Ahmad Thoha
Bahasa Jawa menyebut Manusia dengan Manungso, akronim Manunggaling Rasa. Kata manunggaling rasa terbentuk dari: ma-tunggal-ing dan rasa. Tunggal atau manunggal artinya yang menjadi satu; utuh; bulat-bulat (KBBI). Ing berarti di; pada; dalam. Rasa (Jw ngoko), raos (Jw kromo) adalah rasa. Makna sederhana, berbagai rasa dalam diri manusia lebur menjadi satu dalam dimensi ‘rasa’ kemanusiaan. Dalam perspektif filsafat Jawa, rasa kemanusiaan adalah jati diri manusia yang membedakan dengan makhluk lain.
Klausa
‘menjadi satu’ memberi pengertian menyatunya dua unsur atau lebih secara utuh,
bulat, tak terbagi, dan tidak dapat dipisah unsur-unsur pembentuknya setelah lebur
jadi satu. TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) merujuk leburnya unsur TNI,
Departemen terkait, Lembaga Pemerintah Nondepartemen, Pemerintah Daerah,
Masyarakat, dan komponen bangsa lainnya dalam satu tim. Wedang Kopi adalah menyatunya
unsur air, gula, dan kopi. Setelah ketiga unsur lebur jadi wedang kopi, tidak
lagi dapat dipisahkan air, gula, atau kopinya.
Manusia
dimaknai manunggaling rasa karena memiliki berbagai rasa yang lebur jadi
satu, utuh, bulat, dan otonom. Manusia memilki rasa hidup; rasa ada, ingin,
butuh, kasih sayang, adil, zalim, bahagia, menderita, sakit, sehat, kaya, miskin,
terhormat, ternista, dan seterusnya. Harmoni kemanunggalan rasa memungkinkan manusia
mencapai derajat Insan Kamil dalam konsep tasawuf atau sampurnaning
manungso yaitu sosok manusia yang tercerahkan jati dirinya, mampu memberi
kemaslahatan, dan mampu menularkan rasa bahagia kepada orang lain (Ryan, 2015 :
78).
Rasa
dalam diri manusia bersifat universal dan otonom. Semua manusia memiliki rasa
yang sama, namun kadarnya berbeda pada masing-masing orang. Rasa susah misalnya,
semua orang memiliki tapi kadar kesusahannya tidak sama pada semua orang. Ada
yang berpenghasilan Rp. 50.000,- per hari sudah merasa bahagia dan suka berbagi,
sementara yang berpenghasilan Rp. 50.000.000,- per bulan, masih ada yang merasa
menderita dan enggan memberi.
Seluruh
rasa dalam diri manusia berdimensi horizontal dan vertikal. Dimensi horizontal membentuk
tipikal orang Jawa yang dikenal lemah lembut, tidak sombong (adigang adigung
adiguno), sabar penuh kehati-hatian (Alon-alon waton kelakon), sopan
santun (andap asor), penuh kasih sayang (welas asih), toleran (raos
sami), tidak membeda-bedakan (mban cinde mban silatdan), bekerja
keras penuh keikhlasan (sepi ing pamrin rame ing gawe), mengutamakan harmoni
dan kebersamaan, sekalipun tidak makan asalkan kumpul keluarga (Mangan ora
mangan nek kumpul).
Dimensi
vertikal tipikal orang Jawa tersimpul dalam beberapa doktrin. Terhadap
kehidupan dunia berlaku doktrin Urip kuwi mung mampir ngombe yang bermakna,
hidup di dunia itu teramat singkat (Suwardi, 2012: 107), jangan terjebak oleh hiruk-pikuk
kehidupan duniawi yang berakibat lupa jati diri dan lupa tujuan hidup yang
sejati. Untuk menghindari keterjebakan manusia hendaknya mampu melakoni urip
sakjeroning mati, mati sakjeroning urip dengan menumbuhsuburkan laku
kebaikan, mengekang nafsu keburukan dan kejahatan (Suwardi, 2012: 95).
Kehidupan
dunia yang teramat singkat dijalani dengan laku ngudi kasampurnan (meraih
kesempurnaan hidup) sebagai bekal hidup di alam kelanggengan. Doktrin ini
diupayakan dengan mencurahkan cipta-rasa-karsa dalam menghayati awal dan akhir
kehidupan dunia, asal dan tujuan hidup (sangkan paraning dumadi), untuk
kembali ke asal penciptaan (mulih mula mulanira) (Abdullah, 1992 :
82).
Dimensi
horizontal dan vertikal bermuara untuk mencapai manunggaling kawula Gusti. Meurut
Abdul Munir Mulkan, konsep ini berdimensi simbolik, mistik dan politik. Kemanunggalan
simbolik dimaknai nunggal karep-nya manusia dengan kehendak Tuhan. Seluruh
potensi yang ada dalam diri diorientasikan untuk melaksanakan perintah Tuhan dan
menjauhi larangan-Nya. Secara mistik, diartikan penyatuan manusia-Tuhan. Dalam ranah
politik dipahami bersatunya kehendak rakyat dengan kehendak penguasa, dan
sebaliknya. (Abdul Munir, 2006 : 146).
Agus
Musthofa memaparkan kemanunggalan semesta dalam dua buku serial Diskusi Tasawuf
Modern (DTM). Menurut beliau, seluruh benda yang bertrilyun-trilyun jumlahnya, manusia
yang bermilyar hitungannya, seluruh peristiwa yang melingkupi semesta, yang meruang-waktu,
adalah fenomena tunggal berasal dari Sang Ahad (Agus, Sarial Ke-40 : 225-227). Bagi
mereka yang telah mencapai kesadaraan tingkat keempat – mikromakromosmik – mampu
memahami dan merasakan kehadiran Allah yang Maha Tunggal, di mana dan kapanpun
(Agus, Serial ke-40 : 191).
Dalam
DTM Serial Ke-6 berjudul Bersatu
dengan Allah Agus Musthofa mengatakan “Tidak bisa tidak, makhluk mesti
berasal dari Allah. Berada di dalam-Nya & Bersatu dengan-Nya” (Agus, Serial
Ke-6 : 12). Kesadaran manunggaling kawulo Gusti yang bersifat simbolik
dan mistik dalam pemikiran Abdul Munir Mulkan. Meski demikian, dalam buku
tersebut beliau mengingatkan pembacanya terhadap tiga hal: pertama, jangan
terjebak seperti murid Siti Jenar yang menganggap ‘dirinya adalah Allah’. Sebab
makhluk bukanlah Allah. Dan Allah bukanlah makhluk!.
Hingga
saat ini ajaran Siti Jenar masih misteri dan mengundang kontroversi (Mohammad,
2011 : 212). Bukan hanya karena ajaran Siti Jenar yang berbeda dengan mainstream
ajaran Islam yang dianut mayoritas umat Islam, tapi kemisterian dan
kekontroversiannya mematutkan Worning-nya Agus Musthofa. Tidak bermaksud
‘menghakimi’, tapi bukankah kejelasan dan kepastian mengatasi kekaburan dan
kemungkinan?
Kedua,
jangan merasa sederajat dengan Allah,
karena derajatnya memang beda. Allah adalah Wajibul Wujud sementara makhluk
hanyalah mumkinul wujud. Perbedaan derajat ini meniscayakan ketergantungan dan
kebergantungan mumkinul wujud kepada Wajibul Wujud. Ketiga, jangan
sekali-kali meninggalkan syariat ibadah yang diajarkan Rasulullah SAW karena
sudah merasa bersatu dengan-Nya. (Agus, Serial Ke-6 : 12). Rasulullah SAW adalah
pembimbing, penuntun, dan teladan umat yang harus diikuti sunah-sunahnya.
Allah
menciptakan manusia agar hanya menghamba kepada-Nya, bukan, atau sambil
menghamba kepada selain-Nya. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada-Ku (Qs. adz-Dzariyaat, 51 : 56). Oleh karena
itu menjadi abdi yang sebenar-benar menghamba hanya kepada Allah adalah sampurnaning
manungso, adalah manunggaling kawulo marang ngarsane Gusti Allah. Wallahu’alam.
Referensi:
Abdullah
Ciptoprawiro. Cetakan Ke-2, 1992. Filsafat Jawa. Semarang: Media Wiyata.
Abdul Munir
Mulkan. Cetakan ke-9, 2006. Makrifat Burung Surga dan Ilmu Kasampurnan Syekh
Siti Jenar. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Agus Musthofa.
Serial Ke-6 DTM, tt. Bersatu dengan Allah. Surabaya: Padma Press.
------------------.
Serial Ke-40 DTM, tt. Segalanya Satu. Surabaya: Padma Press.
Mohammad Zazuli.
Cetakan Ke-2, 2011. Syekh Siti Jenar. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.
Ryan Sugiarto.
2015. Psikologi Raos. Yogyakarta: Pustaka Ifada.
Suwardi Endraswara. 2012. Agama Jawa Menyusuri Spiritualitas Jawa. Yogyakarta: Lembu Jawa.
