KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Minggu, 17 Mei 2020

Berdiaspora Demi Meraih Cita-Cita: Tafsir Tarbawi Surat Al-Kahfi Ayat 16


Oleh Dr. Muslich Taman, M.Pd.I.

(Pendidik di Kemendikbud & Pemerhati Sosial Keagamaan di Rumah Baca Anak Indonesia)


Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 16:

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرفَقًا

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat untuk berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu.”

 Sayyid Quthub menjelaskan terkait arti ayat di atas, dengan mengatakan, Di sini terungkap keajaiban dalam hati orang yang beriman. Bahwa Ashabul Kahfi adalah para pemuda yang berhijrah untuk mengasingkan diri dari keburukan kaumnya, meninggalkan rumah-rumah mereka, dan berpisah dengan keluarga mereka. Mereka rela melepaskan kenikmatan dan perhiasan dunia, serta kesenangan hidup sementara. Mereka setelah berusaha maksimal mengajak pemimpinnya yang zhalim dan kaumnya agar beriman, namun semua menolak bahkan mengancamnya, maka para pemuda Ashabul Kahfi rela lari ke gua yang sempit, tajam, kasar, dan gelap. Mereka mencari tempat perlindungan dan rahmat Allah, yang teduh dan luas.”[1]

 Asy-Sya`rawi menambahkan terkait makna ayat di atas dengan mengatakan, “Terjadilah percakapan di antara para pemuda Ashabul Kahfi, ‘Selama kita memisahkan diri dari para pengikut kekafiran (raja Dikyanus dan kaumnya) dan tidak mengikuti jalan hidup mereka, serta kita menempuh jalan keimanan kepada Allah, maka Allah akan memudahkan segala urusan kita. Maka marilah kita mencari tempat berlindung ke dalam gua untuk menyelamatkan agama kita dari fitnah kaum kita.”[2]

Meninggalkan keluarga dan kampung halaman dengan segala fasilitas yang ada, adalah pilihan sangat berat dan penuh risiko. Apalagi, tempat yang dituju pun tidak menjanjikan fasilitas apa pun, kecuali hanya bermodal optimisme dan harapan akan pahala dan ridha Allah. 

Tetapi, yang demikian itu tidak boleh menjadi penghalang bagi para penuntut ilmu, da`i, dan pejuang di jalan Allah, untuk memperjuangkan agamanya dan apa yang menjadi cita-cita mulia hidupnya. Sebagaimana kisah indah yang dicontohkan sahabat Rasul yang bernama Shuhaib.

Tatkala Shuhaib hendak hijrah ke Madinah, orang-orang kafir Qurays berkata kepadanya, “Dulu engkau datang kepada kami dalam keadaan hina dan melarat. Setelah hidup dengan kami, harta bendamu melimpah ruah, dan engkau berhasil mendapatkan apa yang telah engkau dapatkan. Apakah kini engkau hendak hijrah (pergi) begitu saja, dengan memboyong hartamu? Demi Allah, itu tidak akan mungkin bisa kamu lakukan!” Lalu Syuhaib pun berkata, “Bagaimana menurut pendapat kalian, jika seluruh harta bendaku, kuserahkan kepada kalian, apakah kalian akan membiarkan aku hijrah (pergi)?” “Baiklah, itulah yang kami inginkan” kata mereka. Tatkala Rasulullah mendengar apa yang dikatakan Syuhaib, bahwa ia rela meninggalkan seluruh harta kekayaan yang dimiliki, demi hijrah untuk mendukung misi dakwah, demi menyongsong masa depan Islam, maka Rasul bersabda, “Shuhaib beruntung. Shuhaib beruntung.[3]    

Allahu Akbar. Bumi Allah amat luas, kasih sayang-Nya ada di manapun, dan karunia-Nya terhampar bagi setiap hamba yang berjuang di jalan-Nya. Di mana kaki manusia berpijak, di situ ada Dia, dan ada segala apa yang diminta hamba-Nya. Yakinlah dengan itu. Tidak ada alasan bagi para aktivis, da`i, dan pejuang di jalan Allah tatkala menghadapi tantangan dan ujian dakwah di tempatnya, kesulitan dan rintangan untuk meraih masa depannya, lalu dia memilih berdiam diri dan menyerah di kampung halaman. Apalagi kemudian menengadahkan tangan berharap uluran tangan orang, atau hidup mengandalkan harta warisan. Bukan karakter pejuang, orang yang lebih memilih takluk dengan tantangan dan kompromi dengan situasi tidak mudah yang dihadapi, daripada harus berkorban demi cita-citanya yang mulia dan idealismenya yang tinggi.

Seorang aktivis, da`i, dan pejuang harus berani menghadapi resiko apapun demi cita-cita perjuangannya, meski harus meninggalkan tanah kelahiran dan berpisah dengan orang-orang yang dicintainya. Begitulah, Rasulullah mengajarkan dan memberikan contoh kepada umatnya,[4] agar siap berhijrah, kapan pun dan ke mana pun, tatkala menghadapi rintangan dan hadangan di tempat dakwahnya, juga hal tersebut dicontohkan oleh para sahabat beliau. Orang beriman tidak boleh menyerah. Orang beriman tidak boleh kalah dengan rintangan.

Sejarah mencatat, banyak orang-orang yang mulia dalam hidupnya adalah mereka yang sanggup berjuang dan berkorban. Termasuk mereka yang berani meninggalkan kampung halaman, bahkan negaranya, meninggalkan segala bentuk kenyamanan dan fasilitas hidup yang telah ada, demi untuk berhijrah mengejar cita-citanya, menyebarkan kebajikan dan meraih kesuksesan.

Bahkan manusia pertama, Nabi Adam dikisahkan, sewaktu dikeluarkan dari surga pascaterjadinya peristiwa pohoh khuldi, ia berada di India sedangkan Siti Hawa berada di Jedah,[5] lalu Adam berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya, hingga akhirnya bertemu kembali dengan Siti Hawa. Andaikan saja, Nabi Adam tidak beranjak dari tempat di mana ia diturunkan kala itu, tidak mau bergerak dan berikhtiar meninggalkan tempatnya, nihil akan ketemu istrinya, dan jika itu terjadi, sejarah perkembangan umat manusia akan lain kisahnya.

Bapak para nabi, atau Ibrahim Alaihissalam, adalah rasul yang kisahnya diliputi dengan hijrah dari Palestina ke Makkah, perjalanan yang melelahkan karena saat itu belum ada moda transportasi, atau alat komunikasi, sebagaimana zaman sekarang ini. Normalnya, perjalanan dengan kafilah onta paling cepat memakan waktu kira-kira sebulan. Ibrahim dan istrinya Siti Hajar, serta anak balitanya Isma`il, bersama-sama mengarungi panasnya terik matahari di gurun pasir, serta dinginnya malam demi sebuah hijrah, untuk menaklukkan rintangan, hijrah yang berlandaskan wahyu ilahi. Keduanya lalu ditinggalkan Ibrahim di sebuah padang pasir yang sepi, sunyi, dan tak berpenghuni.[6]

Nabi Ibrahim adalah nabi yang kaya teladan. Hidupnya penuh ujian dan perjuangan menaklukkan rintangan, dan berakhir dengan kesuksesan serta kemuliaan. Allah uji dirinya melalui seluruh sisi kehidupannya. Melalui kekufuran ayahnya, kecemburuan istrinya, perintah disembelih anaknya, dan juga kemarahan kaumnya yang tega membakar dirinya. Dan, beliau berhasil menghadapi seluruh ujian itu semua. 

Nabi Musa, yang akrab dengan kisah-kisah petualangannya dalam Kitab samawi, seperti Taurat, Injil, dan Al-Qur`an menarik untuk diangkat kisahnya. Bayi Musa tergolong bayi yang kurang beruntung. Karena di saat kelahirannya ada ketetapan dari raja untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari keturunan Bani Israil. Gara-gara itulah, sejak awal kelahirannya ia pun harus menjalani takdir menjadi seorang petualang. Ia harus pergi meninggalkan ibunya, dengan cara dimasukkan dalam keranjang dari papirus, lalu dihanyutkan ke sungai Nil.[7] Bundanya berharap agar ia selamat dari genosida massal bayi, yang sedang dilakukan oleh sang pemimpin zhalim, Fir`aun dengan bala tentaranya. Nabi Musa adalah prototipe petualang sejati, yang sanggup dan sukses menaklukkan segala bentuk rintangan dan tantangan.

Nabi Isa juga demikian, semenjak dalam kandungan, sang ibu membawanya berhijrah meninggalkan kaumnya yang mencemoohnya karena dianggap mengandung anak zina. Allah berfirman dalam surat Maryam ayat: 16 dan  22:

“Maka ceritakanlah kisah Maryam di dalam Al-Qur`an, ketika ia menjauhkan diri dari kelurganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitul Maqdis). Maka Maryam mengandung (Isa) lalu menyisihkan diri dengan kandungannya ke suatu tempat yang jauh.”

 Maryam akhirnya berhasil melahirkan Nabi Isa Alaihissalam dengan selamat berkat perjuangan dan pengorbanan hijrahnya meninggalkan kaumnya yang terus mengolok-olok, mengintimidasi dan mengganggunya. Maryam melihat bahwa hijrah untuk menjauh dari kaum yang mencemooh dan menghina dirinya merupakan cara terbaik saat itu. Meskipun, harus meninggalkan segalanya.[8]

Nabi Muhammad, sebagai rasul akhir zaman, perjalanan hidup dan perjuangan dakwahnya tidak bisa lepas dari semangat hijrah dari satu tempat ke tempat lainnya. Kaumnya, khususnya bangsa Qurasy tidak bisa menerima ajaran dan ideologi yang dibawa sang Nabi kala itu. Walau pada hakikatnya, jati diri Rasulullah yang terkenal sebagai al-amin atau penuh amanah, dapat dipercaya, jujur, ramah, dan sangat dermawan sangat dicintai oleh kaumnya. Tetapi ajarannya yang mengakui keesaan Tuhan, tidak bersahabat dengan keyakinan kaum Quraisy ketika itu yang memiliki banyak berhala untuk disembah. Tatkala Rasulullah menaklukkan Makkah, di sekitar Ka’bah ada 360 berhala. Beliau pun menghancurkan berhala-berhala itu, hingga hancur semua tak tersisa.[9]

Melihat permusuhan orang kafir Quraisy kepada kaum muslimin makin besar, maka demi keselamatan misi dakwah, Nabi pun menginstruksikan para pengikutnya untuk hijrah, pertama ke Habasyah (Afrika), selanjutnya ia sendiri hijrah ke Tha’if, dan hijrah yang paling dikenang adalah hijrahnya umat Islam dari Makkah ke Yatsrib atau Madinah.

Berkat hijrah, tidak takluk dengan rintangan dan menyerah dengan keadaan, ajaran Rasulullah terus berlanjut, menyebar, dan diterima oleh masyarakat secara luas, baik di kalangan masyarakat Madinah maupun Makkah. Nabi kemudian memulai menata kehidupan umat dan masyarakat luas, menjadikan Madinah sebagai ibukota, dan di sana ia diangkat sebagai kepala negara dan memimpin umat selama dua belas tahun lebih serta sanggup melakukan perubahan besar dalam sejarah kehidupan manusia. Sehingga dengan begitu, Madinah benar-benar menjadi ibukota yang memancarkan cahaya kedamaian bagi seluruh umat Islam.[10]

Sejarah juga mencatat, salah seorang sahabat Nabi yang fenomenal, Salman Al-Farisi, hidupnya penuh dengan lika-liku pengembaraan dan petualangan. Ia berasal dari keluarga bangsawan, ayahnya adalah salah satu penguasa di Kerajaan Persia, dan Salman sendiri adalah putra mahkota. Di sana ia berlimpah harta benda. Ia bisa bersenang-senang melakukan apa saja sambil dikelilingi pelayan-pelayan cantik. Anehnya, semua itu ia tinggalkan, ia memilih berhijrah dari satu negara ke negara lainnya, demi mencari sebuah kebenaran, demi menemukan sumber kebahagiaan sejati. Perjalanannya melintasi satu kota ke kota lainnya memakan waktu bertahun-tahun, hingga akhirnya dia terdampar di Madinah sebagai seorang budak. Namun justru di situlah, ia menemukan kedamaian batin setelah bertemu dengan Rasulullah Muhammad SAW: ia masuk Islam, lalu dibebaskan sebagai budak lewat bantuan Nabi dan para sahabat.

Kelak, Salman tercatat sebagai sahabat Nabi yang cerdas dan menjadi arsitek perang parit (Khandaq) yang dimenangi kaum muslimin. Dikisahkan, dalam sebuah forum musyawarah yang digelar khusus Rasulullah sebelum berlangsungnya peperangan, Salman mengusulkan, “Wahai Rasulullah, dulu jika kami orang-orang Persia sedang dikepung musuh, maka kami membuat parit di sekitar kami.” Maka Rasulullah pun dengan cepat merespon masukan itu, dan setiap sepuluh orang laki-laki, diberi tugas untuk menggali parit sepanjang empat puluh hasta.[11]

Demikianlah, sesungguhnya dalam syariat hijrah dan petualangan terkandung banyak manfaat. Ia adalah amalan para nabi dan orang-orang mulia dari para pencari ilmu. Banyak ayat yang menyeru umat Islam untuk melakukan hijrah, agar kiranya dapat membuka tabir rahasia ilahi, serta belajar banyak dari ayat-ayat kauniah yang berbentuk alam. Bahkan, orang yang hijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang melimpah.

Allah berfirman pada surat An-Nisa’ ayat 100:

وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya:

“Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya sebelum sampai tujuan, sesungguhnya telah tetap pahalanya di sisi-Nya. Allah Maha Pengampun, Allah Maha Penyayang.” 

 Para tokoh pendiri bangsa ini adalah muhajir dan petualang ulung, lihatlah bagaimana Bung Hatta rela meninggalkan kampung halamannya di Sumatera Barat demi meraih cita-citanya, menuntut ilmu hingga ke Belanda, dan kembali menjadi penggerak perlawanan terhadap penjajah, dan pelopor kemajuan bangsa. Demikian pula Soekarno, ia tinggalkan kota Surabaya untuk selanjutnya tinggal dan belajar di ITB Bandung. Kelak, ia menjadi pemimpin bangsa yang di hormati dunia, dan dikenang seluruh anak bangsa untuk selamanya. Bersama Bung Hatta, Soekarno memproklamirkan berdirinya Republik Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar di muka bumi.

Terlalu banyak contoh tentang keutamaan hijrah. Yang jelas esensi hijrah adalah perubahan, kemajuan, bahkan kesuksesan hidup dunia akhirat. Para pemuda yang ingin maju dan berkembang, mengubah dan mengangkat martabat diri dan keluarganya, mereka harus siap berhijrah, bukan hanya terkait tempat, tetapi juga mental dan pola pikir. Yaitu, siap kerja keras dan meninggalkan hidup santai, siap mandiri dan tidak menjadi beban orang lain, siap terbuka dengan kritik dan tidak anti kritik, siap konsisten antara ucapan dan perbuatan, siap turun tangan dan bukan lepas tangan, siap menjadi pemberi solusi dan bukan hanya pandai mengkritisi, dan siap menjadi ahli manfaat bagi siapa saja dan di manapun juga.

Semua anak bangsa, khususnya para pemuda, harus diajak untuk bangkit dari kelalaian dan hurahura, menuju perjuangan agar menjadi pemuda tangguh, sanggup bekerja keras, tak mudah menyerah, berilmu luas, beradab mulia, dan bercita-cita tinggi.

Ada nasihat tentang pentingnya berkelanan dari sosok penutut ilmu dan pendidik sejati, Imam Asy-Syafi’i. Beliau menuliskan nasehatnya tersebut dalam untaian bait syairnya:[12]

ما في المقامِ لذي عقلٍ وذي أدبِ مِنْ رَاحَة ٍ فَدعِ الأَوْطَانَ واغْتَرِبِ

سافر تجد عوضاً عمَّن تفارقهُ وَانْصِبْ فَإنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ

إني رأيتُ وقوفَ الماء يفسدهُ إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ

والأسدُ لولا فراقُ الأرض ما افترست

والسَّهمُ لولا فراقُ القوسِ لم يُصِبِ

والشمس لو وقفت في الفلكِ دائمة ً لَمَلَّهَا النَّاسُ مِنْ عُجْمٍ وَمِنَ عَرَبِ

والتَّبْرَ كالتُّرْبَ مُلْقَىً في أَمَاكِنِهِ والعودُ في أرضه نوعً من الحطب

فإن تغرَّب هذا عزَّ مطلبهُ وإنْ تَغَرَّبَ ذَاكَ عَزَّ كالذَّهَبِ

Tidaklah sepantasnya berdiam diri di tempatnya, orang-orang berakal dan beradab, dari rehatnya dia berpisah dan dari negerinya dia mengasingkan diri.

 

Berpergianlah, akan kau temukan pengganti yang telah engkau tinggalkan,

berusahalah, sungguh kenikmatan hidup ada pada kerasnya usaha.

 

Sungguh aku melihat diamnya air merusakkannya,

bila bergerak ia jernih, bila tak mengalir maka ia tak menyehatkan.

 

Dan singa yang tak tinggalkan sarangnya takkan memangsa,

Dan panah yang tak terlepas dari busurnya takkan mengena.

 

Dan matahari yang bertetap pada peredarannya, tentu akan menjemukan manusia, baik dari ajam maupun Arab.

                                   

Dan biji emas tak ada bedanya dengan biji tanah saat tercampur di tempatnya,

kayu gaharu terserak di tanah pun serupa dengan kayu bakar.

    

Bila kau pisahkan biji emas dari tanah, maka mulia dia dan dicari,

bila kau pisahkan kayu gaharu dari kayu bakar, ia akan seharga emas murni



[1] Lihat Fi Zhilalil Qur`an (Tarjamah), jilid 8, hlm. 181.

[2] Lihat Tafsir Asy-Sya`rawi, jilid 14, hlm. 8856.

[3] Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1997, hlm. 214.

[4] Ibid, hlm. 223.

[5] Diriwayatkan As-Sudi dan Ibnu Abbas, dia mengatakan, Adam diturunkan di India, sementara Hawa di Jeddah. Kemudian Adam pergi berkelana mencari Hawa sehingga dia mendatangi Jam'an (yaitu Muzdalifah atau Al-Masy'ar). Kemudian disusul (izdalafat) oleh Hawa. Oleh karena itu, tempat tersebut disebut Muzdalifah. Al-Hafizh Ibnu Katsir Al-Qudsyi, Tafsir Al-Qur`anil Azhim, Riyadh: Maktabah Darussalam, juz 1, hlm. 188-119.

[6] Az-Zaidan, Abdul Karim, Hikmah Kisah-kisah dalam Al-Qur`an, Jakarta: Darus Sunnah, 2010, hlm. 241.

[7] Thalbah, Hisham, Ensiklopedia Mukjizat Al-Qur`an dan Hadits, Jakarta: Sapta Sentosa, 2008, juz 1, hlm. 359.

[8] Lihat Tafsir Al-Qurthubi, jilid 11, hlm.  92.

[9] Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah, cet. 19, hlm. 50.

[10] Sirah Nabawaiyah, hlm. 256.

[11] Ibid, hlm. 390.

[12]Asy-Syafii, Imam, Ma fil Maqami li Dzi Aqlin wa Dzi Adabin,http://www.adab.com/modules.php?name=Sh3er&doWhat=shqas&qid=14219,Html2/11/2016.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman