanaan
ibadah puasa dengan perayaan Idul Fitri, sambil mencari jawaban atas pertanyaan
yang sudah lama terpendam tentang boleh tidaknya orang yang tidak berpuasa ikut
merayakan Idul Fitri.
“Ya terserah mereka?!” jawab Kimin bernada ringan.
Jawaban Kimin yang singkat langsung ditimpal dengan pertanyaan bernada sewot
bercampur penasaran.
“Lo, kok terserah mereka. Memangnya boleh....”
“Memangnya ada yang melarang!” bantah Kimin sinis.
Dialog yang mulai berakselerasi itu sontak terhenti oleh
suara Ketua Panitia perayaan Idul Fitri yang memberitahukan bahwa musyawarah
siap dimulai. Tanpa kata penutup, Kimin dan Kiman langsung meluruskan posisi
duduk menghadap majelis, yang bergeser agak serong terbawa arus dialog.
Ketua Panitia bersama Sekretaris duduk berdampingan
beberapa jengkal sebelah timur ruang imam dalam mushala. Setelah pembukaan
dengan hadrah fatihah yang dipandu oleh Sekretaris merangkap MC, Ketua Panitia dipersilakan
memimpin jalannya musyawarah untuk membahas segala sesuatu sekait persiapan
takbiran dan persiapan lebaran bersama.
Ketua Panitia selaku pimpinan musyawarah memegang
microphon memandu jalannya musyawarah. Selama musyawarah berlangsung, pimpinan
dengan sabar dan penuh perhatian mendengar usulan dan pandangan seluruh peserta.
Setelah semua masalah dibahas, pimpinan menanyakan kepada peserta.
“Bagaimana, sudah cukup pembahasan malam ini?” serentak
peserta menjawab “Cukuup.” Dan Sekretaris pun segera membacakan keputusan
musyawarah.
“Sebelum acara
ditutup,” demikian sekretaris mengawali pembacaan keputusan, “akan saya bacakan
keputusan musyawarah malam ini sebagai berikut:
Satu, pelaksanaan takbiran menunggu penetapan Hari Raya
dari Pemerintah.
Dua, seluruh peserta musyawarah malam ini dimohon hadir
di mushala besuk pagi untuk persiapan pelaksanaan takbiran.
Tiga, lebaran bersama dilaksanakan tanggal 7 Syawal
bertempat di mushala Al-Huda.”
Selesai membacakan keputusan, MC langsung menutup
musyawarah, “Mari musyawarah kita tutup dengan membaca hamdalah bersama”,
peserta pun serentak mengucap “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin”.
Penulis adalah guru Mapel Bahasa Indonesia MTs N 1 Pati.
