KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Rabu, 04 Mei 2022

Lebaran 1443: Merawat Akal Sehat

 

Elmou Freez

(Blogger Antikorupsi)

 

Idul Fitri hakekatnya adalah ekspresi dari rasa bahagia dan suka cita yang Allah curahkan ke hati setiap manusia yang merayakannya. Hari dimana setiap diri berada di fase nol sebagaimana di saat jiwa kita dihadirkan di muka bumi. Curahan kebahagiaan itu termanifestasi dalam serangkaian momen pertemuan diri dengan orang-orang tercinta baik yang masih bisa kita temui di rumah kampung halaman, maupun yang kita temui pada pusara persemayaman di pelataran kuburan bagi orang-orang terkasih yang terlebih dahulu meninggalkan kita. Rasa kebahagiaan yang bersumber dari kerinduan mendalam yang sejatinya adalah esensi cinta dan kasih sayang dari Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Allah Azza wa Jalla.

Penyatuan jiwa dalam balutan cinta Sang Kekasih yang menjadikan momentum Idul Fitri merupakan hari yang sangat spesial tapi juga berasa teramat singkat. Karenanya, seringkali kita nyaris tak mampu mengukur seberapa luas rasa syukur yang patut kita persembahkan pada Allah Azza wa Jalla di hari yang berbahagia itu. Karena di hari itu, kita lebih khawatir kehabisan waktu untuk saling berjabat tangan dengan keluarga, sanak saudara dekat, kerabat jauh dan para tetangga. Dan walau pun dalam hati kecil, kita juga teramat khawatir tak punya waktu cukup untuk bermunajat dan termenung hening dalam dekapan sayap cinta Sang Khaliq. Seringkali, idul fitri menjadi momen yang tampak absurd untuk dijelaskan.

Bagi sebagian banyak orang, lebaran punya sejuta cerita. Dan puluhan juta orang rela untuk kembali ke kampung halaman sebagai satu-satunya cara untuk menuntaskan janji primordial yang telah melekat dan ditumbuhkan sejak dari bayi tatkala masih dalam dekapan Ibunda. Di sinilah substansi dari mudik yang begitu melegenda, bahwa perjalanan mudik itu adalah upaya untuk merawat akal sehat. Walau dalam fase perjalanan mudik itu dipenuhi dengan drama dan adegan yang kadang tak masuk akal, tetapi tujuan yang telah tertanam kuat adalah hal yang paling masuk akal dan kemudian membangkitkan nalar sehat dengan satu dua kilasan memori yang memutar otak ke belakang, tepatnya dalam kilasan masa lalu ketika masih kecil atau remaja. Kilasan dan kelebatan memori itu memaksa akal kita untuk terus merenungi, membolak-balikkan kesadaran dan berfikir, “ dimanakah aku saat itu dan dimana peranku saat ini?”

Panggilan primordial yang tertanam kuat dalam jiwa itu kadang tercerabut dari akarnya, memberontak keras untuk menyuarakan perihal tongkat eksistensi kemanusiaan yang seharusnya mampu termanifestasi dalam lingkungan nyata, perihal peran dan kontribusi apa yang seharusnya bisa kita persembahkan bagi kampung halaman, yang sekian puluh tahun merawat kekanak-kanakan kita, menjaga keluguan dan kepolosan kita, melindungi dari kerasnya kehidupan yang penuh badai, panas dan hujan. Kampung halaman yang membentuk kesejatian kita selama masih dalam pengasuhan ayah-ibunda yang dengan sabar dan tulus memberikan segalanya demi anak-anaknya. Secuil tanya soal peran dan kontribusi nyata itu senantiasa menjadi tanda tanya yang menggelayut dalam hati kecil..di kala kaki mulai menginjakkan ke halaman depan kampung halaman. Di sinilah keabsurdan kedua dimulai.

Ingin rasanya meluapkan kekesalan karena pada akhirnya peran dan kontribusi itu tak pernah hadir dalam manifestasinya yang utuh. Walau dalam koridor yang masih tampak samar, satu hal yang mungkin bisa menjadi penawarnya adalah senantiasa menjaga janji primordial itu tetap menyala sebagai cahaya penerang jalan hidup, sebagai salah satu ikhtiar untuk terus bergerak, berusaha semampunya merawat nalar sehat. Maka walaupun berada di tanah perantauan, tetap berkomitmen melindungi kampung halaman dengan caranya sendiri, menjaga dengan pikiran yang sehat dan cerdas, bertindak dengan asas rasionalitas dan berani melawan apapun dan siapapun yang berusaha mengkoyak peradaban kampung halaman.

Di akhir cerita soal lebaran 1443 ini, tepatnya di Jawa Tengah, Kabupaten Pati Kecamatan Winong.. di kala menyusuri jalan menemui sanak saudara dalam rangka lebaran yang telah dua tahun terlewati sudah, ada pikiran absurd yang mengganggu di sepanjang jalan itu. Beberapa kalimat sering terlontar, “Keren ya jalan ini sekarang udah diaspal. Padahal dulunya masih tanah liat dan batu. Ini kayaknya karena Kepala Desa nya amanah dan cerdas dalam mengelola dana desa.”

Atau kalimat yang lebih tengil, “Duh kenapa jalan Gabus-Winong sekarang banyak banget rusak. Oh iya jalan Winong-Jakenan rusak parah. Jalan Gabus-Pati juga pada rusak. Jalan Jakenan-Jaken rusaaak bingiit. Baru kali ini jalanan antar kecamatan banyak sekali yang rusak parah. Kemana ya Bupati atau Gubernur nya? Apa ga pernah blusukan ke sini yaa...!”

Dan di sinilah, akal sehat itu mulai dipertanyakan.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman