KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Selasa, 09 Juni 2020

Teladan Saiyidisy Syaikh Abu Bakar Asy Syibili RA


Amirul Arifin

Sungguh menarik membaca kisah para ulama salafus sholih, baik itu dari aspek kehidupan keseharian, keilmuan yang dikuasai ataupun derajat tinggi di sisi Allah SWT, sehingga mereka mendapatkan karomah dari Allah SWT. Namun rata-rata kaum muslimin tidak begitu banyak mengenal tokoh-tokoh salafus sholih yang terbukukan kisahnya di beberapa kitab kuning. Hal ini dimungkinkan karena kisah para salafus sholih ini tidak sembarangan bisa ditemukan dalam karya para ulama. Hanya ada beberapa karya saja yang secara khusus menuliskan kisah para auliyaillah ini.

Salah satu ulama yang penuh dengan kemuliaan dan diagungkan adalah Saiyidisy Syaikh Abu Bakar Asy Syibili Radliyallahu Anhu. Disarikan dari kitab Thobaqotul Kubro Lis Sya’roni dan Manakibul Auliya’ Khomsin KH. Maftuh Basthul Birri Lirboyo, bahwa Syaikh Syibili dikaruniai umur 87 tahun, wafat pada tahun 334 H di Baghdad. Makamnya selalu diziarahi kaum muslimin.

Beliau berguru kepada Syaikh Khoir An Nassaj, seorang ulama agung terkenal dengan kewaliannya, lalu berguru kepada Syaikh Abu Qosim Junaid Al Baghdadi yang sangat populer di kalangan para penganut tarekat, seorang ulama besar sekaligus wali quthub. Imam Syibili berfiqh dengan madzhab Maliki, ilmu haditsnya banyak, kemudian menjadi seagung-agungnya ulama pada jamannya, yang tiada tandingannya dalam persoalan syari’at, hakikat dan juga mujahadahnya hingga harum namanya sebagai seorang wali agung.

Dalam catatan Imam Asy Sya’roni, Syaikh Syibili ini semula adalah seorang birokrat atau pejabat negara. Setelah bertaubat, semua rakyatnya dikumpulkan guna meminta halal atas semua hak-hak adami dengan tanpa rasa gengsi sama sekali. Beliau kemudian berjuang dengan penuh keikhlasan tanpa pamrih sedikit pun. Seluruh waktu beliau habiskan untuk beribadah kepada Allah SWT, hingga untuk mencegah rasa kantuknya, beliau tidak sekedar mengurangi makan dan minum saja, bahkan beliau sering menggunakan garam sebagai celak. Tertidur sedikit saja, beliau berkata, “Seorang yang tidur maka akan lupa dan seorang yang lupa akan terhalang, tidak akan mendapat apapun. Dengan ini aku pakaikan garam sebagai celak mataku agar pedih dan terjaga”.

Setiap bulan Ramadhan, beliau menyempurnakan ibadahnya melebihi orang lain dan berkata, “Ini bulan yang diagungkan oleh Tuhan, maka aku harus menjadi pemukanya orang-orang yang mengagungkannya.” Hal itu dilakukan agar memotivasi para muridnya untuk meneladani jejaknya. Keunikan dan keanehan beliau adalah sering pingsan, tetapi jika tiba waktunya shalat berjamaah, beliau diberi sadar, dan setelah beliau menjalankan shalat jamaah, beliau tidak sadar kembali.

Sepintas ucapan-ucapan beliau kelihatan sering terbalik tetapi jika diangan-angan ternyata benar. Adalah Syaikh Ibnu Basyar, seorang ulama fiqh pertama di masa Syaikh Syibili yang tidak membolehkan santri-santrinya untuk mendatangi dan mendengarkan kata-kata Wali Syibili ini. Hingga suatu hari Syaikh Ibnu Basyar ini mendatangi sendiri Imam Syibili dengan tujuan untuk meneliti sendiri secara langsung. Beliau berkata, “Hai Syaikh, ada orang mempunyai unta lima berapa zakatnya?” Syaikh Syibili diam saja tidak menjawab.

Setelah berkali-kali Syaikh Ibnu Basyar bertanya, baru Syaikh Syibili menjawab, “Menurut ilmu fiqh, zakatnya kambing satu tapi kalau menurut kita-kita ini, zakatnya adalah semuanya”. Syaikh Ibnu Basyar menimpali, “Lho kok semuanya, apakah ada Imamnya yang diikuti?” Syaikh Syibili menjawab, “Sayidina Abu Bakar RA, harta bendanya dikeluarkan semua, hingga Kanjeng Rasul bertanya bagaimana dengan keluargamu nanti, dikasih makan apa. Abu Bakar menjawab, Allah dan Rasul-Nya”.

Setelah mendapat jawaban tersebut, Syaikh Ibnu Basyar pulang dan sejak saat itu beliau tidak pernah melarang murid-muridnya untuk mendatangi Majlis Syaikh Syibili.

Beberapa di antara dawuh Syaikh Syibili yang fenomenal di bidang ilmu tasawuf antara lain adalah, “keramatku adalah menyocoki semua perintah Allah dan semua larangan-Nya”. Beliau berkata kepada ulama pada jamannya, “Kamu semua itu kuburan, karena kamu semua telah terpendam di dalam pakaianmu sendiri-sendiri”. Beliau juga berpesan, “Pejamkanlah matamu dari sesuatu yang diharamkan Allah dan pejamkan mata hatimu dari apa saja selain Allah”. Beliau menganggap bahwa bala’ itu adalah lupa dari Allah SWT. Ketika beliau dimintai pendapat seseorang tentang pekerjaan seorang itu sebaiknya apa, beliau berkata, ”Setiap malam bangun ambil air wudlu lalu sholat semampunya terus ulurkan tanganmu sendiri dengan meminta langsung kepada Allah”.

Pernah juga suatu ketika ada seseorang menjerit menangis dalam Majlis Syaikh Syibili. Oleh Syaikh, orang ini dipegang dan dilempar di Sungai Dajlah lalu beliau berkata, “Kalau orang ini sungguh-sungguh pasti diselamatkan Allah sebagaimana Allah menyelamatkan Nabi Musa AS, dan jikalau orang ini bohong pasti akan ditenggelamkan Allah sebagaimana Allah menenggelamkan Fir’aun”.

Hal lain yang menarik dari sikap pribadi Syaikh Syibili adalah ketika memiliki pakaian yang sekira dirinya merasa senang maka pakaian itu akan dibakarnya. Suatu ketika pernah ditanya oleh seseorang, ”Kenapa tidak disedekahkan saja kepada orang lain?” Beliau menjawab, ”Barang apa saja yang disenangi oleh nafsu selain Allah wajib dirusak. Jika disedekahkan kepada orang lain masih saja akan membahayakan karena barangnya wujud. Nabi Ibrahim saja ketika turun perintah khitan, beliau tidak menunda-nunda, karena sekalipun itu nampak sakit kalau itu perintah Allah akan lebih pedih jika ditunda-tunda”.

Dalam munajatnya beliau berbisik, “Ya Allah, makhluq-Mu merasa senang dengan Engkau karena nikmat-nikmat-Mu. Aku senang dengan Engkau karena bala’-Mu Ya Allah”. Suatu saat Syaikh Syibili bercengkarama dengan kata hatinya. “Aku ini bakhil. Apa iya aku bakhil? Iya, kamu bakhil. Baiklah jika aku punya rizki akan aku berikan kepada orang pertama yang aku temui”.

Sahdan, ada orang yang memberikan sekantong uang kepada Syaikh dan ternyata 50 dinar, pergilah Syaikh Syibili dan orang pertama yang ditemuinya adalah orang faqir, diberikanlah uang tersebut namun ternyata si faqir menolaknya dan meminta agar diberikan tukang potong rambut yang ada di sebelahnya saja. Lalu sekantong dinar itupun diberikan kepada si tukang potong rambut, namun ternyata juga ditolak karena si potong rambut tak pernah mau menerima upah apapun dalam melayani potong rambut, apalagi hanya diberi dengan cuma-cuma. Akhirnya uang sebanyak itu tidak ada yang mau menerima, dan dibuanglah di Sungai Dajlah. Tentu ini menjadi aneh bagi orang yang awam hingga beliau dianggap khoriqul addah (orang aneh). Para murid beliau selalu dipesan, rizqi telah ditanggung oleh Allah maka bertawakallah dan hadapkan tujuanmu hanya kepada Allah, jangan kepada yang lain.

Demikian sepenggal kisah seorang ulama besar, wali agung Asy Syaikh Abu Bakr Asy Syibili Radliyallahu Anhul Faatihah. Semoga kita bisa meneladani sifat-sifat mulia dari beliau sebagai bekal menjalani kehidupan di dunia ini.

 

Penulis adalah staf pengajar di Lembaga Pendidikan Diniyah di Pondok Pesantren Tarbiyatunnasyiin dan Madrasah Muallimin Muallimat 6 Tahun Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman