Dr. H. Munjahid, M.Ag.
(Dekan Fakultas Tarbiyah IIQ An-Nur Yogyakarta)
Ada beberapa keutamaan menghafal Alquran menurut hadits Rasulullah SAW, di antaranya adalah sabda Rasulullah SAW. diriwayatkan oleh Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, serta Ibnu Hibban sebagai berikut:
تَعَلّمُوْا الْقُرْآنَ وَاقْرءُوْهُ، فَإِنّ مَثَلَ الْقُرْآنِ لِمَنْ
تَعَلّمَهُ فَقَرَأَهُ،كَمَثَلِ جَرَا بٍمَحْشُوٍّ مِشْكًا، يَفُوْحُ رِيْحُهُ
فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَمَنْ تَعَلَّمَهُ فَيَرْقُدُ- وَهُوَ فِيْ جَوْفِهِ-
فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ جَرَابٍ أَوْكِيَا عَلَى مِسْكٍ
Artinya, “Pelajarilah Alquran dan bacalah, sesungguhnya perumpamaan orang yang mempelajari Alquran dan membacanya adalah seperti tempat air penuh dengan minyak wangi misik, harumnya menyebar ke mana-mana. Barang siapa yang mempelajarinya kemudian ia tidur dan di dalam hatinya terdapat hafalan Alquran adalah seperti tempat air yang tertutup dan berisi minyak wangi misik”.
Hadits di atas dinilai oleh Tirmizi sebagai hadis
hasan. Dari hadits di atas nampak jelas keutamaan menghafal Alquran, hingga
Rasulullah saw. mengibaratkan seperi minyak misik, dengannya berarti seseorang
yang memakainya memberikan bau wangi kepada orang-orang yang ada di lingkungan
sekelilingnya. Dengan demikian orang yang menghafal Alquran diharapkan dan
hampir dapat dipastikan dapat memberikan manfaat kepada orang lain di
lingkungan.
Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW. pernah bersabda:
يَجِيْءُ صَاحِبُ الْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيامَةِ، فَيَقُوْلُ الْقُرْآنُ:
يَا رَبِّ حَلِّهِ، فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُوْلُ: يَا رَبِّ
زِدْهُ، فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُوْل: يَا رَبِّ ارْضِ عَنْهُ،
فَيَرْضَ عَنْهُ، فَيُقَالُ لَهُ: إِقْرَءْ وَارْقَ، وَيَزْدَادُ بِكُلِّ آيَةٍ
حَسَنَةً
Artinya, “Penghafal Alquran akan datang pada hari kiamat, kemudian akan berkata, ‘Wahai Tuhanku, pakaikanlah pakaian untuknya’, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan). Sesudah itu Alquran meminta kembali, ‘Wahai Tuhanku tambahkanlah! lalu orang itu dipakaikan jubah karamah. Setelah itu Alquran memohon lagi, ‘Wahai Tuhanku berilah rida dia!, kemudian Allah SWT juga meridainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga). Allah SWT menambahkan bagi setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan”.
Begitulah balasan Allah kepada Orang yang menghafal
Alquran. Dalam hadits yang lain dijelaskan bahwa cahaya penghafal Alquran nanti
di akhirat akan dapat menyentuh kedua orang tuanya yang hal ini semua
disebabkan berkah Alquran.
Buraidah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ، وَتَعَلَّمَهُ وَعَمِلَ بِهِ، أُلْبِسَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ تَاجاً مِنْ نُوْرٍ، ضَوْءُهُ مِثْلُ ضَوْءِ الشَّمْسِ، وَيُكْسَى
وَالِدُهُ حُلَّتَيْنِ، لاَ تَقُوْمُ لَهُمَا الدُّنْيَا، فَيَقُولاَنِ: بِمَا
كُسِنَا هَذَا؟ فَيُقَالُ يَأْخُذُ وَلَدَكُماَ الْقُرْآنَ
Artinya, “Siapa yang membaca Alquran, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, ‘mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab, ‘karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Alquran”.
Menghafal Alquran adalah tugas berat yang tidak dapat
diremehkan, akan tetapi memelihara dan menjaga hafalan agar hafalan tetap
melekat kuat pada ingatan seorang hafiz jauh lebih berat, karena hal ini harus
dilakukan secara rutin selama hayat masih dikandung badan. Berapa banyak orang
yang dahulu hafal Alquran dengan lanyah (lancar) luar kepala tetapi karena
perhatian dan kesempatannya untuk menjaga hafalan kurang, maka akhirnya lupa
sama sekali. Rasulullah SAW. pernah membuat suatu perumpamaan seorang yang
hafal Alquran dan tetap menjaga hafalannya seperti seorang yang memiliki seekor
unta yang diikatnya hingga onta itu tetap dalam ikatannya, sedangkan seseorang
yang hafal Alquran kemudian tidak menjaga hafalannya seperti seorang yang
memiliki seekor onta yang tidak diikatnya sehingga onta itu lepas darinya.
Melupakan hafalan Alquran merupakan sikap yang tidak
terpuji, bahkan merupakan dosa yang besar. Dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmuzi dari Anas bin Malik ra., Rasulullah saw.
pernah menyatakan bahwa beliau tidak pernah melihat dosa yang paling besar dari
dosa orang yang hafal Alquran satu surat atau satu ayat kemudian melupakannya.
Abu Daud dan al-Darimi juga pernah meriwayatkan dari
Sa’ad bin Ubadah dari Nabi saw., bahwa beliau pernah mengingatkan kepada orang
yang membaca Alquran kemudian melupakannya, maka besok pada hari kiamat ia akan
bertemu dengan Allah dalam keadaan berpenyakit kusta/lepra.
Ini semua adalah gambaran buruk bagi seorang yang menghafal Alquran kemudian melupakannya. Na’udzu billah min dzalik. Semoga kita dan keluarga kita semua dijauhkan dari melupakan Alquran. Amin x3.
