KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Senin, 22 Juni 2020

Manunggaling Kawulo Gusti

Ahmad Thoha

(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan Kepemudaan) 

 

Bahasa Jawa menyebut Manusia dengan Manungso, akronim Manunggaling Rasa. Kata manunggaling rasa terbentuk dari: ma-tunggal-ing dan rasa. Tunggal atau manunggal artinya yang menjadi satu; utuh; bulat-bulat (KBBI). Ing berarti di; pada; dalam. Rasa (Jw ngoko), raos (Jw kromo) adalah rasa. Makna sederhana, berbagai rasa dalam diri manusia lebur menjadi satu dalam dimensi ‘rasa’ kemanusiaan. Dalam perspektif filsafat Jawa, rasa kemanusiaan adalah jati diri manusia yang membedakan dengan makhluk lain.

Klausa ‘menjadi satu’ memberi pengertian menyatunya dua unsur atau lebih secara utuh, bulat, tak terbagi, dan tidak dapat dipisah unsur-unsur pembentuknya setelah lebur jadi satu. TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) merujuk leburnya unsur TNI, Departemen terkait, Lembaga Pemerintah Nondepartemen, Pemerintah Daerah, Masyarakat, dan komponen bangsa lainnya dalam satu tim. Wedang Kopi adalah menyatunya unsur air, gula, dan kopi. Setelah ketiga unsur lebur jadi wedang kopi, tidak lagi dapat dipisahkan air, gula, atau kopinya.

Manusia dimaknai manunggaling rasa karena memiliki berbagai rasa yang lebur jadi satu, utuh, bulat, dan otonom. Manusia memilki rasa hidup; rasa ada, ingin, butuh, kasih sayang, adil, zalim, bahagia, menderita, sakit, sehat, kaya, miskin, terhormat, ternista, dan seterusnya. Harmoni kemanunggalan rasa memungkinkan manusia mencapai derajat Insan Kamil dalam konsep tasawuf atau sampurnaning manungso yaitu sosok manusia yang tercerahkan jati dirinya, mampu memberi kemaslahatan, dan mampu menularkan rasa bahagia kepada orang lain (Ryan, 2015 : 78).

Rasa dalam diri manusia bersifat universal dan otonom. Semua manusia memiliki rasa yang sama, namun kadarnya berbeda pada masing-masing orang. Rasa susah misalnya, semua orang memiliki tapi kadar kesusahannya tidak sama pada semua orang. Ada yang berpenghasilan Rp. 50.000,- per hari sudah merasa bahagia dan suka berbagi, sementara yang berpenghasilan Rp. 50.000.000,- per bulan, masih ada yang merasa menderita dan enggan memberi.

Seluruh rasa dalam diri manusia berdimensi horizontal dan vertikal. Dimensi horizontal membentuk tipikal orang Jawa yang dikenal lemah lembut, tidak sombong (adigang adigung adiguno), sabar penuh kehati-hatian (Alon-alon waton kelakon), sopan santun (andap asor), penuh kasih sayang (welas asih), toleran (raos sami), tidak membeda-bedakan (mban cinde mban silatdan), bekerja keras penuh keikhlasan (sepi ing pamrin rame ing gawe), mengutamakan harmoni dan kebersamaan, sekalipun tidak makan asalkan kumpul keluarga (Mangan ora mangan nek kumpul).

Dimensi vertikal tipikal orang Jawa tersimpul dalam beberapa doktrin. Terhadap kehidupan dunia berlaku doktrin Urip kuwi mung mampir ngombe yang bermakna, hidup di dunia itu teramat singkat (Suwardi, 2012: 107), jangan terjebak oleh hiruk-pikuk kehidupan duniawi yang berakibat lupa jati diri dan lupa tujuan hidup yang sejati. Untuk menghindari keterjebakan manusia hendaknya mampu melakoni urip sakjeroning mati, mati sakjeroning urip dengan menumbuhsuburkan laku kebaikan, mengekang nafsu keburukan dan kejahatan (Suwardi, 2012: 95).

Kehidupan dunia yang teramat singkat dijalani dengan laku ngudi kasampurnan (meraih kesempurnaan hidup) sebagai bekal hidup di alam kelanggengan. Doktrin ini diupayakan dengan mencurahkan cipta-rasa-karsa dalam menghayati awal dan akhir kehidupan dunia, asal dan tujuan hidup (sangkan paraning dumadi), untuk kembali ke asal penciptaan (mulih mula mulanira) (Abdullah, 1992 : 82).

Dimensi horizontal dan vertikal bermuara untuk mencapai manunggaling kawula Gusti. Meurut Abdul Munir Mulkan, konsep ini berdimensi simbolik, mistik dan politik. Kemanunggalan simbolik dimaknai nunggal karep-nya manusia dengan kehendak Tuhan. Seluruh potensi yang ada dalam diri diorientasikan untuk melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Secara mistik, diartikan penyatuan manusia-Tuhan. Dalam ranah politik dipahami bersatunya kehendak rakyat dengan kehendak penguasa, dan sebaliknya. (Abdul Munir, 2006 : 146).

Agus Musthofa memaparkan kemanunggalan semesta dalam dua buku serial Diskusi Tasawuf Modern (DTM). Menurut beliau, seluruh benda yang bertrilyun-trilyun jumlahnya, manusia yang bermilyar hitungannya, seluruh peristiwa yang melingkupi semesta, yang meruang-waktu, adalah fenomena tunggal berasal dari Sang Ahad (Agus, Sarial Ke-40 : 225-227). Bagi mereka yang telah mencapai kesadaraan tingkat keempat – mikromakromosmik – mampu memahami dan merasakan kehadiran Allah yang Maha Tunggal, di mana dan kapanpun (Agus, Serial ke-40 : 191).

Dalam DTM Serial  Ke-6 berjudul Bersatu dengan Allah Agus Musthofa mengatakan “Tidak bisa tidak, makhluk mesti berasal dari Allah. Berada di dalam-Nya & Bersatu dengan-Nya” (Agus, Serial Ke-6 : 12). Kesadaran manunggaling kawulo Gusti yang bersifat simbolik dan mistik dalam pemikiran Abdul Munir Mulkan. Meski demikian, dalam buku tersebut beliau mengingatkan pembacanya terhadap tiga hal: pertama, jangan terjebak seperti murid Siti Jenar yang menganggap ‘dirinya adalah Allah’. Sebab makhluk bukanlah Allah. Dan Allah bukanlah makhluk!.

Hingga saat ini ajaran Siti Jenar masih misteri dan mengundang kontroversi (Mohammad, 2011 : 212). Bukan hanya karena ajaran Siti Jenar yang berbeda dengan mainstream ajaran Islam yang dianut mayoritas umat Islam, tapi kemisterian dan kekontroversiannya mematutkan Worning-nya Agus Musthofa. Tidak bermaksud ‘menghakimi’, tapi bukankah kejelasan dan kepastian mengatasi kekaburan dan kemungkinan?

Kedua, jangan merasa sederajat dengan Allah, karena derajatnya memang beda. Allah adalah Wajibul Wujud sementara makhluk hanyalah mumkinul wujud. Perbedaan derajat ini meniscayakan ketergantungan dan kebergantungan mumkinul wujud kepada Wajibul Wujud. Ketiga, jangan sekali-kali meninggalkan syariat ibadah yang diajarkan Rasulullah SAW karena sudah merasa bersatu dengan-Nya. (Agus, Serial Ke-6 : 12). Rasulullah SAW adalah pembimbing, penuntun, dan teladan umat yang harus diikuti sunah-sunahnya.

Allah menciptakan manusia agar hanya menghamba kepada-Nya, bukan, atau sambil menghamba kepada selain-Nya. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (Qs. adz-Dzariyaat, 51 : 56). Oleh karena itu menjadi abdi yang sebenar-benar menghamba hanya kepada Allah adalah sampurnaning manungso, adalah manunggaling kawulo marang ngarsane Gusti Allah. Wallahu’alam.

 

Referensi:

Abdullah Ciptoprawiro. Cetakan Ke-2, 1992. Filsafat Jawa. Semarang: Media Wiyata.

Abdul Munir Mulkan. Cetakan ke-9, 2006. Makrifat Burung Surga dan Ilmu Kasampurnan Syekh Siti Jenar. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Agus Musthofa. Serial Ke-6 DTM, tt. Bersatu dengan Allah. Surabaya: Padma Press.

------------------. Serial Ke-40 DTM, tt. Segalanya Satu. Surabaya: Padma Press.

Mohammad Zazuli. Cetakan Ke-2, 2011. Syekh Siti Jenar. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

https://kbbi.kemdikbud.go.id

Ryan Sugiarto. 2015. Psikologi Raos. Yogyakarta: Pustaka Ifada.

Suwardi Endraswara. 2012. Agama Jawa Menyusuri Spiritualitas Jawa. Yogyakarta: Lembu Jawa.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman