![]() |
| Penulis dan rombongan berfoto dengan KH. Khusen Ilyas |
Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Pengantar selisik
Pertengahan Januari 2019 serombongan kyai dan santri
asal Desa Pekalongan, Winong, Pati, bersilaturahmi ke KH. Khusen Ilyas,
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Misbar, Mojokerto. Rombongan terdiri dari KH.
Ahmad Adib Al-Arif (PP. Al Hikmah Putra), Kyai Arfaturrahman (PP. Hidayatun
Nasi’in), Kyai Hilal Jauhar (PP. Al-Hikmah Putri) dan Kyai Husain Al-Mujarod
(alumni Al-Misbar). Empat santri yang ikut adalah Bapak Abdul Kohar, Bapak
Wahono Almuis, Bapak Suparmin dan penulis. Tiba di PP. Al-Misbar sekira pukul
19.00 WIB, dan karena beliau sedang berada di luar kota baru bisa ‘sowan’ pukul
00.30 dini hari. Dengan pancaran kharisma kesufian yang lembut mendamaikan
beliau berkenan menerima kami penuh rasa kekeluargaan dan kesejukan.
Dalam dialog yang berlangsung sejam lebih, beliau
memberikan tausiah sangat dalam tentang makna hidup dan penghambaan kepada
Allah SWT. Diksi yang beliau rangkai sarat makna dan berlapis. Ada lapisan
makna berjenjang tersembunyi di balik kata yang mengemuka. Ada lapisan makna
linier dan diametral dalam satu frasa. Tausiah KH. Khusen Ilyas tersimpul dalam
kalimat beliau, “Ojo kepingin dadi opo-opo, ojo kuwatir ora dadi opo-opo!
(Jangan kepingin jadi apa-apa, jangan khawatir tidak jadi apa-apa!).
Selaku bagian
dari rombongan, penulis coba menyelisik hikmah yang terkandung dalam tausiah
tersebut. Selisik ini bukan atas nama dan bukan pula tafsir tunggal, apalagi
merasa yang paling tepat mengungkap makna di antara selisik sesama rombonggan.
Frasa pertama dan kedua diawali kata jangan: jangan
kepingin, jangan khawatir. Setiap larangan dalam syariat Islam bertujuan
mencegah kesalahan, menangkal keburukan, menolak kemadlaratan yang akan
menimpa, khususnya pihak yang menjadi obyek larangan, dan umumnya pihak
terkait. Larangan diberlakukan sama sekali bukan untuk kepentingan pembuatnya.
Seorang kyai ketika melarang santri adalah untuk kemaslahatan santri itu
sendiri. Jika pun ada sanksi, tak lebih dari keterpaksaan pemberinya. Dapat
dipastikan, seorang kyai atau guru tidak kemudian ‘puas’ setelah mengenakan sanksi
kepada santri atau muridnya.
Larangan juga sebentuk perhatian, bimbingan dan kasih
sayang pemberi pada obyeknya. Seorang kyai yang tidak lagi menaruh perhatian
dan kasih sayang kepada santri tertentu misalnya, menandakan ketidaksediaan
memberi bimbingan berdasar sejumlah alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan diksi awalan ‘jangan’ dalam tausiah tersebut, betapa perhatian dan kasih
sayang KH. Khusen Ilyas kepada kami, memberi bimbingan sekira terhindar dari risiko
menuruti keinginan dan belenggu kekhawatiran.
Menyelam di kedalaman makna
Tausiah bergenre filosofis tersebut mengandung hikmah
sangat dalam, sedalam sumur tanpa dasar. Ketika tidak ada keinginan, di sana
tidak ada kekhawatiran ataupun kekecewaan. Lenyapnya kekhawatiran dan
kekecewaan menyisakan ketulusan menerima setiap pemberian, berdekap erat
keikhlasan menapak kehidupan dan kematian.
- Jangan kepingin
Ingin, kepingin: hendak, mau, berhasrat (KBBI).
Keinginan setingkat di bawah harapan, dua tingkat di bawah kebutuhan.
Keinginan, sesuatu yang tidak harus dipenuhi karena tingkat kepentingannya
tidak mendesak. Harapan, sesuatu yang lebih kuat untuk dipenuhi tapi karena
satu dan lain hal, belum tentu harus segera terealisasi. Kebutuhan, sesuatu
yang harus terpenuhi, kalau perlu dengan cara dan syarat apa pun. Kebutuhan
yang tidak (segera) dipenuhi dipastikan berisiko langsung ataupun tidak
langsung. Permasalahannya, ada yang kesulitan memahami dan membedakan antara
keinginan dan harapan dengan kebutuhan, yang menyebabkan terjadinya disorientasi
skala prioritas pemenuhannya.
Dalam kepustakaan sufistik, keinginan adalah pendorong dan penggerak nafsu amarah, lauwamah, maupun muthmainah. Umumnya potensi dan power nafsu amarah dan lauwamah lebih besar dibanding nafsu muthmainah. Karakter nafsu amarah dan lauwamah tak pernah terpuaskan. Bahkan ketika satu dua kali dipenuhi nafsu ini makin menjadi. Mengekang dan mengendalikannya harus dilakukan sekuat daya di setiap waktu, agar beroleh keselamatan dan kemaslahatan hidup, kiranya beroleh rahman-rahim-Nya, di dunia dan kelak di akhirat. Qs. Yusuf (12) : 53.
وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِيٓۚ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞ
Artinya, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena
sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang
diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang”
Tausiah ini memberi peringatan agar berhati-hati
dengan keinginan jika tidak ingin terjerumus dalam perangkap kehidupan duniawi.
Keinginan termasuk nafsu musawwalah, yaitu nafsu yang mendorong, membujuk, dan
mengajak melakukan sesuatu yang memuaskan syahwat. Keinginan memiliki tiga
sifat: membutakan, tak terpuaskan, dan menipu.
Keinginan membutakan mata hati dan pikiran terhadap
kejelasan hukum-hukum Allah dan sunah Rasul-Nya. Keinginan menjanjikan
kenyamanan dan kenikmatan dengan mengabaikan pertimbangan benar-salah,
baik-buruk, manfaat-madlarat. Sepanjang mendatangkan kenyamanan dan kenikmatan,
keinginan ‘menuntut’ untuk dipenuhi. Ketika nurani memberi pertimbangan agar
tidak melakukan perbuatan salah, buruk dan madlarat, suara itu terdengar lirih,
powernya kalah kuat dengan bujukan keinginan. Keinginan yang makin menguat,
tidak sungkan dan tidak segan melanggar hukum Allah dan Rasul-Nya. Jika
demikian halnya, hancurlah harkat dan martabat kehambaan di depan Allah,
jatuhlah harga diri di depan sesama.
Sifat keinginan yang kedua ialah tidak pernah puas.
Suatu keinginan yang telah terpenuhi, keinginan yang lain muncul lagi,
mendorong, membujuk, dan mengajak diri mendapatkan kenyamanan dan kepuasan yang
lain. Demikian seterusnya. Karakter keinginan selalu mengejar kepuasan yang
tidak pernah terpuaskan, menjerumuskan kehidupan dalam turbolensi tak
berkesudahan, sementara kewajiban melaksanakan ibadah mahdlah maupun ghairu
mahdlah terabaikan oleh kesibukan memuaskan keinginan.
Sifat yang ketiga dari keinginan ialah menipu.
Kenyamanan, kenikmatan, dan kepuasan duniawi yang dijanjikan oleh keinginan
disamarkan dengan kebenaran, kebaikan, dan kemanfaatan untuk melegitimasi
terpenuhinya tujuan. Keinginan sangat pandai memasang jerat tipuan melalui
panca indera. Informasi dari panca indera yang tersusupi keinginan, lebih
banyak berujung penipuan. Sesuatu yang tampak indah dilihat mata, ternyata
tidak baik dan tidak bermanfaat bagi jiwa. Sesuatu yang enak di lidah, indah
terdengar telinga, nyaman di rasa, ternyata semuanya menipu jiwa. Jika demikian
halnya kerugian dunia akhiratlah yang didapat.
- Jangan khawatir
Kekhawatiran menggambarkan suasana hati dan pikiran
tidak tenang, tidak menentu, diselimuti ketidakpastian, penuh keraguan, jauh
dari keyakinan. Keadaan demikian membukakan kesempatan bagi setan dengan mudah
menyelusup ke dalam pikiran. Kondisi jiwa yang labil mudah dikendalikan setan
kemana dia mau. Dan kemana lagi kalau tidak menuju kedurhakaan dan kehancuran.
Kekhawatiran berhimpit tipis dengan suuzan, apalagi
kekhawatiran yang berlebihan. Pergeseran dari khawatir ke suuzan potensial
terjadi sangat cepat, bisa melebihi kecepatan cahaya. Kekhawatiran tertular
Covid-19 misalnya, secara tersembunyi ada seberkas kecurigaan ‘kalau-kalau’ dan
‘jangan sampai’ tertular virus ini dari orang yang belum tentu terinfeksi.
Diksi ‘jangan khawatir’ bermafhum mukhalafah ‘yakinlah sepenuh hati’. Hati dan pikiran yang bersih dari khawatir mencerminkan keikhlasan mendalam, menyisakan keyakinan kuat atas kasihsayang-Nya, menebalkan husnuzan atas kodrat dan iradat-Nya, menyempurnakan syukur atas semua anugerah-Nya. Sebuah gambaran pencapaian makam para kekasih Allah. Qs. Yunus (10) : 62-63.
أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ. ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ
Artinya, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.”
Dalam perspektif ilmu othak-athik gathuk (diotak-atik
lalu cocok), KH. Khusen Ilyas seakan sedang mengingatkan (bagi yang lupa),
menunjukkan (bagi yang belum tahu), dan menuntun (bagi yang mau) menapaki
tangga menuju makam auliaillah. Tentu saja menapak tangga ini tak semudah menapak
anak tangga loteng, apalagi tapakan imajinasi spekulatif layaknya permainan
‘ular tangga’ di kalangan anak-anak. Tidak seseorang pun yang mampu mencapainya
kecuali atas taufik, hidayah, inayah, rahmat dan ridla Allah SWT.
- Jangan kepingin jadi apa-apa
Apa-apa mencakup apa saja, termasuk tumbuhan,
binatang, setan, malaikat, manusia. Untuk menyelisik kandungan makna yang
relevan, term ‘apa-apa’ dalam frasa “jangan kepingin jadi apa-apa” coba
disubstitusikan dengan term tumbuhan, binatang, setan, atau malaikat, sehingga
menjadi jangan kepingin jadi tumbuhan,
binatang, setan, atau malaikat. Penstubtitusian ini secara hakekat maupun
realitas jelas tidak mungkin. Kalaupun ada manusia berperilaku seperti
tumbuhan, binatang, setan atau malaikat, itu berada dalam pensifatan, bukan
dalam realitas maupun hakekat.
Terma ‘apa-apa’ jika diganti dengan term ‘manusia’
sehingga menjadi jangan kepingin jadi manusia, sepintas juga sulit diterima
mengingat yang diberi tausiah adalah manusia. Tapi substitusi ini yang paling
memungkinkan, dan memang demikianlah adanya. Tinggal menafsirkan sosok
‘manusia’ yang bagaimana yang dilarang diingini.
Manusia sebagai pengganti ‘apa-apa’ dalam frasa jangan
kepingin jadi apa-apa adalah manusia dengan segala atribusinya yang buruk dan melawan
fitrahnya. Dilihat dari proses sebelumnya, semua orang, saat ini, ‘sudah jadi’
manusia. Ada yang jadi pegawai negeri, pegawai swasta, pedagang, petani,
seniman, pengarang, kyai, santri, dan seterusnya. Semua terjadi atas kodrat dan
iradat-Nya, karena rahman-rahim-Nya.
Bahwa proses ‘menjadi’ saat ini masih berlangsung; bahwa yang sudah jadi saat ini ‘akan menjadi’ yang lain di waktu selanjutnya, tak terbantahkan. Pegawai swasta ingin jadi pegawai negeri, pegawai negeri ingin menduduki jabatan lebih tinggi, pedagang ingin jadi produsen, santri ingin jadi kyai, adalah sesuatu yang manusiawi. Bahkan pada titik tertentu, menjadi keharusan dan kemuliaan. Tapi berhati-hatilah dengan keinginan itu. Jangan sampai keinginan ‘menjadi yang lain’ justru mendegradasi kebaikan dan kemuliaan saat ini. Dengan demikian interpretasi yang relevan adalah: jadilah manusia yang sebaik-baik dan sebenar-benar manusia, yaitu manusia yang hanya menghamba kepada Allah. Qs. Adz-Dzaariyaat (51) : 56.
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ
Artinya, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku.”
Ketidakinginan menjadi apa-apa menyiratkan makna
kanaah menjalani perintah dan penjauhi larangan-Nya, menerima penuh keihklasan
dan kesyukuran setiap anugerah-Nya. Sikap hidup kanaah mengantarkan kepada
keridlaan terhadap kodrat dan iradat-Nya. Sedangkan kanaah dan ridla adalah
makam terabaik bagi hamba-hamba yang dianugerahi-Nya. Qs. At-Taubah (9) :100.
وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ
Artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk
Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka
dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan
Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya
selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”
- Jangan khawatir tidak jadi apa-apa
Di balik frasa kedua “Jangan khawatir tidak jadi
apa-apa” tersimpul makna “Yakinlah pasti jadi apa-apa”. Ketika kandungan frasa
pertama telah terimplementasikan dalam hidup keseharian, proses kehidupan akan
berjalan dan mewujud tanpa kekhawatiran.
Dengan tausiah tersebut seakan-akan KH. Khusen Ilyas
bertutur: “Jangan pernah khawatir terhadap rahmat Allah. Jadilah hamba yang
sebaik-baik dan sebenar-benar hamba, abdikan seluruh hidupmu hanya untuk
menghamba kepada-Nya dengan penuh kesyukuran, kanaah, ihlas dan ridla”.
Ketika kehidupan seorang hamba telah terkondisikan
sedemikian rupa dengan istikamah, rasanya tidak ada tempat bagi rasa khawatir
bersemayam dalam hati dan pikirannya. Qs. Al-Baqarah (2) : 62.
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱلَّذِينَ هَادُواْ وَٱلنَّصَٰرَىٰ وَٱلصَّٰبِِٔينَ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ
Artinya, “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi,
orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang
benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan
menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan
tidak (pula) mereka bersedih hati”
Waba’du
Berjuta jalan Allah berikan hikmah dan rahmat kepada hamba yang dikehendaki. Ulama dan kyai adalah pewaris para Nabi, sementara santri adalah pewaris para kyai. Sekira sudah pada tempatnya ketika santri mohon ridla hanya kepada Allah, selalu mengharap syafaatnya Rasulullah, dan berwasilah pada tausiah para kyai untuk kemudahan mendapatan keduanya. Bukan tidak bisa langsung mohon kepada Allah, melainkan begitu pentingnya sanad ruhani dalam ber-tafaqquh fiddin. Sekira dikaruniai kemudahan dan keikhlasan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah, mengamalkan sunah-sunah Rasulullah, meneladani akhlakul karimah serta mengamalkan tausiahnya. Wallahua’lam.
