KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Senin, 06 Juli 2020

Derajat Penghafal Alquran dan Besarnya Dosa Bagi Yang Melupakannya


Dr. H. Munjahid, M.Ag.

(Dekan Fakultas Tarbiyah IIQ An-Nur Yogyakarta)

 

Ada beberapa keutamaan menghafal Alquran menurut hadits Rasulullah SAW, di antaranya adalah sabda Rasulullah SAW. diriwayatkan oleh Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, serta Ibnu Hibban sebagai berikut:

تَعَلّمُوْا الْقُرْآنَ وَاقْرءُوْهُ، فَإِنّ مَثَلَ الْقُرْآنِ لِمَنْ تَعَلّمَهُ فَقَرَأَهُ،كَمَثَلِ جَرَا بٍمَحْشُوٍّ مِشْكًا، يَفُوْحُ رِيْحُهُ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَمَنْ تَعَلَّمَهُ فَيَرْقُدُ- وَهُوَ فِيْ جَوْفِهِ- فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ جَرَابٍ أَوْكِيَا عَلَى مِسْكٍ

Artinya, “Pelajarilah Alquran dan bacalah, sesungguhnya perumpamaan orang yang mempelajari Alquran dan membacanya adalah seperti tempat air penuh dengan minyak wangi misik, harumnya menyebar ke mana-mana. Barang siapa yang mempelajarinya kemudian ia tidur dan di dalam hatinya terdapat hafalan Alquran adalah seperti tempat air yang tertutup dan berisi minyak wangi misik”.

Hadits di atas dinilai oleh Tirmizi sebagai hadis hasan. Dari hadits di atas nampak jelas keutamaan menghafal Alquran, hingga Rasulullah saw. mengibaratkan seperi minyak misik, dengannya berarti seseorang yang memakainya memberikan bau wangi kepada orang-orang yang ada di lingkungan sekelilingnya. Dengan demikian orang yang menghafal Alquran diharapkan dan hampir dapat dipastikan dapat memberikan manfaat kepada orang lain di lingkungan.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW. pernah bersabda:

يَجِيْءُ صَاحِبُ الْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيامَةِ، فَيَقُوْلُ الْقُرْآنُ: يَا رَبِّ حَلِّهِ، فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُوْلُ: يَا رَبِّ زِدْهُ، فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُوْل: يَا رَبِّ ارْضِ عَنْهُ، فَيَرْضَ عَنْهُ، فَيُقَالُ لَهُ: إِقْرَءْ وَارْقَ، وَيَزْدَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً

Artinya, “Penghafal Alquran akan datang pada hari kiamat, kemudian akan berkata, ‘Wahai Tuhanku, pakaikanlah pakaian untuknya’, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan). Sesudah itu Alquran meminta kembali, ‘Wahai Tuhanku tambahkanlah! lalu orang itu dipakaikan jubah karamah. Setelah itu Alquran memohon lagi, ‘Wahai Tuhanku berilah rida dia!, kemudian Allah SWT juga meridainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga). Allah SWT menambahkan bagi setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan”.

Begitulah balasan Allah kepada Orang yang menghafal Alquran. Dalam hadits yang lain dijelaskan bahwa cahaya penghafal Alquran nanti di akhirat akan dapat menyentuh kedua orang tuanya yang hal ini semua disebabkan berkah Alquran.

Buraidah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ، وَتَعَلَّمَهُ وَعَمِلَ بِهِ، أُلْبِسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَاجاً مِنْ نُوْرٍ، ضَوْءُهُ مِثْلُ ضَوْءِ الشَّمْسِ، وَيُكْسَى وَالِدُهُ حُلَّتَيْنِ، لاَ تَقُوْمُ لَهُمَا الدُّنْيَا، فَيَقُولاَنِ: بِمَا كُسِنَا هَذَا؟ فَيُقَالُ يَأْخُذُ وَلَدَكُماَ الْقُرْآنَ

Artinya, “Siapa yang membaca Alquran, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, ‘mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab, ‘karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Alquran”.

Menghafal Alquran adalah tugas berat yang tidak dapat diremehkan, akan tetapi memelihara dan menjaga hafalan agar hafalan tetap melekat kuat pada ingatan seorang hafiz jauh lebih berat, karena hal ini harus dilakukan secara rutin selama hayat masih dikandung badan. Berapa banyak orang yang dahulu hafal Alquran dengan lanyah (lancar) luar kepala tetapi karena perhatian dan kesempatannya untuk menjaga hafalan kurang, maka akhirnya lupa sama sekali. Rasulullah SAW. pernah membuat suatu perumpamaan seorang yang hafal Alquran dan tetap menjaga hafalannya seperti seorang yang memiliki seekor unta yang diikatnya hingga onta itu tetap dalam ikatannya, sedangkan seseorang yang hafal Alquran kemudian tidak menjaga hafalannya seperti seorang yang memiliki seekor onta yang tidak diikatnya sehingga onta itu lepas darinya.

Melupakan hafalan Alquran merupakan sikap yang tidak terpuji, bahkan merupakan dosa yang besar. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmuzi dari Anas bin Malik ra., Rasulullah saw. pernah menyatakan bahwa beliau tidak pernah melihat dosa yang paling besar dari dosa orang yang hafal Alquran satu surat atau satu ayat kemudian melupakannya.

Abu Daud dan al-Darimi juga pernah meriwayatkan dari Sa’ad bin Ubadah dari Nabi saw., bahwa beliau pernah mengingatkan kepada orang yang membaca Alquran kemudian melupakannya, maka besok pada hari kiamat ia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan berpenyakit kusta/lepra.

Ini semua adalah gambaran buruk bagi seorang yang menghafal Alquran kemudian melupakannya. Na’udzu billah min dzalik. Semoga kita dan keluarga kita semua dijauhkan dari melupakan Alquran. Amin x3.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman