KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Rabu, 15 Juli 2020

Jimat Kemat

Ahmad Thoha

 (Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)

 

Mau ampuh seperti Atlas yang kuat memanggul jagad? Atau sakti mandraguna seperti Ki Ageng Sela yang bisa menangkap petir? Mungkin Anda perlu jimat, biar ampuh dan sakti mandraguna!

Dalam bahasa Jawa jimat akronim barang siji kang dirumat (barang satu yang dirawat). Wujudnya beraneka macam mulai yang berbentuk akik, keris, tumbak, merah delima, pring pethuk, gembolan, rajah, mantra, hingga yang berupa kotang antakesuma.

Agar kesaktian jimat tetap terjaga harus dirawat dan diruwat dengan cara tertentu. Ada yang rutin mengolesi minyak misik, memberinya ‘makan’ kembang telon, mengukusnya dengan menyan arab, membakar dupa, hingga menjamasnya tiap bulan Asyura. Ketika perawatan tak lagi dilakukan, tuah yang memancar dipercaya kian pudar. Kesaktiannya pergi karena pemiliknya tak hirau lagi.

Cara penggunaannya ada yang dibawa menempel pada tubuh ke manapun pergi, atau cukup ditaruh di rumah dalam ruang khusus, dan jika berupa mantra dibaca dengan cara tertentu.

Bagi yang percaya, jimat dianggap memiliki kesaktian yang mampu memberi keselamatan atau kesembuhan penggunanya. Tujuan pengguna jimat, beragam. Ada yang ingin dilancarkan rizkinya, kuat menanggung beban kehidupan, terurainya kerumitan hidup, kebal terhadap serangan lawan, terhindar dari bala dan imun terhadap penyakit, hingga tercapainya pangkat dan jabatan tertinggi. Pendek kata terkabulnya semua keinginan dengan mudah, cepat dan selamat.

Dunia perjimatan masuk ranah mistik, berujung-pangkal pada kepercayaan, atau setingkat lebih: keyakinan. Ketika seseorang nggetupuk (nyerocos) pamer kekayaan, kepintaran atau kesaktian yang dibumbui cerita kurang logis alias berbau mistik, orang yang mendengarnya menimpali sambil lalu: Percaya, kamu kok. Beda ketika misalnya, Dewa dengan Dewi yang menjalin asmara menuju pelaminan mendapat ujian cinta cukup berat, lalu Dewa bertanya kepada calon permaisurinya: “Apakah dik Dewi yakin kita mampu menghadapi ujian yang berat ini?” Dewi pun menjawab: “Aku yakin Mas, kita mampu menghadapinya asalkan tidak ada dusta diantara kita”.

Bagi mereka yang tidak percaya kepada jimat, menganggap pemilik dan pengguna jimat telah berbuat syirik karena minta pertolongan kepada selain Allah. Jangankan minta pertolongan, hanya ‘percaya’ terhadap benda yang mampu menyebabkan keselamatan atau kecelakaan makhluk sudah masuk kategori syirik. Bagi golongan ini yang wajib diyakini mampu menyelamatkan atau mencalakakan makhluk hanyalah Al Khaliq. Oleh karena itu permintaan tolong harus hanya kepada Allah. Tidak boleh kepada sesama manusia, apalagi suatu benda.

Ada cerita nyata sekait masalah ini. Sebutlah Pak Suta, di kampungnya terkenal tidak percaya kepada jimat. Dia rajin berdakwah memberantas kemusyrikan dan selalu “menyuruh” masyarakat agar hanya minta pertolongan kepada Allah. Jangan sekali-kali minta pertolongan kepada sesama manusia, apalagi kepada jimat.

Pembelaannya terhadap kemurnian tauhid demikian kuatnya, sehingga jika tahu ada orang yang menurut pandangannya menyimpang, serta merta dikatakan musyrik atau kafir. Dua kosa kata ini sedemikian seringnya disematkan kepada orang-orang yang praktik keberagamaannya tidak sejalan dengannya.

Suatu hari Pak Suta jatuh dari atap rumahnya yang mengakibatkan sebelah kakinya patah tulang. Anak-anaknya merantau di Sumatera, di rumah hanya istri yang kondisinya sakit-sakitan. Dengan terpaksa si istri disuruh minta tolong tetangga sebelah untuk mengantar berobat ke klinik terdekat. Apa jawaban tetangga yang dimintai tolong?

“Pak Suta kan selalu melarang kami minta pertolongan kepada sesama manusia, dan selalu menyuruh minta tolong kepada Allah semata. Pak Suta ya jangan melanggar larangannya sendiri dong?! Sana, minta tolong pada Allah saja!”. Wallahu a'lam.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman