HARI YANG SELALU RAYA
Oleh Ahmad Thoha
(Pemerhati Isu-isu Sosial, Budaya dan
Kepemudaan)
Kimin : Idul Fitri kemarin kamu berhari raya, Man?
Kiman : Ya iya lah... Puasaku kan, sebulan
penuh.
Kimin : Kalau Idul Adha besuk, kamu berhari raya
juga.
Kiman : Insyaallah... Jika dikaruniai umur panjang.
Kimin : Berarti, dalam setahun berhari raya 2x ya
Man?
Kiman : Ya, iya lah... Kalau kamu Min?
Kimin : Kalau aku tidak hanya 2x, tapi berkali-kali.
Bahkan setiap hari.
Kiman : Bagaimana caranya?
Kimin : Kasih tahu ‘nggak ya .....
Kiman : Kasih tahu dong, Min. Pelit amat sih.
Bagi umat Islam, hari raya Idul Fitri sudah mafhum. Dirayakan
setelah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh, Qiymullail, membayar
zakat dan melaksanakan shalat Idul Fitri. Beberpa hari sebelumnya, persiapan
menyambut Hari Raya sudah dilakukan. Mulai dari merencanakan mudik, membersihkan
lingkungan rumah, mengalokasikan keuangan, membeli baju baru anggota keluarga, menyiapkan
kue lebaran, hingga rencana memberikan THR untuk kerabat.
Puncak perayaan tersimbolkan
pada kumandangnya gema takbir dan tahmid yang saling bersahutan – terlebih pada
even Takbir keliling – serta momen silaturahmi saling memaafkan antar sesama.
Hari itu memang istimewa. Raya.
Setiap orang Islam seperti terlahir kembali, terbersihkan
dari dosa-dosa – kecuali dosa besar, tentunya. Aura suka cita menghiasi wajah
orang-orang yang merayakannya. Kesulitan ekonomi keluarga, kemacetan bidang usaha,
derita akibat PHK, sejenak terlupakan.
Sampai berapa hari nuansa dan aura Hari Raya mampu bertahan
dalam jiwa?
Penciptaan bulan ramadlan adalah karunia yang tidak
ternilai, yang Allah berikan kepada seluruh umat manusia, kecuali yang tidak
mau diberi. Masalah ada orang yang tidak beriman, atau ‘beriman’ tapi tidak
berpuasa, itu urusan manusianya. Allah telah membuka kesempatan
selebar-lebarnya, tinggal mau memanfaatkan atau tidak.
Sepuluh hari pertama ramadlan, Allah turunkan rahmat;
sepuluh hari kedua ramadlan Allah memberikan ampunan; sepuluh hari ketiga ramadlan, Allah menutup
pintu-pintu neraka. Belum lagi pada bulan suci ini Allah juga menurunkan lailatul
qadar, satu malam yang senilai dengan 1000 bulan. Sudah seharusnya karunia
yang demikian besar disyukuri dengan menggemakan takbir, tahmid, membayar
zakat, dan melaksanakan shalat Idul Fitri. Maka, Hari yang selalu Raya adalah
hari-hari dimana jiwa senantiasa berselimutkan syukur kepada-Nya.
Walaupun untuk saling memaafkan tidak terbatas hanya di
Hari Raya, budaya masyarakat kita ‘kadung’ mentradisikan. Tidak ada yang salah
dengan tradisi ini. Hidup memang butuh momentum sebagai bagian dari kuantum,
dalam dan sepanjang kehidupan.
Pada hari itu, kebencian dan pemusuhan intern keluarga, antar tetangga dan kolega, ambyar entah kemana. Yang ada hanya hati, pikiran, dan wajah-wajah yang penuh suka cita, riang gembira, dan bahagia, karena pintu maaf selalu terbuka lebar. Ketika di hari lain meminta atau memberi maaf demikian sulitnya, di hari lebaran memberi dan meminta maaf begitu mudahnya. Maka, Hari yang selalu Raya adalah hari-hari dimana jiwa senantiasa berselimutkan maaf. Wallahu’alam.
