WULUNG.id – Seorang perantau asal Jawa yang bekerja di
Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat, Achmad Muslich Imron, memilih tidak akan
mudik lebaran tahun 2020 ini. Hal itu sebagai bentuk ketaatan kepada pemerintah
yang melarang mudik. Di samping juga karena perusahaan tempat ia bekerja tidak
mengizinkan mudik. Walaupun demikian, ia tetap bersyukur.
“Ya disyukuri saja. Dalam kondisi krisis pandemi Covid-19 seperti ini, sebagai rakyat sebaiknya kita ikut kata pemerintah saja. Apa yang telah ditetapkan pemerintah, itulah yang terbaik. Toch, kenikmatan lainnya sudah banyak kita dapatkan,” kata Achmad saat dihubungi Wulung.id, Kamis (14/5/2020).
Achmad bekerja di PT. Erna Djuliawati Plymill yang
bergerak di bidang ekspor kayu sejak tahun 1991. Semula keluarganya ikut serta
tinggal di Sanggau, tetapi mulai tahun 2006 keluarganya memilih tinggaldi
Boyolali, demi anak-anaknya bersekolah di pondok pesantren.
Pria kelahiran Desa Pekalongan Kecamatan Winong
Kabupaten Pati, 50 tahun itu menikah dengan seorang gadis asal Godong Purwodadi
bernama Siti Kholifah tahun 1996. Dari hasil pernikahannya, ia dikaruniai 3
anak, yaitu Sarah Noorpratiwi Mushlich, Salman Alfarisi Mushlich dan Ainan Fiha
Tusamma Salsabila Mushlich.
“Demi pendidikan anak-anak, keluarga kemudian tinggal
di Jawa. Sekarang anak pertama sudah bekerja di Angkasa Pura, anak kedua sudah
hafal 25 juz Al-Quran dan anak ketiga sudah khatam 30 juz Al-Quran. Sejak
berjauhan, tiap 3 bulan sekali saya pulang ke Jawa. Terakhir pulang bulan
Januari 2020 yang lalu,” tegas Achmad.
Biasanya jelang lebaran begini, ia sudah siap-siap
untuk mudik dan selama ini ia selalu mudik lebaran. Ia tidak pernah lebaran
tanpa berkumpul dengan istri dan anak-anak. Baru kali ini, ia harus merayakan
lebaran di perantauan tanpa keluarga.
Achmad berharap semoga pandemi corona segera berlalu sehingga kondisi kembali normal dan aktivitas kembali seperti semula. Ia mengimbau masyarakat agar mendukung kebijakan pemerintah dalam menangani Covid-19 dan hendaknya selalu bersyukur. (samyad)
