Oleh Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Awal tahun
2020 dunia digemparkan oleh penyebaran virus Corona ke berbagai penjuru dunia.
Virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan Tiongkok pada Desember 2019 ini memiliki daya serang lebih ganas dari
pendahulunya. Corona merangkum sifat virus H5N1/Flu Burung (China, 1997) yang
mudah menyebar, SARS (China, 2003) yang menempel pada organ pernafasan, dan
MERS (Saudi Arabia, 2012) yang sangat mematikan. Pikiranku yang naif pun
bertanya-tanya: Kemanakah virus pendahulunya kok tidak lagi ada beritannya ya?!
Corona kok lebih canggih, apa dia belajar dari seniornya dan
berteknologi seperti manusia yang selalu berusaha meningkatkan
kompetensinya ya?!
Atas
kegemparan itu, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan,
media daring maupun luring disibukkan meng-update informasi
si virus dan korbannya. Tagline ‘Bersatu melawan Corona’ selalu ditayang dan
dikumandang. Seluruh komponen masyarakat dan pemerintah dari berbagai lini bahu
membahu mengerahkan seluruh kemampuan melawan virus mematikan ini. Belum lagi
kesibukan dan perjuangan tenaga medis yang menangani pasien suspect maupun
positif terinfeksi, mulai dari menahan rindu bertemu keluarga demi memegangi
sumpah jabatan, dilarang pulang ibu indekost karena takut tertular, hingga
bertaruh nyawa dan ‘tumbang’ oleh virus itu sendiri.
Dalam tempo tiga bulanan Corona telah menyebar di
lebih 200 negara. Atmosfir sosial nasional maupun internasional terasa demikian
mencekam sebagaimana ditunjukkan Lockdownnya beberapa negara.
Pemerintah yang semula menghimbau dan berlanjut pemberian dispensasi kepada
Pemerintah Daerah melakukan karantina wilayah, aktifitas perkuliahan dan
perkantoran yang dikerjakan dari rumah, pembelajaran online siswa di
rumah selama 2 pekan dan diperpanjang beberapa kali, santri dipulangkan secara
massal, penerapan social distanci, rapid test di tempat-tempat
transit banyak orang, keharusan melapor ke RT/RW bagi pendatang atau perantau,
aparat keamanan yang menswiping kerumunan massa, himbauan mengkansel pelaksanaan
shalat jum’at, melarang gelaran acara berkumpulnya banyak orang semisal resepsi
pernikahan, rapat, tahlilan, yasinan, hingga prosesi pemakaman, penundaan acara
besar internasional semisal Konferensi G20, Olimpiade Tokyo 2020, dan even lain
sejenis, hingga ritual sosial mudik bareng Idul Fitri yang biasa digelar
pemerintah dan perusahaan ditiadakan pada tahun pandemi kali ini.
Di tengah ketakutan massal demikian imbauan yang
bernuansa larangan dari pemerintah kepada masyarakat agar tidak melaksanakan
shalat Jum’at selama pandemi menimbulkan prokontra. Sebagian berpendapat,
imbauan tersebut tidak cukup alasan, merujuk zaman Rasulullah yang tetap
melaksanakan shalat Jum’at dalam situasi darurat perang. Yang lain berargumen,
perang zaman Rasulullah musuhnya kasat mata, sedangkan virus sebaliknya
sehingga imbauan pemerintah patut diikuti demi menjaga resiko yang lebih besar.
Respon masyarakat pun beragam, ada yang benar-benar meniadakan penyelenggaraan
shalat Jum’at, ada yang tetap melaksanakan dengan menerapkan protokol yang
berlaku.
Ada spekulasi Corona muncul akibat kebocoran
Laboratorium Biokimia, sejenis senjata microbiologi untuk memenangkan
peperangan global, strategi bisnis penjualan peralatan kesehatan berikut obat
penawarnya, senjata bikinan agen yahudi untuk melenyapkan populasi umat manusia
yang saat ini berkisar 7, 5 milyar lebih yang ditarget tinggal 500 juta-an
saja. Ada juga spekulasi bahwa Corona sejenis jin jahat atau syetan yang
kerjaannya memang mengganggu dan menyesatkan akidah, tentara Allah yang dikirim
ke bumi untuk melenyapkan manusia yang durhaka kepada-Nya. Wallahu’alam.
Apa dan bagaimanapun respon manusia, kemunculan virus
ini pasti atas kehendak dan skenario Dzat Yang Maha Segalanya. Bahwa ada tujuan
dan hikmah di balik kejadian ini, pasti. tergantung dari sudut mana
memandangnya sepanjang tidak terjebak di permukaan kehebohan ini.
Bahwa
makhluk yang diciptakan Yang Maha Pencipta itu berpasang-pasangan, tak terbantahkan. Bahwa setiap penciptaan itu bertujuan dan
berhikmah, haqqul yaqin benar. Ayat-ayat Qauliyah maupun Kauniyah banyak
menerangkan, menjelaskan, dan membuktikan dengan bukti-bukti kelewat nyata.
Dibilang kelewat nyata, penerangan, penjelasan dan pembuktian itu amat sangat
terlalu banyak. Tidak sekedar di depan mata, di hadapan, di luar diri yang
bermili, centi, puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan dan milyaran Km,
melainkan ada dalam setiap diri. Lebih dari dipikirkan – yang kadang berjarak –
bukti-bukti itu sangat dapat dirasakan kenyataan dan kebenarannya.
Hidup–mati, sehat–sakit, suka-duka, sukses-gagal,
setiap manusia pasti mengalaminya. Hidup itu kemungkinan, mati itu kepastian.
Sehat itu pilihan, sakit itu tak terhindarkan. Suka itu pemberian, duka itu
pasangannya. Sukses itu harapan gagal adalah sebentuk ujian. Semua tak
terhindarkan dalam kehidupan, karenanya jika ada pikiran dan pilihan memeluk
yang satu dan membuang yang lain, adalah pemerkosaan yang menghabiskan energi
dan pasti membuahkan penderitaan da kegagalan.
Sehat-sakit, suka-duka, sukses-gagal dengan tertib
mengkuti skenario semesta mengampiri hidup setiap manusia. Ada yang berhasil
ada pula yang gagal paham menjalani dan menerimanya. Tidak sedikit yang ketika
sehat lupa sakit, waktu sakit tidak ingat ketika sehat. Ada yang sukanya
berburu suka, maunya terhindar duka selamanya. Ada yang bernafsu mengejar
sukses tanpa antisipasi dan kesediaan menerima kegagalan. Maunya kehidupan
menuruti semua maunya tanpa mau mengikuti dan menerima skenario
kehidupan: karepe kabeh keturutan, sak njaluke kabeh
sinembadan. Mana ada?!
Ketika sakit, perasaannya merasakan sakit tapi
pikirannya memikirkan sehat. Dipikirnya sehat itu datang serta merta dan
maunya, sakit pergi seketika. Bahwa ketika sakit mau dan perlu sehat, ya.
Namun, kenapa ketika sehat yang datang begitu menikmati bahkan hingga lupa
kepada Yang Maha Pemberi sementara ketika sakit yang berkunjung maunya
melarikan diri? Bukankan yang demikian itu sebentuk ketidakadilan terhadap
kehidupan? Bukankah setiap ketidakadilan membuahkan penderitaan?
Sakit lebih berbaju cobaan berkostum ujian ketimbang
dipandang sebagai adzab. Cobaan diberikan untuk mengukur semenerima apa atas
kehendak-Nya sementara ujian sebagai proses menaikkan peringkat hamba-Nya.
Cobaan sakit misalnya, tidak hanya diberikan kepada pasien, tapi juga keluarga,
tetangga atau kolega yang membesuk. Diantara pembesuk ada yang mengenakan kaca
mata kuda. Mereka pikir yang diberi cobaan ketika sedang besuk hanya pasiennya.
Tidak terpikir jika dirinya juga sedang diberi ujian dengan materi berbeda.
Kesadaran minimal seperti ini membentuk niat besuk sebatas untuk menunjukkan
simpati, malah kadang karena gengsi. Nek ora tilek kok sungkan aku, demikian
kira-kira kata hatinya. Membesuk sekedar untuk membaikkan komunikasi dan
interaksi bersaudara, bertetangga atau berkolega. Setingkat di atas kesadaran
minimal ini ada pemahaman bahwa antara antara pasien dan pembesuk sama-sama
sedang menjalani cobaan dan ujian dari-Nya. Pada ‘makam’ ini, kegiatan besuk
selain penanda simpati sekaligus empati, akan membuahkan kebersihan, kesehatan
dan ketersambungan hati dengan pencipta dan pemiliknya.
Sakit merupakan satu dari sekian banyak media yang
digunakan Allah untuk berkomunikasi dan berdekatan dengan hamba dan
kekasih-Nya. Dalam konteks inilah Bapak KH. Nur Yahya menasehati agar dalam
membesuk keluarga atau kolega yang sedang sakit, pembesuknya lah yang ‘minta’
didoakan. Ya, semacam menggunakan pendekatan kulusif lah?!
Sekurang-kurangnya, minta didoakan lebih dulu, baru mendoakan. Salah kaprah
yang terjadi sebaliknya. Niat membesuk baik dan benar hanya Standar
Operasional Prosedure-nya yang perlu lebih rigit implementasinya.
Pekalongan (28032020).
