KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Minggu, 17 Mei 2020

Corona

Oleh Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)


Awal tahun 2020 dunia digemparkan oleh penyebaran virus Corona ke berbagai penjuru dunia. Virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan Tiongkok pada Desember 2019 ini memiliki daya serang lebih ganas dari pendahulunya. Corona merangkum sifat virus H5N1/Flu Burung (China, 1997) yang mudah menyebar, SARS (China, 2003) yang menempel pada organ pernafasan, dan MERS (Saudi Arabia, 2012) yang sangat mematikan. Pikiranku yang naif pun bertanya-tanya: Kemanakah virus pendahulunya kok tidak lagi ada beritannya ya?! Corona kok lebih canggih, apa dia belajar dari seniornya dan berteknologi  seperti manusia yang selalu berusaha meningkatkan kompetensinya ya?!

Atas kegemparan itu, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, media daring maupun luring disibukkan meng-update informasi si virus dan korbannya. Tagline ‘Bersatu melawan Corona’ selalu ditayang dan dikumandang. Seluruh komponen masyarakat dan pemerintah dari berbagai lini bahu membahu mengerahkan seluruh kemampuan melawan virus mematikan ini. Belum lagi kesibukan dan perjuangan tenaga medis yang menangani pasien suspect maupun positif terinfeksi, mulai dari menahan rindu bertemu keluarga demi memegangi sumpah jabatan, dilarang pulang ibu indekost karena takut tertular, hingga bertaruh nyawa dan ‘tumbang’ oleh virus itu sendiri.

Dalam tempo tiga bulanan Corona telah menyebar di lebih 200 negara. Atmosfir sosial nasional maupun internasional terasa demikian mencekam sebagaimana ditunjukkan Lockdownnya beberapa negara. Pemerintah yang semula menghimbau dan berlanjut pemberian dispensasi kepada Pemerintah Daerah melakukan karantina wilayah, aktifitas perkuliahan dan perkantoran yang dikerjakan dari rumah,  pembelajaran online siswa di rumah selama 2 pekan dan diperpanjang beberapa kali, santri dipulangkan secara massal, penerapan social distanci, rapid test di tempat-tempat transit banyak orang, keharusan melapor ke RT/RW bagi pendatang atau perantau, aparat keamanan yang menswiping kerumunan massa, himbauan mengkansel pelaksanaan shalat jum’at, melarang gelaran acara berkumpulnya banyak orang semisal resepsi pernikahan, rapat, tahlilan, yasinan, hingga prosesi pemakaman, penundaan acara besar internasional semisal Konferensi G20, Olimpiade Tokyo 2020, dan even lain sejenis, hingga ritual sosial mudik bareng Idul Fitri yang biasa digelar pemerintah dan perusahaan ditiadakan pada tahun pandemi kali ini.

Di tengah ketakutan massal demikian imbauan yang bernuansa larangan dari pemerintah kepada masyarakat agar tidak melaksanakan shalat Jum’at selama pandemi menimbulkan prokontra. Sebagian berpendapat, imbauan tersebut tidak cukup alasan, merujuk zaman Rasulullah yang tetap melaksanakan shalat Jum’at dalam situasi darurat perang. Yang lain berargumen, perang zaman Rasulullah musuhnya kasat mata, sedangkan virus sebaliknya sehingga imbauan pemerintah patut diikuti demi menjaga resiko yang lebih besar. Respon masyarakat pun beragam, ada yang benar-benar meniadakan penyelenggaraan shalat Jum’at, ada yang tetap melaksanakan dengan menerapkan protokol yang berlaku.

Ada spekulasi Corona muncul akibat kebocoran Laboratorium Biokimia, sejenis senjata microbiologi untuk memenangkan peperangan global, strategi bisnis penjualan peralatan kesehatan berikut obat penawarnya, senjata bikinan agen yahudi untuk melenyapkan populasi umat manusia yang saat ini berkisar 7, 5 milyar lebih yang ditarget tinggal 500 juta-an saja. Ada juga spekulasi bahwa Corona sejenis jin jahat atau syetan yang kerjaannya memang mengganggu dan menyesatkan akidah, tentara Allah yang dikirim ke bumi untuk melenyapkan manusia yang durhaka kepada-Nya. Wallahu’alam.

Apa dan bagaimanapun respon manusia, kemunculan virus ini pasti atas kehendak dan skenario Dzat Yang Maha Segalanya. Bahwa ada tujuan dan hikmah di balik kejadian ini, pasti. tergantung dari sudut mana memandangnya sepanjang tidak terjebak di permukaan kehebohan ini.

Bahwa makhluk yang diciptakan Yang Maha Pencipta itu berpasang-pasangan, tak terbantahkan. Bahwa setiap penciptaan itu bertujuan dan berhikmah, haqqul yaqin benar. Ayat-ayat Qauliyah maupun Kauniyah banyak menerangkan, menjelaskan, dan membuktikan dengan bukti-bukti kelewat nyata. Dibilang kelewat nyata, penerangan, penjelasan dan pembuktian itu amat sangat terlalu banyak. Tidak sekedar di depan mata, di hadapan, di luar diri yang bermili, centi, puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan dan milyaran Km, melainkan ada dalam setiap diri. Lebih dari dipikirkan – yang kadang berjarak – bukti-bukti itu sangat dapat dirasakan kenyataan dan kebenarannya.

Hidup–mati, sehat–sakit, suka-duka, sukses-gagal, setiap manusia pasti mengalaminya. Hidup itu kemungkinan, mati itu kepastian. Sehat itu pilihan, sakit itu tak terhindarkan. Suka itu pemberian, duka itu pasangannya. Sukses itu harapan gagal adalah sebentuk ujian. Semua tak terhindarkan dalam kehidupan, karenanya jika ada pikiran dan pilihan memeluk yang satu dan membuang yang lain, adalah pemerkosaan yang menghabiskan energi dan pasti membuahkan penderitaan da kegagalan.

Sehat-sakit, suka-duka, sukses-gagal dengan tertib mengkuti skenario semesta mengampiri hidup setiap manusia. Ada yang berhasil ada pula yang gagal paham menjalani dan menerimanya. Tidak sedikit yang ketika sehat lupa sakit, waktu sakit tidak ingat ketika sehat. Ada yang sukanya berburu suka, maunya terhindar duka selamanya. Ada yang bernafsu mengejar sukses tanpa antisipasi dan kesediaan menerima kegagalan. Maunya kehidupan menuruti semua maunya tanpa mau mengikuti dan menerima skenario kehidupan: karepe kabeh keturutansak njaluke kabeh sinembadan. Mana ada?!

Ketika sakit, perasaannya merasakan sakit tapi pikirannya memikirkan sehat. Dipikirnya sehat itu datang serta merta dan maunya, sakit pergi seketika. Bahwa ketika sakit mau dan perlu sehat, ya. Namun, kenapa ketika sehat yang datang begitu menikmati bahkan hingga lupa kepada Yang Maha Pemberi sementara ketika sakit yang berkunjung maunya melarikan diri? Bukankan yang demikian itu sebentuk ketidakadilan terhadap kehidupan? Bukankah setiap ketidakadilan membuahkan penderitaan?

Sakit lebih berbaju cobaan berkostum ujian ketimbang dipandang sebagai adzab. Cobaan diberikan untuk mengukur semenerima apa atas kehendak-Nya sementara ujian sebagai proses menaikkan peringkat hamba-Nya. Cobaan sakit misalnya, tidak hanya diberikan kepada pasien, tapi juga keluarga, tetangga atau kolega yang membesuk. Diantara pembesuk ada yang mengenakan kaca mata kuda. Mereka pikir yang diberi cobaan ketika sedang besuk hanya pasiennya. Tidak terpikir jika dirinya juga sedang diberi ujian dengan materi berbeda. Kesadaran minimal seperti ini membentuk niat besuk sebatas untuk menunjukkan simpati, malah kadang karena gengsi. Nek ora tilek kok sungkan aku, demikian kira-kira kata hatinya. Membesuk sekedar untuk membaikkan komunikasi dan interaksi bersaudara, bertetangga atau berkolega. Setingkat di atas kesadaran minimal ini ada pemahaman bahwa antara antara pasien dan pembesuk sama-sama sedang menjalani cobaan dan ujian dari-Nya. Pada ‘makam’ ini, kegiatan besuk selain penanda simpati sekaligus empati, akan membuahkan kebersihan, kesehatan dan ketersambungan hati dengan pencipta dan pemiliknya.

Sakit merupakan satu dari sekian banyak media yang digunakan Allah untuk berkomunikasi dan berdekatan dengan hamba dan kekasih-Nya. Dalam konteks inilah Bapak KH. Nur Yahya menasehati agar dalam membesuk keluarga atau kolega yang sedang sakit, pembesuknya lah yang ‘minta’ didoakan. Ya, semacam menggunakan pendekatan kulusif lah?! Sekurang-kurangnya, minta didoakan lebih dulu, baru mendoakan. Salah kaprah yang terjadi sebaliknya. Niat membesuk baik dan benar hanya Standar Operasional Prosedure-nya yang perlu lebih rigit implementasinya. 

Pekalongan (28032020).

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman