KENWULUNG.COM adalah media yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengusung tema-tema keislaman dan keindonesiaan.

Terbaru

Senin, 15 Juni 2020

Belajar Agama Ala Waria

Dr. H. Munjahid, M.Ag.

(Dekan Fakultas Tarbiyah IIQ An-Nur Yogyakarta)

 
Kaum waria (wanita-pria) merupakan kelompok minoritas yang hidup di tengah-tengah tekanan sosial di lingkungannya. Secara individual, kaum waria merasa ada suatu dorongan dalam dirinya bahwa fisiknya tidak sesuai dengan kondisi psikis. Sedangkan secara sosial, ada sebuah interaksi yang mereka alami di masyarakat yang telah mendorongnya untuk memiliki kepribadian yang berlawanan dengan bentuk fisiknya. Hal inilah yang menyebabkan konflik psikis dalam dirinya. Mereka menampakkan kepada khalayak umum bahwa mereka “berbeda” dengan laki-laki pada umumnya tetapi bukan bagian perempuan yang normal.

 Ada tiga faktor yang mempengaruhi munculnya Kaum Waria, yaitu: Biogenik, psikogenik, dan sosiogenik. Faktor Biogenik merupakan faktor bawaan, yaitu terjadinya waria karena bawaan sejak lahir. Faktor ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan lingkungan sekitar. Faktor psikogenik (faktor psikis), tingkah laku seksualnya yang menyimpang itu diperoleh dari pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak yang sangat muda. Misalnya, adanya penyimpangan-penyimpangan seksual pada keluarga, seperti homoseksualitas di kalangan keluarga, dan lain sebagainya. Faktor sosiogenik (faktor lingkungan), yaitu terjadinya waria karena faktor lingkungan. Misal, seorang anak laki-laki yang lebih banyak bergaul dengan anak perempuan pada masa kecilnya, sifat kewanitaannya akan melekat dalam dirinya. Begitu pula sebaliknya, apabila ada anak perempuan yang masa kecilnya sering bermain dengan anak laki-laki, maka sifat kelaki-lakiannya akan muncul dalam dirinya.

  Salah satu lembaga tempat belajar agama bagi Kaum Waria adalah Pondok Pesantren Al-Fatah Banguntapan Bantul Yogyakarta. Pondok Pesantren ini dibangun oleh kaum waria  Sinta Ratri yang merupakan alumni pondok pesantren Waria Senin-Kamis Notoyudan Yogyakarta.  Berawal dari anggapan negatif masyarakat tentang Kaum Waria sehingga cenderung dikucilkan bahkan terkadang diperlakukan tidak seperti layaknya manusia pada umumnya, maka Maryani berinisiatif untuk mengajak teman-teman sesama Waria agar mau beribadah, sebagai pembuktian bahwa Waria juga layaknya manusia pada umumnya. Hal ini dimulai dari tahun 2006, ia mengumpulkan teman sesama Waria di kontrakannya yang beralamat di Notoyudan Yogyakarta untuk mengadakan doa dan zikir bersama yang bertujuan untuk mendoakan para korban gempa bumi Yogyakarta khususnya korban gempa bumi para Waria pada tahun 2006. Dalam acara tersebut hadir pula waria-waria yang berdomisili di luar kota Yogyakarta seperti Jakarta, Solo, Bandung dan sebagainya.

Adapun kegiatan belajar agama ala Waria di Pondok Pesantren Al-Fatah dibagi menjadi program mingguan dan tahunan:

A.    Program Mingguan

Kegiatan belajar-mengajar ini dilaksanakan setiap hari Minggu sore hingga malam hari. Adapun kegiatannya adalah sebagai berikut:

    1. Salat berjamaah

    Dalam belajar salat, Kaum Waria dibebaskan untuk memilih memakai sarung atau mukena sesuai dengan kenyamanan masing-masing. Kaum Waria belajar bacaan maupun gerakan salat serta syarat, rukun, dan sunat salat. Mereka juga belajar cara mempraktikkan wudu dan menutup aurat dengan benar.

    2. Belajar tajwid

        Kegiatan ini diadakan sambil menunggu hadirnya santri-santri waria lainnya yang datang dari beberapa daerah. Mereka belajar teori dan praktik tajwid, terutama bagi yang telah lancar bacaan Alqurannya.

    3. Membaca Alquran

    Kaum Waria memulai belajar Alquran dengan metode sorogan. Buku yang digunakan adalah Iqra’ atau mushaf Alquran. Bagi mereka yang belum lancar membaca Alquran, menggunakan buku Iqra’. Bagi Kaum Waria yang telah lancar membaca Alquran, menggunakan mushaf Alquran. Kegiatan ini berakhir ketika mendengar suara azan berkumandang, yang menandakan waktu salat Magrib telah tiba.

    4. Zikir

    Setelah salat magrib selesai, kegiatan dilanjutkan dengan zikir, mujahadah dan membaca al Asma’ al Husna.

    5. Diskusi dan tanya jawab agama

        Diskusi dilakukan selesai salat Isya berjamaah selama kurang lebih tiga puluh menit. Tema yang dibahas seputar masalah yang dihadapinya sehari-hari. Jika memang ada hal yang perlu ditanyakan kepada ustaz, mereka langsung menanyakan dan langsung dijawab oleh ustaz. Namun sering terjadi perdebatan di antara mereka karena perbedaan pendapat.

    6. Belajar hadis dan tarikh

        Selesai acara diskusi, dilanjutkan dengan kajian materi hadis dan tarikh, tarikh yang dipelajari di sini bukan tentang sejarah Rasulullah SAW. dalam menyebarkan Agama Islam. Namun lebih terfokus pada tarih kewariaan. Fokus materi yang diajarkan di Pondok Pesantren Al-Fatah lebih menekankan tentang kaum Waria/transgender. Mereka lebih tertarik mengkaji tentang hadis maupun sejarah Kaum Waria dalam Islam. Namun demikian, kiai/ustaz yang mengisi sesi ini biasanya menambahkan materi umum yang berkaitan dengan materi ibadah.  

    7. Tausiyah dan doa

   Materi tausiyah yang diajarkan berbeda dengan pondok pesantren pada umumnya, materi tausiyah lebih terfokus pada materi seputar kewariaan dalam Islam. Apabila kyai berhalangan hadir, sesi terakhir ini diisi oleh ustaz. Selesai tausiyah, dilanjutkan dengan doa bersama. Setelah itu, santri diperbolehkan pulang ke rumah masibg-masing. Namun bagi santri yang hadir dengan menggunakan transportasi umum, biasanya mereka memilih untuk menginap semalam, dikarenakan tidak adanya transportasi yang beroprasi hingga malam hari.

B.    Program Tahunan

    Agenda yang menjadi program tahunan adalah Kegiatan Ramadhan, ziarah, Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), dan bakti sosial. Berikut ini adalah rincian kegiatan Waria belajar Agama program tahunan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Fatah, yaitu:

    1. Ziarah

      Kegiatan ziarah dijadikan sebagai program tahunan semenjak pesantren masih bertempat di Notoyudan dalam bimbingan K.H. Hamroeli Harun. Sampai saat ini, kegiatan ini masih berjalan dengan baik. Agenda ziarah biasanya ke makam-makam rekan sesama waria yang telah wafat. Kegiatan ini bertujuan memberikan penghargaan atas perjuangan teman-teman Waria yang sudah meninggal dan mengingatkan diri sendiri akan hidup sesudah mati. Agenda ini dilaksanan setiap bulan Sya’ban.

   2. Kegiatan Ramadan

      Kegiatan belajar di bulan Ramadan, dilaksanakan pada hari senin dan Kamis. Volume kegiatannya lebih padat dari hari-hari biasa, para santri menginap di pondok. Kegiatan ini dimulai hari Minggu sore hingga senin Pagi dan Rabu sore hingga Kamis pagi. Kegiatan dimulai pukul 16.00, yakni kegiatan mengaji dengan metode sorogan yang dibimbing oleh ustaz sampai waktu buka puasa tiba. Kemudian setelah terdengar kumandang azan Magrib, para santri dan ustaz minum dan makan  buah kurma. Makan nasi setelah selesai melaksanakan jamaah salat Magrib. Kegiatan salat Isya, salat Tarawih, salat Witir dan tadarus Alquran merupakan kegiatan rutin setiap bulan Ramadan di Pesantren ini. Rangkaian Kegiatan ini berlanjut hingga sesi yang terakhir, yaitu makan sahur bersama, dilanjutkan dengan salat Subuh berjamaah dan kuliah tujuh menit (Kultum).

   3. Peringatan Hari Besar Islam (PHBI)

              Kegiatan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) ini dalam rangka memperingati hari bersejarah umat Islam. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh keluarga Pondok Pesantren Al-Fatah dan warga sekitar. Untuk mensukseskan agenda rutin tersebut, tidak sedikit warga yang menyumbangkan dana maupun tenaga untuk suksesnya kegiatan. Karena besarnya antusias dan dorongan dari warga sekitar ini, menjadikan para santri waria merasa sebagai “bagian” dari mereka. Tidak ada pembatas lagi antara Kaum Waria dengan warga sekitar. Adapun PHBI yang biasanya diperingati di Pondok Pesantren Al-Fatah adalah: Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Mi’raj dan Nuzul al-Quran. Dala kegiatan ini, diadakan ceramah agama yang terkait dengan hari besar Islam yang sedang diperingati. Santri mendengarkan ceramah dari ustaz bersama masyarakat yang hadir di acara tersebut.

   4. Bakti Sosial

Kegiatan ini dilaksanakan untuk memperingati transgender day (hari transgender) setiap tanggal 20 November. Dalam agenda bakti sosial. Beberapa komunitas yang ikut meramaikan kegiatan ini adalah: PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), KEBAYA (Keluarga Besar Waria Yogyakarta), IWABA (Ikatan Waria Bantul), Ponpes Al Fatah. Dalam kegiatan ini dilaksanakan layanan pengobatan gratis, potong rambut gratis dan pemberian sembako di perkampungan yang ekonominya minus. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan jiwa sosial pada Kaum Waria dan memberi informasi  pada masyarakat tentang eksistensi pondok pesantren khusus Waria ini.

Dari uraian di atas, menunjukkan adanya ikatan lahir batin yang sangat kuat di antara sesama waria, baik yang tempat tinggalnya dekat maupun yang jauh, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Hal ini terjadi karena adanya perasaan senasib dan seperjuangan di antara mereka dalam menghadapi liku-liku kehidupannya.

   

Sumber:

Data diperoleh dari hasil observasi, dokumen, wawancara dengan Ibu Sinta (Pengasuh), Arif (Ustaz), N. Aini dan Dwi (Relawan) pada tahun 2018.

Post Top Ad

Your Ad Spot

Halaman