Elmou Freez
(Blogger Antikorupsi)
Idul Fitri hakekatnya adalah ekspresi dari rasa
bahagia dan suka cita yang Allah curahkan ke hati setiap manusia yang
merayakannya. Hari dimana setiap diri berada di fase nol sebagaimana di saat
jiwa kita dihadirkan di muka bumi. Curahan kebahagiaan itu termanifestasi dalam
serangkaian momen pertemuan diri dengan orang-orang tercinta baik yang masih
bisa kita temui di rumah kampung halaman, maupun yang kita temui pada pusara
persemayaman di pelataran kuburan bagi orang-orang terkasih yang terlebih
dahulu meninggalkan kita. Rasa kebahagiaan yang bersumber dari kerinduan
mendalam yang sejatinya adalah esensi cinta dan kasih sayang dari Sang Maha
Pengasih dan Maha Penyayang, Allah Azza wa Jalla.
Penyatuan jiwa dalam balutan cinta Sang Kekasih yang
menjadikan momentum Idul Fitri merupakan hari yang sangat spesial tapi juga
berasa teramat singkat. Karenanya, seringkali kita nyaris tak mampu mengukur
seberapa luas rasa syukur yang patut kita persembahkan pada Allah Azza wa Jalla
di hari yang berbahagia itu. Karena di hari itu, kita lebih khawatir kehabisan
waktu untuk saling berjabat tangan dengan keluarga, sanak saudara dekat,
kerabat jauh dan para tetangga. Dan walau pun dalam hati kecil, kita juga
teramat khawatir tak punya waktu cukup untuk bermunajat dan termenung hening
dalam dekapan sayap cinta Sang Khaliq. Seringkali, idul fitri menjadi momen
yang tampak absurd untuk dijelaskan.
Bagi sebagian banyak orang, lebaran punya sejuta
cerita. Dan puluhan juta orang rela untuk kembali ke kampung halaman sebagai
satu-satunya cara untuk menuntaskan janji primordial yang telah melekat dan
ditumbuhkan sejak dari bayi tatkala masih dalam dekapan Ibunda. Di sinilah
substansi dari mudik yang begitu melegenda, bahwa perjalanan mudik itu adalah
upaya untuk merawat akal sehat. Walau dalam fase perjalanan mudik itu dipenuhi
dengan drama dan adegan yang kadang tak masuk akal, tetapi tujuan yang telah
tertanam kuat adalah hal yang paling masuk akal dan kemudian membangkitkan
nalar sehat dengan satu dua kilasan memori yang memutar otak ke belakang,
tepatnya dalam kilasan masa lalu ketika masih kecil atau remaja. Kilasan dan
kelebatan memori itu memaksa akal kita untuk terus merenungi, membolak-balikkan
kesadaran dan berfikir, “ dimanakah aku saat itu dan dimana peranku saat ini?”
Panggilan primordial yang tertanam kuat dalam jiwa itu
kadang tercerabut dari akarnya, memberontak keras untuk menyuarakan perihal
tongkat eksistensi kemanusiaan yang seharusnya mampu termanifestasi dalam
lingkungan nyata, perihal peran dan kontribusi apa yang seharusnya bisa kita
persembahkan bagi kampung halaman, yang sekian puluh tahun merawat
kekanak-kanakan kita, menjaga keluguan dan kepolosan kita, melindungi dari
kerasnya kehidupan yang penuh badai, panas dan hujan. Kampung halaman yang
membentuk kesejatian kita selama masih dalam pengasuhan ayah-ibunda yang dengan
sabar dan tulus memberikan segalanya demi anak-anaknya. Secuil tanya soal peran
dan kontribusi nyata itu senantiasa menjadi tanda tanya yang menggelayut dalam
hati kecil..di kala kaki mulai menginjakkan ke halaman depan kampung halaman.
Di sinilah keabsurdan kedua dimulai.
Ingin rasanya meluapkan kekesalan karena pada akhirnya
peran dan kontribusi itu tak pernah hadir dalam manifestasinya yang utuh. Walau
dalam koridor yang masih tampak samar, satu hal yang mungkin bisa menjadi
penawarnya adalah senantiasa menjaga janji primordial itu tetap menyala sebagai
cahaya penerang jalan hidup, sebagai salah satu ikhtiar untuk terus bergerak,
berusaha semampunya merawat nalar sehat. Maka walaupun berada di tanah
perantauan, tetap berkomitmen melindungi kampung halaman dengan caranya
sendiri, menjaga dengan pikiran yang sehat dan cerdas, bertindak dengan asas
rasionalitas dan berani melawan apapun dan siapapun yang berusaha mengkoyak
peradaban kampung halaman.
Di akhir cerita soal lebaran 1443 ini, tepatnya di
Jawa Tengah, Kabupaten Pati Kecamatan Winong.. di kala menyusuri jalan menemui
sanak saudara dalam rangka lebaran yang telah dua tahun terlewati sudah, ada
pikiran absurd yang mengganggu di sepanjang jalan itu. Beberapa kalimat sering
terlontar, “Keren ya jalan ini sekarang udah diaspal. Padahal dulunya masih
tanah liat dan batu. Ini kayaknya karena Kepala Desa nya amanah dan cerdas
dalam mengelola dana desa.”
Atau kalimat yang lebih tengil, “Duh kenapa jalan
Gabus-Winong sekarang banyak banget rusak. Oh iya jalan Winong-Jakenan rusak
parah. Jalan Gabus-Pati juga pada rusak. Jalan Jakenan-Jaken rusaaak bingiit.
Baru kali ini jalanan antar kecamatan banyak sekali yang rusak parah. Kemana ya
Bupati atau Gubernur nya? Apa ga pernah blusukan ke sini yaa...!”
Dan di sinilah, akal sehat itu mulai dipertanyakan.
