Sungguh menarik membaca kisah para ulama salafus sholih, baik itu dari aspek kehidupan keseharian, keilmuan yang dikuasai ataupun derajat tinggi di sisi Allah SWT, sehingga mereka mendapatkan karomah dari Allah SWT. Namun rata-rata kaum muslimin tidak begitu banyak mengenal tokoh-tokoh salafus sholih yang terbukukan kisahnya di beberapa kitab kuning. Hal ini dimungkinkan karena kisah para salafus sholih ini tidak sembarangan bisa ditemukan dalam karya para ulama. Hanya ada beberapa karya saja yang secara khusus menuliskan kisah para auliyaillah ini.
Salah satu ulama yang penuh dengan kemuliaan dan
diagungkan adalah Saiyidisy Syaikh Abu Bakar Asy Syibili Radliyallahu Anhu. Disarikan
dari kitab Thobaqotul Kubro Lis Sya’roni dan Manakibul Auliya’ Khomsin KH.
Maftuh Basthul Birri Lirboyo, bahwa Syaikh Syibili dikaruniai umur 87 tahun,
wafat pada tahun 334 H di Baghdad. Makamnya selalu diziarahi kaum muslimin.
Beliau berguru kepada Syaikh Khoir An Nassaj, seorang
ulama agung terkenal dengan kewaliannya, lalu berguru kepada Syaikh Abu Qosim
Junaid Al Baghdadi yang sangat populer di kalangan para penganut tarekat,
seorang ulama besar sekaligus wali quthub. Imam Syibili berfiqh dengan madzhab
Maliki, ilmu haditsnya banyak, kemudian menjadi seagung-agungnya ulama pada
jamannya, yang tiada tandingannya dalam persoalan syari’at, hakikat dan juga
mujahadahnya hingga harum namanya sebagai seorang wali agung.
Dalam catatan Imam Asy Sya’roni, Syaikh Syibili ini
semula adalah seorang birokrat atau pejabat negara. Setelah bertaubat, semua
rakyatnya dikumpulkan guna meminta halal atas semua hak-hak adami dengan tanpa
rasa gengsi sama sekali. Beliau kemudian berjuang dengan penuh keikhlasan tanpa
pamrih sedikit pun. Seluruh waktu beliau habiskan untuk beribadah kepada Allah
SWT, hingga untuk mencegah rasa kantuknya, beliau tidak sekedar mengurangi
makan dan minum saja, bahkan beliau sering menggunakan garam sebagai celak.
Tertidur sedikit saja, beliau berkata, “Seorang yang tidur maka akan lupa dan
seorang yang lupa akan terhalang, tidak akan mendapat apapun. Dengan ini aku
pakaikan garam sebagai celak mataku agar pedih dan terjaga”.
Setiap bulan Ramadhan, beliau menyempurnakan ibadahnya
melebihi orang lain dan berkata, “Ini bulan yang diagungkan oleh Tuhan, maka
aku harus menjadi pemukanya orang-orang yang mengagungkannya.” Hal itu
dilakukan agar memotivasi para muridnya untuk meneladani jejaknya. Keunikan dan
keanehan beliau adalah sering pingsan, tetapi jika tiba waktunya shalat
berjamaah, beliau diberi sadar, dan setelah beliau menjalankan shalat jamaah, beliau
tidak sadar kembali.
Sepintas ucapan-ucapan beliau kelihatan sering terbalik
tetapi jika diangan-angan ternyata benar. Adalah Syaikh Ibnu Basyar, seorang
ulama fiqh pertama di masa Syaikh Syibili yang tidak membolehkan santri-santrinya
untuk mendatangi dan mendengarkan kata-kata Wali Syibili ini. Hingga suatu hari
Syaikh Ibnu Basyar ini mendatangi sendiri Imam Syibili dengan tujuan untuk
meneliti sendiri secara langsung. Beliau berkata, “Hai Syaikh, ada orang
mempunyai unta lima berapa zakatnya?” Syaikh Syibili diam saja tidak menjawab.
Setelah berkali-kali Syaikh Ibnu Basyar bertanya, baru
Syaikh Syibili menjawab, “Menurut ilmu fiqh, zakatnya kambing satu tapi kalau
menurut kita-kita ini, zakatnya adalah semuanya”. Syaikh Ibnu Basyar menimpali,
“Lho kok semuanya, apakah ada Imamnya yang diikuti?” Syaikh Syibili menjawab, “Sayidina
Abu Bakar RA, harta bendanya dikeluarkan semua, hingga Kanjeng Rasul bertanya
bagaimana dengan keluargamu nanti, dikasih makan apa. Abu Bakar menjawab, Allah
dan Rasul-Nya”.
Setelah mendapat jawaban tersebut, Syaikh Ibnu Basyar
pulang dan sejak saat itu beliau tidak pernah melarang murid-muridnya untuk
mendatangi Majlis Syaikh Syibili.
Beberapa di antara dawuh Syaikh Syibili yang fenomenal
di bidang ilmu tasawuf antara lain adalah, “keramatku adalah menyocoki semua
perintah Allah dan semua larangan-Nya”. Beliau berkata kepada ulama pada
jamannya, “Kamu semua itu kuburan, karena kamu semua telah terpendam di dalam
pakaianmu sendiri-sendiri”. Beliau juga berpesan, “Pejamkanlah matamu dari
sesuatu yang diharamkan Allah dan pejamkan mata hatimu dari apa saja selain
Allah”. Beliau menganggap bahwa bala’ itu adalah lupa dari Allah SWT. Ketika
beliau dimintai pendapat seseorang tentang pekerjaan seorang itu sebaiknya apa,
beliau berkata, ”Setiap malam bangun ambil air wudlu lalu sholat semampunya
terus ulurkan tanganmu sendiri dengan meminta langsung kepada Allah”.
Pernah juga suatu ketika ada seseorang menjerit menangis dalam Majlis Syaikh Syibili. Oleh Syaikh, orang ini dipegang dan dilempar di Sungai Dajlah lalu beliau berkata, “Kalau orang ini sungguh-sungguh pasti diselamatkan Allah sebagaimana Allah menyelamatkan Nabi Musa AS, dan jikalau orang ini bohong pasti akan ditenggelamkan Allah sebagaimana Allah menenggelamkan Fir’aun”.
Hal lain yang menarik dari sikap pribadi Syaikh Syibili
adalah ketika memiliki pakaian yang sekira dirinya merasa senang maka pakaian
itu akan dibakarnya. Suatu ketika pernah ditanya oleh seseorang, ”Kenapa tidak
disedekahkan saja kepada orang lain?” Beliau menjawab, ”Barang apa saja yang
disenangi oleh nafsu selain Allah wajib dirusak. Jika disedekahkan kepada orang
lain masih saja akan membahayakan karena barangnya wujud. Nabi Ibrahim saja
ketika turun perintah khitan, beliau tidak menunda-nunda, karena sekalipun itu
nampak sakit kalau itu perintah Allah akan lebih pedih jika ditunda-tunda”.
Dalam munajatnya beliau berbisik, “Ya Allah, makhluq-Mu
merasa senang dengan Engkau karena nikmat-nikmat-Mu. Aku senang dengan Engkau
karena bala’-Mu Ya Allah”. Suatu saat Syaikh Syibili bercengkarama
dengan kata hatinya. “Aku ini bakhil. Apa iya aku bakhil? Iya, kamu bakhil. Baiklah
jika aku punya rizki akan aku berikan kepada orang pertama yang aku temui”.
Sahdan, ada orang yang memberikan sekantong uang
kepada Syaikh dan ternyata 50 dinar, pergilah Syaikh Syibili dan orang pertama
yang ditemuinya adalah orang faqir, diberikanlah uang tersebut namun ternyata
si faqir menolaknya dan meminta agar diberikan tukang potong rambut yang ada di
sebelahnya saja. Lalu sekantong dinar itupun diberikan kepada si tukang potong
rambut, namun ternyata juga ditolak karena si potong rambut tak pernah mau
menerima upah apapun dalam melayani potong rambut, apalagi hanya diberi dengan cuma-cuma.
Akhirnya uang sebanyak itu tidak ada yang mau menerima, dan dibuanglah di Sungai
Dajlah. Tentu ini menjadi aneh bagi orang yang awam hingga beliau dianggap khoriqul
addah (orang aneh). Para murid beliau selalu dipesan, rizqi telah
ditanggung oleh Allah maka bertawakallah dan hadapkan tujuanmu hanya kepada
Allah, jangan kepada yang lain.
Demikian sepenggal kisah seorang ulama besar, wali
agung Asy Syaikh Abu Bakr Asy Syibili Radliyallahu Anhul Faatihah. Semoga kita
bisa meneladani sifat-sifat mulia dari beliau sebagai bekal menjalani kehidupan
di dunia ini.
Penulis adalah staf pengajar di Lembaga Pendidikan Diniyah di Pondok Pesantren Tarbiyatunnasyiin dan Madrasah Muallimin Muallimat 6 Tahun Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur.
