Dr. H. Munjahid, M.Ag.
(Dekan Fakultas Tarbiyah IIQ An-Nur Yogyakarta)
Kaum waria (wanita-pria) merupakan kelompok minoritas yang hidup di tengah-tengah tekanan sosial di lingkungannya. Secara individual, kaum waria merasa ada suatu dorongan dalam dirinya bahwa fisiknya tidak sesuai dengan kondisi psikis. Sedangkan secara sosial, ada sebuah interaksi yang mereka alami di masyarakat yang telah mendorongnya untuk memiliki kepribadian yang berlawanan dengan bentuk fisiknya. Hal inilah yang menyebabkan konflik psikis dalam dirinya. Mereka menampakkan kepada khalayak umum bahwa mereka “berbeda” dengan laki-laki pada umumnya tetapi bukan bagian perempuan yang normal.
Ada tiga faktor
yang mempengaruhi munculnya Kaum Waria, yaitu: Biogenik, psikogenik, dan
sosiogenik. Faktor Biogenik merupakan faktor bawaan, yaitu terjadinya waria karena
bawaan sejak lahir. Faktor ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan
lingkungan sekitar. Faktor psikogenik (faktor psikis), tingkah laku seksualnya
yang menyimpang itu diperoleh dari pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak yang
sangat muda. Misalnya, adanya penyimpangan-penyimpangan seksual pada keluarga,
seperti homoseksualitas di kalangan keluarga, dan lain sebagainya. Faktor
sosiogenik (faktor lingkungan), yaitu terjadinya waria karena faktor
lingkungan. Misal, seorang anak laki-laki yang lebih banyak bergaul dengan anak
perempuan pada masa kecilnya, sifat kewanitaannya akan melekat dalam dirinya.
Begitu pula sebaliknya, apabila ada anak perempuan yang masa kecilnya sering
bermain dengan anak laki-laki, maka sifat kelaki-lakiannya akan muncul dalam
dirinya.
Salah satu
lembaga tempat belajar agama bagi Kaum Waria adalah Pondok Pesantren Al-Fatah
Banguntapan Bantul Yogyakarta. Pondok Pesantren ini dibangun oleh kaum
waria Sinta Ratri yang merupakan alumni
pondok pesantren Waria Senin-Kamis Notoyudan Yogyakarta. Berawal dari anggapan negatif masyarakat
tentang Kaum Waria sehingga cenderung dikucilkan bahkan terkadang diperlakukan
tidak seperti layaknya manusia pada umumnya, maka Maryani berinisiatif untuk mengajak
teman-teman sesama Waria agar mau beribadah, sebagai pembuktian bahwa Waria
juga layaknya manusia pada umumnya. Hal ini dimulai dari tahun 2006, ia
mengumpulkan teman sesama Waria di kontrakannya yang beralamat di Notoyudan
Yogyakarta untuk mengadakan doa dan zikir bersama yang bertujuan untuk
mendoakan para korban gempa bumi Yogyakarta khususnya korban gempa bumi para
Waria pada tahun 2006. Dalam acara tersebut hadir pula waria-waria yang
berdomisili di luar kota Yogyakarta seperti Jakarta, Solo, Bandung dan
sebagainya.
Adapun kegiatan belajar agama ala Waria di Pondok Pesantren Al-Fatah dibagi menjadi program mingguan dan tahunan:
A. Program
Mingguan
Kegiatan belajar-mengajar ini dilaksanakan setiap hari
Minggu sore hingga malam hari. Adapun kegiatannya adalah sebagai berikut:
1. Salat
berjamaah
Dalam
belajar salat, Kaum Waria dibebaskan untuk memilih memakai sarung atau mukena
sesuai dengan kenyamanan masing-masing. Kaum Waria belajar bacaan maupun
gerakan salat serta syarat, rukun, dan sunat salat. Mereka juga belajar cara
mempraktikkan wudu dan menutup aurat dengan benar.
2. Belajar
tajwid
Kegiatan
ini diadakan sambil menunggu hadirnya santri-santri waria lainnya yang datang
dari beberapa daerah. Mereka belajar teori dan praktik tajwid, terutama bagi
yang telah lancar bacaan Alqurannya.
3. Membaca
Alquran
Kaum Waria
memulai belajar Alquran dengan metode sorogan. Buku yang digunakan adalah Iqra’
atau mushaf Alquran. Bagi mereka yang belum lancar membaca Alquran, menggunakan
buku Iqra’. Bagi Kaum Waria yang telah lancar membaca Alquran, menggunakan
mushaf Alquran. Kegiatan ini berakhir ketika mendengar suara azan berkumandang,
yang menandakan waktu salat Magrib telah tiba.
4. Zikir
Setelah
salat magrib selesai, kegiatan dilanjutkan dengan zikir, mujahadah dan membaca
al Asma’ al Husna.
5. Diskusi
dan tanya jawab agama
Diskusi
dilakukan selesai salat Isya berjamaah selama kurang lebih tiga puluh menit.
Tema yang dibahas seputar masalah yang dihadapinya sehari-hari. Jika memang ada
hal yang perlu ditanyakan kepada ustaz, mereka langsung menanyakan dan langsung
dijawab oleh ustaz. Namun sering terjadi perdebatan di antara mereka karena
perbedaan pendapat.
6. Belajar
hadis dan tarikh
Selesai
acara diskusi, dilanjutkan dengan kajian materi hadis dan tarikh, tarikh yang
dipelajari di sini bukan tentang sejarah Rasulullah SAW. dalam menyebarkan
Agama Islam. Namun lebih terfokus pada tarih kewariaan. Fokus materi yang
diajarkan di Pondok Pesantren Al-Fatah lebih menekankan tentang kaum Waria/transgender.
Mereka lebih tertarik mengkaji tentang hadis maupun sejarah Kaum Waria dalam
Islam. Namun demikian, kiai/ustaz yang mengisi sesi ini biasanya menambahkan
materi umum yang berkaitan dengan materi ibadah.
7. Tausiyah
dan doa
Materi
tausiyah yang diajarkan berbeda dengan pondok pesantren pada umumnya, materi
tausiyah lebih terfokus pada materi seputar kewariaan dalam Islam. Apabila kyai
berhalangan hadir, sesi terakhir ini diisi oleh ustaz. Selesai tausiyah,
dilanjutkan dengan doa bersama. Setelah itu, santri diperbolehkan pulang ke
rumah masibg-masing. Namun bagi santri yang hadir dengan menggunakan
transportasi umum, biasanya mereka memilih untuk menginap semalam, dikarenakan
tidak adanya transportasi yang beroprasi hingga malam hari.
B. Program
Tahunan
Agenda yang
menjadi program tahunan adalah Kegiatan Ramadhan, ziarah, Peringatan Hari Besar
Islam (PHBI), dan bakti sosial. Berikut ini adalah rincian kegiatan Waria
belajar Agama program tahunan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Fatah,
yaitu:
1. Ziarah
Kegiatan ziarah dijadikan sebagai program tahunan semenjak pesantren masih bertempat di Notoyudan dalam bimbingan K.H. Hamroeli Harun. Sampai saat ini, kegiatan ini masih berjalan dengan baik. Agenda ziarah biasanya ke makam-makam rekan sesama waria yang telah wafat. Kegiatan ini bertujuan memberikan penghargaan atas perjuangan teman-teman Waria yang sudah meninggal dan mengingatkan diri sendiri akan hidup sesudah mati. Agenda ini dilaksanan setiap bulan Sya’ban.
2. Kegiatan
Ramadan
Kegiatan belajar di bulan Ramadan, dilaksanakan pada hari senin dan Kamis. Volume kegiatannya lebih padat dari hari-hari biasa, para santri menginap di pondok. Kegiatan ini dimulai hari Minggu sore hingga senin Pagi dan Rabu sore hingga Kamis pagi. Kegiatan dimulai pukul 16.00, yakni kegiatan mengaji dengan metode sorogan yang dibimbing oleh ustaz sampai waktu buka puasa tiba. Kemudian setelah terdengar kumandang azan Magrib, para santri dan ustaz minum dan makan buah kurma. Makan nasi setelah selesai melaksanakan jamaah salat Magrib. Kegiatan salat Isya, salat Tarawih, salat Witir dan tadarus Alquran merupakan kegiatan rutin setiap bulan Ramadan di Pesantren ini. Rangkaian Kegiatan ini berlanjut hingga sesi yang terakhir, yaitu makan sahur bersama, dilanjutkan dengan salat Subuh berjamaah dan kuliah tujuh menit (Kultum).
3. Peringatan
Hari Besar Islam (PHBI)
Kegiatan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) ini dalam rangka
memperingati hari bersejarah umat Islam. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh keluarga
Pondok Pesantren Al-Fatah dan warga sekitar. Untuk mensukseskan agenda rutin
tersebut, tidak sedikit warga yang menyumbangkan dana maupun tenaga untuk
suksesnya kegiatan. Karena besarnya antusias dan dorongan dari warga sekitar
ini, menjadikan para santri waria merasa sebagai “bagian” dari mereka. Tidak
ada pembatas lagi antara Kaum Waria dengan warga sekitar. Adapun PHBI yang
biasanya diperingati di Pondok Pesantren Al-Fatah adalah: Maulid Nabi Muhammad
SAW, Isra Mi’raj dan Nuzul al-Quran. Dala kegiatan ini, diadakan ceramah agama
yang terkait dengan hari besar Islam yang sedang diperingati. Santri
mendengarkan ceramah dari ustaz bersama masyarakat yang hadir di acara
tersebut.
4. Bakti
Sosial
Kegiatan ini dilaksanakan untuk memperingati transgender
day (hari transgender) setiap tanggal 20 November. Dalam agenda bakti sosial.
Beberapa komunitas yang ikut meramaikan kegiatan ini adalah: PKBI (Perkumpulan
Keluarga Berencana Indonesia), KEBAYA (Keluarga Besar Waria Yogyakarta), IWABA
(Ikatan Waria Bantul), Ponpes Al Fatah. Dalam kegiatan ini dilaksanakan layanan
pengobatan gratis, potong rambut gratis dan pemberian sembako di perkampungan
yang ekonominya minus. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan jiwa sosial
pada Kaum Waria dan memberi informasi pada masyarakat tentang eksistensi pondok
pesantren khusus Waria ini.
Dari uraian di atas, menunjukkan adanya ikatan lahir
batin yang sangat kuat di antara sesama waria, baik yang tempat tinggalnya
dekat maupun yang jauh, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal
dunia. Hal ini terjadi karena adanya perasaan senasib dan seperjuangan di
antara mereka dalam menghadapi liku-liku kehidupannya.
Sumber:
Data diperoleh dari hasil observasi, dokumen, wawancara dengan Ibu Sinta (Pengasuh), Arif (Ustaz), N. Aini dan Dwi (Relawan) pada tahun 2018.
