Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan)
Mau ampuh seperti
Atlas yang kuat memanggul jagad? Atau sakti mandraguna seperti Ki Ageng Sela
yang bisa menangkap petir? Mungkin Anda perlu jimat, biar ampuh dan sakti
mandraguna!
Dalam bahasa
Jawa jimat akronim barang siji kang
dirumat (barang satu yang dirawat). Wujudnya beraneka macam mulai yang berbentuk
akik, keris, tumbak, merah delima, pring pethuk, gembolan, rajah, mantra,
hingga yang berupa kotang antakesuma.
Agar kesaktian jimat tetap terjaga harus dirawat dan diruwat dengan
cara tertentu. Ada yang rutin mengolesi minyak misik, memberinya ‘makan’ kembang
telon, mengukusnya dengan menyan arab, membakar dupa, hingga menjamasnya
tiap bulan Asyura. Ketika perawatan tak lagi dilakukan, tuah yang memancar
dipercaya kian pudar. Kesaktiannya pergi karena pemiliknya tak hirau lagi.
Cara penggunaannya ada yang dibawa menempel pada tubuh ke manapun
pergi, atau cukup ditaruh di rumah dalam ruang khusus, dan jika berupa mantra
dibaca dengan cara tertentu.
Bagi yang percaya, jimat dianggap memiliki kesaktian yang mampu memberi keselamatan atau
kesembuhan penggunanya. Tujuan pengguna jimat, beragam. Ada yang ingin
dilancarkan rizkinya, kuat menanggung beban kehidupan, terurainya kerumitan
hidup, kebal terhadap serangan lawan, terhindar dari bala dan imun terhadap
penyakit, hingga tercapainya pangkat dan jabatan tertinggi. Pendek kata
terkabulnya semua keinginan dengan mudah, cepat dan selamat.
Dunia perjimatan
masuk ranah mistik, berujung-pangkal pada kepercayaan, atau setingkat lebih:
keyakinan. Ketika seseorang nggetupuk (nyerocos) pamer kekayaan, kepintaran atau kesaktian yang
dibumbui cerita kurang logis alias berbau mistik, orang yang mendengarnya
menimpali sambil lalu: Percaya, kamu kok. Beda ketika misalnya, Dewa
dengan Dewi yang menjalin asmara menuju pelaminan mendapat ujian cinta cukup
berat, lalu Dewa bertanya kepada calon permaisurinya: “Apakah dik Dewi yakin
kita mampu menghadapi ujian yang berat ini?” Dewi pun menjawab: “Aku yakin Mas,
kita mampu menghadapinya asalkan tidak ada dusta diantara kita”.
Bagi mereka yang tidak percaya kepada jimat, menganggap pemilik dan
pengguna jimat telah berbuat syirik karena minta pertolongan kepada selain
Allah. Jangankan minta pertolongan, hanya ‘percaya’ terhadap benda yang mampu menyebabkan
keselamatan atau kecelakaan makhluk sudah masuk kategori syirik. Bagi golongan
ini yang wajib diyakini mampu menyelamatkan atau mencalakakan makhluk hanyalah
Al Khaliq. Oleh karena itu permintaan tolong harus hanya kepada Allah. Tidak boleh
kepada sesama manusia, apalagi suatu benda.
Ada cerita nyata sekait masalah ini. Sebutlah Pak Suta, di kampungnya
terkenal tidak percaya kepada jimat. Dia rajin berdakwah memberantas
kemusyrikan dan selalu “menyuruh” masyarakat agar hanya minta pertolongan
kepada Allah. Jangan sekali-kali minta pertolongan kepada sesama manusia,
apalagi kepada jimat.
Pembelaannya terhadap kemurnian tauhid demikian kuatnya, sehingga jika
tahu ada orang yang menurut pandangannya menyimpang, serta merta dikatakan
musyrik atau kafir. Dua kosa kata ini sedemikian seringnya disematkan kepada
orang-orang yang praktik keberagamaannya tidak sejalan dengannya.
Suatu hari Pak Suta jatuh dari atap rumahnya yang mengakibatkan sebelah
kakinya patah tulang. Anak-anaknya merantau di Sumatera, di rumah hanya istri
yang kondisinya sakit-sakitan. Dengan terpaksa si istri disuruh minta tolong
tetangga sebelah untuk mengantar berobat ke klinik terdekat. Apa jawaban tetangga
yang dimintai tolong?
“Pak Suta kan selalu melarang kami minta pertolongan kepada sesama manusia, dan selalu menyuruh minta tolong kepada Allah semata. Pak Suta ya jangan melanggar larangannya sendiri dong?! Sana, minta tolong pada Allah saja!”. Wallahu a'lam.
