KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Rabu, 27 Mei 2020

YA TERSERAH MEREKA?!

YA TERSERAH MEREKA?!

(Bagian Pertama Satu Cerita)

 Oleh Fariqah


Dua hari menjelang berakhirnya bulan Ramadlan, jamaah shalat tarawih di mushala Al-Huda tinggal empat saf dari delapan saf pada malam-malam sebelumnya. Selesai shalat tarawih, jamaah duduk menepi ke dinding mushala. Secara kebetulan Kimin dan Kiman duduk bersebelahan sederet dengan jamaah lainnya, bersandar di dinding mushala bagian utara, lurus menghadap ke selatan.

Anak-anak pun mengikuti orang dewasa duduk rapi berderet menempel dinding mushala, menunggu jamenan yang biasa dibagikan setelah shalat tarawih. Kimat dan Kimit yang duduk bersebelahan pada celingukan, mulut keduanya sesekali terlihat komat kamit berbisikan.

“Jamenane durung teka....” bisik Kimit.

“Ya, sabar disik, lagi dijupuk saka omahe mbah Kuminem.” timpal Kimat.

Tanpa dipersilakan, begitu jamenan tersaji anak-anak langsung menyantapnya sembari bercengkerama bertema sekenanya.

Sesuai kesepakatan malam sebelumnya, malam ini akan diadakan musyawarah membahas dua hal: rencana pelaksanaan takbiran dan rencana lebaran bersama. Sambil menunggu dimulainya acara, dari kejauhan terlihat Kimin dan Kiman terlibat dialog ringan.

“Man, Man...”, demikian Kimin mengawali dialog.

“Apa Min?” jawab Kiman singkat.

“Lusa nanti kamu merayakan Idul Fitri?”, Kimin melanjutkan pertanyaan.

“Insyaallah. Kamu juga merayakan, Min?” Kiman ganti bertanya.

Jamaah lain juga terlibat pembicaraan dengan teman sebelah, yang sesekali sambil ‘nyeruput’ teh hangat yang tersaji, menikmati jamenan ala kadarnya. Sementara pengurus mushala sibuk mempersiapkan dimulainya musyawarah, dialog dua karib itu pun berlanjut.

“Insyaallah saya juga ikut merayakan Idul Fitri, Man. Idul Fitri kan setahun cuma sekali, kalau tidak ikut merayakan eman-man Man....”

“Lo, kok ikut. Memang ikut siapa, Min?” sergah Kiman.

“Ya, ikut orang-orang yang merayakan Idul Fitri. Setelah melaksanakan ibadah puasa Ramadlan sebulan penuh, kaum muslimin muslimat, tua muda, kaya maupun yang miskin, pada merayakan Idul Fitri.” Kimin berusaha memadukan logika dan fakta dalam menjawab pertanyaan Kiman yang bernada minor tersebut.

“Kamu kok ikut merayakan Idul Fitri, memangnya Kamu juga berpuasa selayaknya umat Islam yang lain?”

“Ya, iya lah... Masa tidak berpuasa, tidak tarawih kok ikut berhari raya?!” Jawab Kimin meyakinkan lawan bicara.

“Ramadlan tahun kemarin aku lihat dengan mata kepala sendiri, Kimar, Kimur, dan Kimir, tidak berpuasa satu hari pun, apalagi tarawih. Mereka kok menggelar acara perayaan Idul Fitri begitu meriahnya?!”

Kiman coba menggali korelasi logis antara pelaksanaan ibadah puasa dengan perayaan Idul Fitri, sambil mencari jawaban atas pertanyaan yang sudah lama terpendam tentang boleh tidaknya orang yang tidak berpuasa ikut merayakan Idul Fitri.

“Ya terserah mereka?!” jawab Kimin bernada ringan. Jawaban Kimin yang singkat langsung ditimpal dengan pertanyaan bernada sewot bercampur penasaran.

“Lo, kok terserah mereka. Memangnya boleh....”

“Memangnya ada yang melarang!” bantah Kimin sinis.

Dialog yang mulai berakselerasi itu sontak terhenti oleh suara Ketua Panitia perayaan Idul Fitri yang memberitahukan bahwa musyawarah siap dimulai. Tanpa kata penutup, Kimin dan Kiman langsung meluruskan posisi duduk menghadap majelis, yang bergeser agak serong terbawa arus dialog.

Ketua Panitia bersama Sekretaris duduk berdampingan beberapa jengkal sebelah timur ruang imam dalam mushala. Setelah pembukaan dengan hadrah fatihah yang dipandu oleh Sekretaris merangkap MC, Ketua Panitia dipersilakan memimpin jalannya musyawarah untuk membahas segala sesuatu sekait persiapan takbiran dan persiapan lebaran bersama.

Ketua Panitia selaku pimpinan musyawarah memegang microphon memandu jalannya musyawarah. Selama musyawarah berlangsung, pimpinan dengan sabar dan penuh perhatian mendengar usulan dan pandangan seluruh peserta. Setelah semua masalah dibahas, pimpinan menanyakan kepada peserta.

“Bagaimana, sudah cukup pembahasan malam ini?” serentak peserta menjawab “Cukuup.” Dan Sekretaris pun segera membacakan keputusan musyawarah.

 “Sebelum acara ditutup,” demikian sekretaris mengawali pembacaan keputusan, “akan saya bacakan keputusan musyawarah malam ini sebagai berikut:

Satu, pelaksanaan takbiran menunggu penetapan Hari Raya dari Pemerintah.

Dua, seluruh peserta musyawarah malam ini dimohon hadir di mushala besuk pagi untuk persiapan pelaksanaan takbiran.

Tiga, lebaran bersama dilaksanakan tanggal 7 Syawal bertempat di mushala Al-Huda.”

Selesai membacakan keputusan, MC langsung menutup musyawarah, “Mari musyawarah kita tutup dengan membaca hamdalah bersama”, peserta pun serentak mengucap “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin”.

 

Penulis adalah guru Mapel Bahasa Indonesia MTs N 1 Pati.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman